| Selasa, 14 Agustus 2007 | WACANA |
Garda Depan bagi Generasi Muda
PADA 14 Agustus 1961 Pejabat Presiden RI, PM Ir Juanda mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) 238 tentang Penetapan Pramuka (Praja Muda Karana) sebagai satu-satunya wadah kepanduan nasional, dan mengangkat Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai ketuanya. Hingga kini, tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari Pramuka di Indonesia. Meski pada saat itu pramuka ditetapkan sebagai pandu nasional yang tunggal, gerakan pramuka sebenarnya telah ada di Indonesia sejak 1912 sebagai bagian dari pemerintah kolonial Belanda. Pandu pertama telah ada pada 1916, dengan nama Javaanse Padvinders Organisatie (JPO); berdiri atas prakarsa Sri Paduka Mangkunegara VII. Visi dasar pramuka sejak awal didirikan oleh Baden Powel, berada pada wilayah pendidikan nonformal, sehingga berada pada ruang keterbukaan dalam melakukan penguatan, perubahan, dan kreativitas untuk kemajuan bagi anggotanya. Itu berbeda dari pendidikan formal-informal yang dipenuhi dengan birokrasi, prosedur, dan kekakuan-kekauan. Pramuka memilik gerak yang lebih lincah dalam berinteraksi dengan perkembangan dunia luar yang demikian dinamis dan terus melesat cepat. Apalagi dalam AD/ART Gerakan Pramuka tegas diamanatkan bahwa pramuka bertujuan membina mental-spiritual generasi muda. Peran pramuka dapat diharapkan lebih besar, karena problem mental-spiritual itulah yang saat ini menjadi penyakit krusial bangsa ini, termasuk pada generasi mudanya. Terlebih, hingga hari ini pramuka bisa dikatakan sebagai satu-satunya organisasi kepemudaan di negeri ini yang paling steril dari hiruk-pikuk kepentingan ekonomi-politik yang "berwatak setan". Hampir tidak pernah ada kekisruhan di dalam pramuka, seperti yang sering menimpa organisasi-organisasi lainnya. Pramuka benar-benar bercitra bening, serta suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Keunggulan itulah, yang menyebabkan pramuka dapat dengan tanpa hambatan masuk ke segala jenis dan jenjang pendidikan dari tingkat terendah hingga perguruan tinggi, bahkan di tengah-tengah masyarakat. Olah Aspek Dengan keunggulan legitimasi yang sedemikian sempurna, selayaknya para aktivis dan pelopor gerakan pramuka senantiasa mengolah aspek-aspek pedagogis, andragogis, dan psikologis, dalam mewujudkan watak luhur generasi muda bangsa, dan mandiri dengan segala bekal keterampilan praktis (life skill) yang selama ini masih mendominasi dalam pramuka. Itu bukan pekerjaan mudah di tengah krisis bangsa yang berat sekarang ini, di tengah mental generasi muda yang gandrung keinstanan dan alergi terhadap proses perjalanan. Di pihak lain, pendidikan formal hanya mampu meng-cover aspek sedikit dari ranah kognitif; sementara itu afeksi dan psikomotorik menjadi barang langka. Kondisi itu "disempurnakan" oleh generasi tua (para orang tua) yang bernafsu hanya demi melihat nilai rapor dan ijazah anak-anaknya, namun melupakan yang esensial tentang pendidikan dan keterdidikan. Menyerahkan tanggung jawab itu hanya kepada pramuka tidaklah adil dan terlalu ngayawara. Tetapi, Pramuka dengan Tri Satya dan Dasa Dharma-nya memungkinkan berada di garda depan dalam merantasi krisis tersebut. Hal itu didukung pula oleh sifat dari gerakan pramuka itu sendiri, yang memiliki jaringan organisasional secara nasional, internasional, dan universal, sebagaiamana amanat konferensi sedunia Gerakan Pramuka di Kopenhagen, Agustus 1924. Watak dan Nilai Agenda utama pramuka sesungguhnya adalah upaya dalam merekayasa pembentukan watak (attitude) dan nilai (value). Karena dua hal itu merupakan inti dari gerakan pramuka yang harus terus diteguhkan dan ditegakkan. Gerakan pramuka selayaknya mampu melakukan klarifikasi terhadap berbagai penyimpangan yang ada selama ini secara terbuka, baik berkait dengan nilai etika, moral, religius, maupun akademik. Itulah, inti dari Tri Satya dan Dasa Dharma yang elok tersebut, seperti tolong-menolong, musyawarah, rajin, hemat, disiplin, kerelaan, dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, penting dilakukan gerakan secara masif agar pramuka dapat masuk dalam berbagai sektor kehidupan di masyarakat bahkan seluruh birokrasi pemerintahan, sehingga Tri Satya dan Dasa Dharma dapat mbalung-sungsum (mendarah daging) dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan seluruh anak negeri. Dari kondisi itu diharapkan, krisis dan berbagai penyimpangan dapat dipangkas. Hanya saja, sekali lagi, gerakan itu tidak mudah dilakukan, karena kita semua harus mau jujur bahwa dalam tubuh internal sendiri masih ada berbagai kendala yang tidak bisa dianggap ringan. Pertama, bagaimana para aktivis pramuka dapat menerjemahkan cita-cita Tri Satya dan Dasa Dharma dalam aktivitas konkret yang menarik bagi para anggotanya. Kedua, bagaimana kegiatan-kegitaan tersebut dapat dipahami dan dikuasai oleh para pembinanya. Pramuka dengan anggota saat ini lebih dari 30 juta orang, mulai dari tingkat dasar hingga masyarakat umum, nampak sekali kedodoran dalam melakukan pemberdayaan. Selama ini, yang terjadi adalah lebih kepada aspek seremonial, kemiliter-militeran, dan (kesan umum) hanya mendompleng pada lembaga pendidikan formal. Padahal, pramuka bukanlah kegiatan wajib bagi seluruh siswa di pendidikan formal; tapi yang terjadi terjadi sekarang adalah pramuka seakan menjadi barang wajib di sekolah. Lebih krusial lagi adalah, sering terjadi lompatan-lompatan fase siaga (8-12), penggalang (12-15), penegak (15-18), dan pandega (18- ke atas atau perguruan tinggi). Tidak sedikit, ketika seseorang tidak aktif pada fase di bawahnya, dan tentu saja tidak menguasai aspek pokok yang mestinya dikuasai pada jenjang fase tersebut, ketika memasuki perguruan tinggi langsung berada di puncak jenjang pandega. Itu terjadi semata-mata karena faktor umum lebih mendominasi dibandingkan dengan aspek kemampuan-kemampuan tertentu yang mesti dikuasai oleh seorang anggota. Akibat lanjutan dari situasi itu adalah tidak mudahnya mendapatakan pembina pramuka yang mumpuni, memiliki kapasitas unggul-paripurna, dan bermotivasi tinggi mengembangkan pramuka, yang dalam bahasa manajemen disebut well trained and well motivation. Amanat Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada Kongres Ke-17 Gerakan Pramuka di Jepang (1971) sangat luhur. Yakni, dalam mewujudkan hal tersebut dibuthkan kesiapan internal gerakan pramuka yang paripurna. Anggota pramuka bukan hanya dididik menjadi warga negara yang baik, melainkan juga menjadi manusia yang baik. Dalam rumusan pendidikan, pramuka bertujuan membentuk good man. Selamat ulang tahun, selamat berjuang pandu-pandu Indonesia!(68) - Nurul Huda SA MA, ketua Yayasan Tanah Air Yogyakarta.
|