logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 14 Agustus 2007 NASIONAL
Line

kuliner

Menikmati Aneka Masakan Luar Daerah (1)

Pedas Sedang, Citarasa Padang Blasteran Jawa


SM/Modesta Fiska GULAI KAKAP: Seorang pengunjung menikmati gulai kepala kakap di rumah makan Padang, kawasan Kusumawardani Semarang. (57)

Rumah makan cepat saji dengan citarasa Nusantara makin menjamur di kota-kota besar, termasuk Kota Semarang. Era serbainstan menjadikan budaya menyantap makanan pun bergeser. Berikut laporan wartawan Suara Merdeka Modesta Fiska dan Fani Ayudea.

''UDA, gulai kapalo cie' jo ayam goreng cie'. Minumnyo teh es. (Mas, gulai kepala satu, ayam goreng satu. Minumnya es teh),'' ujar Agung, salah satu pembeli di sebuah rumah makan Padang di Jalan Kusumawardani Pleburan Semarang.

''O yo,'' kata si penjual yang dengan cekatan mengambil pesanan yang dimaksud.

Mengintip sajian di lemari etalase, terlihat balutan bumbu rendang yang tebal, minyak berwarna oranye kemerahan membuat tampilan makanan dalam sejumlah baskom begitu menarik.

Namun daging berbumbu yang kelihatannya nikmat itu tak mampu mengubah niatan lelaki tersebut untuk memilih menu kepala kakap.

Untung saja gulai kepala kakap masih tersedia, jika terlambat sebentar saja setelah makan siang, pengunjung pasti akan kecele.

Bagi Agung, kenikmatan menyantap masakan Padang bisa mengobati kerinduannya terhadap kampung halaman yang sudah 7 tahun ditinggalkannya.

Dominasi Padang

Perkembangan kuliner di Semarang, menurut dia, memang luar biasa. Kini orang tak lagi pilih-pilih jenis makanan sesuai ''resep ibu'' yang biasa disantapnya di rumah.

Dari mana asal makanan itu tak jadi soal. Yang penting cocok di lidah dan pas di kantong.

Maka, aneka masakan dari berbagai daerah di Nusantara dan manca negara pun dengan mudah diterima masyarakat kota.

Tak hanya masakan Padang saja. Aneka masakan Sunda seperti ikan bakar dan pepes ikan mas, nasi uduk Jakarta, soto Betawi, ayam Taliwang dari Lombok, dan bakmi Aceh.

Belum lagi aneka masakan dari mancanegara seperti Jepang, Korea, Eropa dan Malaysia juga menjamur.

Namun dari sekian restoran dan warung yang menyajikan masakan luar daerah, rupanya rumah makan Padang mendominasi. Bagi penggemar kuliner masakan Padang di Semarang, tentu kenal dengan nama rumah makan seperti RM Andalas, RM Minang dan RM Padang.

Ketiga rumah makan Padang itu adalah generasi pertama di Semarang. Meski mereka sudah tak lagi eksis, namun generasi penerusnya masih bisa kita temui.

Sebut saja Densiko, Padang Jaya, dan Simpang Raya. Densiko yang sudah ada sejak 70-an, dikenal sebagai rumah makan asli ranah Minang.

Ny Tafsir, pengelola Densiko mengatakan, banyak rumah makan Padang yang mengaku asli. Namun asli atau tidak, nampak dari citarasa masakannya.

''Ada banyak ciri khas yang bisa dirasakan. Salah satunya adalah bumbunya yang khas," jelasnya.

Selain cara memajang dan menyusun hidangan, sajian masakan Padang identik dengan bumbunya yang ''berani'', superpedas dan tentunya tak lupa santan kental yang membuat menu Padang semakin nikmat.

Di samping nasi, lembaran daun singkong juga seakan tak sabar untuk dicocolkan pada sambal ''lado hijau'' yang menggugah selera.

Blasteran Jawa

Menjamurnya ''warteg'' Padang juga terlihat di deretan Jl Kusumawardani. Dikepung kawasan perkantoran dan kampus, Ernawati (42) dan suaminya Nasrun (42), merupakan salah satu warga Padang Pariaman yang juga membuka warung Pojok Salero.

''Dulu belum banyak saingan, tapi sekarang meski banyak pesaing, gulai kepala kakap masih jadi andalan yang banyak dicari orang. '' kata Erna.

Selain itu, sambal menjadi satu pelengkap yang tidak boleh terlewat. ''Dulu saya buat sambal sangat pedas, tapi sekarang cabai yang digunakan tidak berlebihan. Takaran pedasnya pun pas untuk orang Jawa,'' tutur dia.

Salah satu pembeli, Sulis (23), mahasiswa Ekonomi Undip mengaku sudah mencoba hampir semua warung Padang di Semarang.

''Banyak warung Padang tapi hanya padhang-padhangan, masakannya beda banget, malahan banyak unsur Jawanya yang cenderung manis alias sudah blasteran Padang-Jawa,'' kata dia sambil menyantap kepala kakap pesanannya.

Kepala ikan, rendang, gulai nangka, gajeboh (koyor), gulai tunjang (kikil), berbagai menu ayam, kentang udang, gulai otak, gulai ikan, dan ketupat gulai paku biasanya paling sering dijumpai.

Untuk yang terakhir disebut ini memang agak susah dicari, karena paku atau pakis jarang dijual di pasaran. Kalaupun ada di swalayan, harganya cukup mahal.

Tapi kira-kira apa hanya restoran Padang milik orang Padang saja yang benar-benar ramai pembeli? Hmm, rasa-rasanya tidak.

Liat warung Padang Talago milik Suharto (32) ini. Lelaki yang dikenal dengan nama Klowor ini orang Jawa asli. Tujuh tahun bekerja sebagai juru masak di restoran Padang, akhirnya menguatkan niatnya untuk membuka warung sendiri.

Kini selain warung Padang di Alun-alun Timur Kauman, Klowor memiliki 3 cabang. Sejak buka dari pagi hingga sore, pengunjungnya hilir mudik memenuhi ''warteg'' Padangnya.

Citarasa Padang yang didominasi bumbu dan rempah tetap jadi andalan. ''Standar lidah Semarang, nggak terlalu pedas dan nggak terlalu asin. Pokoknya pas,'' ungkapnya.

Tiga karyawannya yang dulu bekerja dengan dia, bahkan kini membuka warung sendiri. Jika dihitung-hitung, menurut Klowor setidaknya ada 60-an warung Padang kelas kaki lima seperti miliknya di Semarang.

Meski persaingan semakin ketat, namun dia mengaku tak khawatir karena setiap warung sudah memiliki pelanggan.

Harga yang bersaing dan terjangkau, bisa dijadikan pertimbangan konsumen. ''Tinggal pilih, ada rendang, koyor, usus, ikan, ayam. Harga yang dipatok mulai Rp 5.000 tergantung menunya,'' katanya.

Tidak bisa dipungkiri, menjamurnya restoran Padang di wilayah Semarang membuktikan pameo, ''Siapa pun presidennya, rumah makan Padang makanannya.''(77)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA