| Rabu, 15 Agustus 2007 | EKONOMI |
Sekilas EkonomiMerugikan, Penurunan Target Produksi MinyakJAKARTA-Ketua Panitia Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Emir Moeis menilai, penurunan target produksi minyak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2007 menjadi 1 juta barel merugikan. Alasannya, harga minyak dunia saat ini sedang tinggi. Hal itu diungkapkan Emir dalam seminar Fiscal Policy and Energy Pricing di Jakarta, kemarin. Seharusnya, pemerintah dapat meningkatkan lifting minyak bumi agar dapat memenuhi target yang ditentukan dalam asumsi anggaran. Pasalnya, dari hasil evaluasi atas realisasi lifting minyak bumi, menunjukkan target itu masih tidak terpenuhi. Dengan kata lain, masih di bawah 1 juta barel. Artinya, momentum kenaikan harga minyak dunia pada kisaran 70 dolar AS per barel jadi terbuang akibat rendahnya kinerja Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral yang tidak mampu memastikan target lifting minyak terpenuhi. ''Lifting jangan turun, harus balik ke 1,250 juta barel. Kalau terus menurun, akan memengaruhi anggaran,'' paparnya. APBN 2006 menunjukkan pajak penghasilan (PPh) dari sektor minyak dan gas (migas) hanya sebesar 1,2 persen dari produk domestik bruto (PDB). Sedangkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) migas 5,1 persen dari PDB dengan komposisi 3,9 persen dari minyak dan 1,2 persen dari gas. (bn-33) |