| Selasa, 14 Agustus 2007 | WACANA |
Surat PembacaIndonesia Hijau 2007Judul tersebut sebagai program yang dicanangkan pemerintah dan dimasyarakatkan lewat spanduk yang terpampang di setiap kecamatan. Program ini barangkali untuk menutup raport merah pemerintah di bidang lingkungan hidup. Secara kasat mata kerusakan di bidang lingkungan hidup sangat mencolok. Yang paling gencar dari Eropa. Eropa memberlakukan larangan mengimpor mebel dari Indonesia yang berbahan dasar kayu hutan tropis. Sebagai warga negara, saya menyambut positif program Indonesia Hijau 2007 dan harus didukung karena di kawasan pedesaan saat ini sudah jarang kita menemui rimbunan pepohonan. Lokasi yang dulu menjadi kawasan hutan lindung telah beralih fungsi menjadi lahan pertanian dan pemukiman. Di lapangan, program Indonesia Hijau 2007 kelihatannya sulit terwujud. Dugaan ini diperkuat dari pengalaman saya antara lain telah terjadi penebangan pohon peneduh di depan SMPN 2 Ampel. Pada saat yang sama di gedung BP LKMD Kecamatan Ampel dilangsungkan pelatihan Jaringan Informasi Pengelolaan Sumber Daya Alam yang dihadiri dinas terkait seperti Kehutanan, Dinas Amdal/Bappedal Boyolali. Apalagi di sekitar penebangan ini terdapat kantor DPU Kecamatan Ampel, SMPN 1, SMP dan SMA Islam Sudriman. Kejadian ini memberi pelajaran negatif terhadap para siswa, bahwa yang namanya program hanya slogan belaka. Padahal pohon peneduh ini memberikan rasa nyaman terhadap para siswa dan masyarakat sekitar. Tentunya para penebang bukan warga biasa saja, tetapi juga oknum berseragam dinas. Masih terjadinya pembalakan hutan tropis yang para pelakunya sulit diatasi oleh hukum positif yang berlaku. Perusakan alam yang dilakukan oleh perusahaan raksasa multinasional yang mengeksplorasi kekayaan alam kita secara semena-mena tanpa memedulikan kesejahteraan masyarakat sekitar. Dari usaha eksplorasi hanya mendatangkan duka dan penderitaan seperti yang dialami masyarakat sekitar Freeport di Papua, sekitar PT Newmont Minahasa Sulawesi Utara serta masyarakat sekitar PT Lapindo Brantas di Porong, Sidoarjo. Tulisan ini saya persembahkan kepada para pemimpin nasional dan masyarakat yang secara suka cita menyongsong HUT ke-62 Republik Indonesia. Juga mengapresiasi para pendiri Republik ini dengan obesi terwujudnya Indonesia Raya yang berdaulat, adil, makmur sejahtera dan bermartabat dalam tata pergaulan internasional. Ignatius Sujoko Gladagsari I Ampel, Boyolali Bang Thoyib Bang Thoyib adalah salah satu judul lagu dangdut, berkisah tentang orang yang meninggalkan anak dan istri selama 2 tahun (tiga kali puasa dan tiga kali lebaran) bahkan sepucuk surat pun tak datang. Terhadap hal ini istrinya berdoa: "Kalau di jalan yang benar selamatkanlah dia, sedang kalau di jalan yang salah sadarkanlah dia". Menurut saya, para guru yang mendapat musibah dikenai sanksi karena tidak mau menuruti perintah atasan yang nakal (''air mata''guru), adalah di jalan yang benar (tidak mau berbuat curang). Karenanya kita berkewajiban melindungi. Secara normatif yaitu apa yang seharusnya dan diharapkan dalam pasal 39 A telah diatur tentang perlindungan guru meliputi perlindungan hukum, profesi, keselamatan dan kesehatan kerja. Bahkan dalam Pasal 14 diatur pula perlindungan tentang hak atas kekayaan intelektual. Sayangnya ketentuan tersebut belum dapat dilaksanakan karena belum ada tata cara atau lembaga yang mengatur pelaksanaannya. Sehingga kalau Bang Thoyib ada lagunya tetapi tidak ada orangnya maka kasus "air mata" guru ada orangnya tetapi tidak ada lagunya. Walau demikian terhadap kasus tersebut dapat diselesaikan dalam dua tahapan, yaitu nonlitigasi yang meliputi konsultasi dan klarifikasi dengan semua pihak terkait, advokasi atau pendampingan pada guru yang menjadi korban serta mediasi dengan cara melaporkan kejadian tersebut kepada Disnaker terutama bagi para guru swasta untuk mendapatkan penyelesaian. Kalau penyelesaian nonlitigasi tidak berhasil, baru ditempuh cara litigasi yaitu proses peradilan Tata Usaha Negara, perdata bahkan mungkin pidana. Mafia pendidikan dalam kasus ini merupakan ekses dari pelaksanaan ujian nasional, di mana ada sekelompok orang yang mengubah paradigma dari ujian nasional sebagai sarana mencapai tujuan pendidikan nasional menjadi ujian nasional sebagai tujuan. Inilah yang merupakan sumber atau mata air dari peristiwa "air mata" guru. Kalau itu dilakukan secara meluas dan sistematis serta terstruktur maka terjadi apa yang saya sebut sebagai mafia pendidikan. Yaitu konspirasi ujian nasional antara pembuat soal, pengawas dan penentu kelulusan untuk bersama "mengatur" agar nilai kelulusannya tinggi. Saya bersyukur karena masih ada guru yang berani melawan sehingga mestinya tidak diberikan sanksi berupa pemecatan melainkan penghargaan. Mungkinkah ? Taruna SH (Ketua LKBH PGRI) Jl Meranti Raya 291, Semarang Nagabumi Lupa ? Terbitnya Suara Merdeka setiap pagi selalu saya nanti karena saya penggemar cerita bersambung Nagabumi karya Seno Gumira Ajidarma. Kali pertama ketika membuka harian ini, yang saya cari adalah cersam tersebut. Karya ini saya nilai sangat bagus karena dalam rangkaian cerita ada catatan kakinya, seperti ilmiah banget sebagai pendukung kata-kata yang dipakai. Bagi saya hal itu akan membantu pembaca jika tertarik dengan data yang ada bisa terbantu dengan melacaknya lewat catatan kaki. Di samping itu ada data tentang perkembangan agama, hukum dan ajaran agama di Indonesia sehingga membuat kita memiliki pengetahuan baru dan luas. Kegemaran saya dengan cerita bersambung ini bermula saat masih di SMUN 1 Demak. Antara lain cerita Pendekar Gurun Gobi (kalau tidak salah ingat). Wah... sebelum berangkat sekolah pasti menyempatkan diri membacanya sebab jika tidak, hidup ini terasa hambar kayak sayur tanpa garam. Selama 3 tahun saya selalu setia dengan cerita bersambung dari harian ini. Tetapi disayangkan Nagabumi mengalami pengulangan cerita yaitu pada hari Minggu 29 Juli 2007 dan Senin 30 Juli 2007 (bukti terlampir). Saya kecewa karena diusik dengan rasa penasaran selama 2 x 24 jam dan harus bersabar untuk tahu cerita selanjutnya. Hal itu saya lakukan dan memang hari Selasa 31 Juli 2007 cerita sudah berjalan lagi. Saya berterima kasih karena cerita sudah berlanjut. Harapan, kesalahan ini tidak terulang dan kalau bisa dimuat setengah halaman biar puas. Kiranya ini bisa menjadi masukan untuk Suara Merdeka agar selalu tetap berada di hati orang Jawa Tengah. Andian HY Jl Ronggowarsito RT 3/RW 3, Semarang - Maaf, terjadi kedobelan cerita karena kesalahan teknis-Red *** Memotivasi Anak Segala sumber kebobrokan disebabkan karena orang tidak punya iman kuat dan "bersih". Untuk mencapai tingkatan itu pendidikan agama harus diberikan secara benar dengan memberi contoh yang baik (keteladanan). Di satu sisi ortu harus dan wajib membimbing sejak dini kepada anak-anaknya dengan sikap maupun perilaku yang baik dan benar pula. Contoh yang bersifat "matre" (duniawi) hendaknya dijauhi. Peluang untuk menularkan keteladanan harus ada pada setiap benak orang tua maupun guru. Hilangkan sikap dan perilaku "instan" yang akan membuat prestasi anak tidak langgeng. Tanamkan budi pekerti kepada anak dengan baik dan benar serta hilangkan sifat KKN, budaya jelek lainnya. Dorong anak dengan memotivasi sikap kejujuran pribadi maupun sifat kebaikan lain. Era yang kian canggih, dan serba digital ini kemampuan memotivasi anak dengan sikap maupun perilaku yang baik dan benar harus jadi tujuan utama dari guru/orang tua. Anak bukan tempat "uji coba" dan tidak digunakan untuk eksperimen mutu pendidikan. Ayo garap SDM kita dengan benar, bersih, canggih, unggul serta punya kopetensi global dan anti-KKN. Wisnu Widjaja Jl Sindoro I/16 Panggung, Tegal *** Untuk MA Mualimin Saya ucapkan salut kepada pimpinan dan staf MA Mualimin Temanggung yang di era gencarnya orang berlomba mencari keuntungan diri sendiri, tetapi lembaga pendidikan ini malah peduli dengan kesulitan orang lain yang membutuhkan bantuan. Mereka menerima siswa bernilai UN bagus dari keluarga miskin yang tidak dapat melanjutkan sekolah tanpa dipungut biaya sepeser pun. Juga tidak membayar SPP, tidak ditarik uang prasarana, diberi seragam sekolah serta buku dan keperluan lainnya. Semoga langkah mulia itu segera ditiru daerah lain sehingga tidak banyak lagi anak pintar yang telantar dan MA Mualimin Temanggung makin jaya. Muljono Nganguk Walikramat RT 5/RW 3, Kudus *** Air Tajin Jauh hari sebelum harga susu bubuk formula merangkak naik, seorang teman secara tidak sengaja telah mengantisipasinya dengan air tajin. Ya, air pisusan beras saat menanak nasi kini telah menjadi alternatif pengganti susu bubuk sapi bagi anaknya. Sampai saat ini tidak ada pengaruh dalam perkembangan fisik anaknya, malah cenderung tahan banting. Bahkan perkembangan kecerdasan otaknya lebih baik dibanding masa balita kakak-kakaknya yang rutin mendapat asupan susu bubuk formula. Padahal kakak-kakaknya dapat rangking di sekolah. Menurut cerita nenek, dulu anak-anak balita sudah biasa mengonsumsi air tajin sebab saat itu susu bubuk sapi masih menjadi barang langka. Hanya anak-anak londo saja serta anak priyayi yang bisa minum susu bubuk sapi yang dikirim dari negeri Kinci Anginlondo sana. Meski begitu, pertumbuhan anak pribumi dengan anak londo tidak jauh berbeda. Bahkan sering anak pribumi menang skak dan gerobak sodor saat melawan anak bule. Maka bagi ibu yang kober memberi ASI pada balitanya, mungkin bisa memanfaatkan air tajin sebagai alternatif (minimal sebagai selingan) asupan gizi anak balita. Lumayan, bisa sedikit mengerem budget susu. Sayang, kliping saya tentang tinjauan medis manfaat air tajin ketlingsut. Bila ada pembaca yang punya literatur medis tentang daya guna air tajin khususnya terhadap balita, kiranya bisa ditularkan pada masyarakat. Itung-itung ikut berperan mencerdaskan kehidupan masyarakat dengan upaya maksimalisasi swasembada mandiri tanpa ketergantungan terhadap pola konsumerisme produk pabrikan. Noor Rofiq Jl Wamena V/228-229, Ungaran *** Menyimak Masa Kelabu Dunia Islam Masa kelabu dunia Islam adalah pada saat penjajahan yang berakibat mereka bisa memainkan peranannya. Kolonialisme barat mulai menancapkan kukunya di negeri Islam dan dengan leluasa menebarkan permusuhan di kalangan kaum muslimin serta berusaha memanaskan sikap antipati terhadap ajarannya. Mereka katakan peradaban Islam sudah tidak layak lagi dipertahankan akibat dimakan zaman. Dalam dunia pendidikan, kaum penjajah menerapkan sistem barat yang dalam banyak hal bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Lebih dari itu, mereka selalu memprogandakan bahwa barat adalah kiblat dunia, lambang kemajuan dan sumber ilmu dan peradaban. Sementara Islam dikatakannya sebagai lambang kemunduran, kebodohan dan keterbelakangan. Isu dan fitnah semacam itu sampai saat ini masih terasa dampaknya. Bahkan masih ada generasi muda yang merasa bangga dengan mengikuti sistem pendidikan barat yang materialistik dan dinilai lebih menjanjikan masa depannya. Padahal secara langsung atau tidak, sistem pendidikan barat akan menjauhkan mereka dari nilai, sejarah dan peradaban Islam. Mereka tidak jarang justru membuat antipati. Pandangan mereka tertipu oleh fatamorgana kecermelangan budaya barat yang serba materialistik. Mereka memakai wali wasab (seketurunan darah) dan wali yakin itu harus laki-laki. tidak boleh perempuan. Kalau walinya perempuan, maka nikah batal alias tidak sah. Suatu saat seorang sahabat bertanya kepada Nabi, bilakah datangnya kiamat ?. Nabi menjawab, bila urusan (kepemimipinan) telah diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya maka tungggulah kiamat bentuk kehancurannya (hadist, riwayat, imam bukhari ). Mari simak nasihat Khalifah Umar bin Khatab yang terkenal, terutama bagi yang berambisi jadi pemimpin: " Tafaqqahu qabla an tusawaduu" (perdalamlah agama lebih dulu sebelum kamu tampil jadi pemimpin). Ya agar mereka jangan sampai menyesatkan orang banyak yang berakibat dituding di akhirat, di neraka seperti dilukiskan Allah dalam Alquran : Rabbana Waulaai adhallumaa" (wahai Tuhan kami, mereka itulah semua orang yang menyesatkan kami!) Al-Araf ;38) Ya dosa kita telah terlalu besar dan kabinet kolektif. Renungkanlah... Amar Makruf Purwogondo, Kaliyamat, Jepara *** Semangat Bambu Runcing Pejuang dulu identik dengan bambu runcing. Mereka mematahkan penjajah dengan rebung tua yang sudah diruncingkan. Menurut guru saya dulu, penjajah yang tertangkap minta ditembak saja dibanding dengan "dielus-elus" dengan bambu runcing. Ketika Indonesia sudah merdeka, generasi berikutnya menyemangati dengan bambu penjor yakni bambu melengkung untuk ditempel lampu hias pada HUT RI setiap tahun. Juga tiang bendera yang terbuat dari bambu. Ketika lek-lekan pun ada yang berpesta dengan sate yang bahan tusuknya terbuat dari bambu. Setidaknya semangat pejuang dengan serba bambu masih melekat sampai saat ini. Tak terasa selama ini perayaan tujuhbelasan kita peringati dengan gegap gempita. Mengecat gapura, membeli umbul-umbul, lampu hias, mengadakan panggung hiburan dan memberikan berbagai hadiah dalam lomba. Semangat kebangsaan mengalahkan pengeluarkan finansial yang cukup besar. Lalu apa yang terjadi setelah perayaan telah usai. Kita jadi diri sendiri. Seolah lupa baru saja tersulut semangat persatuan. Yang jadi pelayan masyarakat minta imbalan lebih. Pelanggar lalulintas mengajak damai. Di jembatan timbang-dipertimbangkan dan sebagainya. Semangat bambu runcing pejuang dulu semestinya jadi acuan untuk memerdekakan yang katanya belum merdeka Tinggalkan semangat "semau gue" yang akibat kebanyakan makan rebung. Agus Eko Santosa SE Pondok R Patah Blok K1 /21, Demak *** Kecewa Motorola Saya pengguna ponsel Motorola model L6 yang layarnya belum lama ini mati. Ponsel saya membawanya ke pusat layanannya di Jl DI Panjaitan 217 Purwokerto karena masih masa garansi (nota terlampir). Pada waktu satu bulan pertama, saya selalu menanyakan kondisi ponsel itu. Sampai akhirnya mendapat jawaban mengejutkan, ponsel dikirim ke Singapura. Mereka memang memberitahu bila teknisinya tidak sanggup maka akan dikirim ke Jogja. Tapi mereka tidak menyebutkan kapan dikirim ke Singapura. Dalam hati saya bertanya apakah kerusakannya begitu parah atau tidak ada teknisi yang andal sampai harus dikirim ke Singapura?. Kalau memang parah, seharusnya perusahaan besar ini bisa mengantisipasi. Kelemahan yang ada di produknya diantisipasi dengan pelatihan teknisi di setiap pusat layanannya. Atau memang perusahaan masih memandang Indonesia sebagai pasar yang belum begitu penting. Seharusnya mereka menyadari persaingan yang cukup ketat dalam industri komunikasi, dengan memberi pelayanan terbaik bagi para pelanggannya. Dari awal sampai sekarang saya terus mencoba mengkonfirmasi untuk mengetahui kepastian kapan kembalinya ponsel saya. Tapi sampai sekarang tidak juga mendapatkan kepastian, Mereka hanya memberi jawaban sama yaitu akan menghubungi jika sudah selesai. Apakah mereka tidak memikirkan kerugian yang dialami para penggunanya akibat layanan yang lama dan membingungkan?. Saya mengharap tindak lanjutnya. Terus terang saya kecewa atas layanan yang terlalu lama dan semoga hal ini bisa menjadi pelajaran bagi semua pihak. Ridho Bahtiar A |