| Selasa, 14 Agustus 2007 | MURIA |
Wayang Suluh, Penerangan yang MemudarGAMELAN thuk brul (kependekan dari kata gathuk gabrul, terdiri atas bonang, demung, saron, gender, gambang, gong dan kendang) mulai bertalu. Kemudian dalang Ki Anom Subekti mulai bertutur, "Alkisah setelah Diponegoro ditangkap Belanda di Magelang, Kyai Kuti bersama laskarnya berjalan ke utara. Di sebuah pedukuhan di Desa/Kecamatan Gunem, pecahan Laskar Diponegoro itu kemudian menyusun kekuatan untuk mengempur pertahanan Belanda di Pondok Londo (sekarang Desa Pondok Rejo, Kecamatan Bulu-Red)." Sembari bertutur, tangan dalang kelahiran Rembang 28 September 1957 itu dengan gesit memainkan karakter wayang berbentuk manusia biasa - petani, pejuang, kyai dan tentara Belanda - dalam kelir berukuran 3X4 meter. "Dengan siasat perang gerilya yang diterapkannya, Laskar Kuti berhasil menghancurkan barikade pasukan Belanda di Pondok Londo. Kekuatan Laskar Kuti kian membesar setelah Laskar Ngantoko yang bermarkas di bukit Ngantoko Kecamatan Bulu bergabung." Pada saat pertempuran antara Laskar Kuti- Ngantoko dan Belanda terjadi, suara gamelan menjadi riuh ditabuh para niyaga. Penonton yang sebagian besar anak sekolah dasar selama satu jam terkesima dan larut menyaksikan polah tingkah tokoh-tokoh yang dimainkan Ki Anom Subekti. Darmoko dalam Wayang dan Negara mengatakan wayang oleh kekuasaan dipandang sebagai salah satu hasil budaya yang sangat berpengaruh pada masyarakat. Satu Tersisa Wayang oleh peneliti dari Universitas Indonesia itu juga dianggap memiliki kekuatan yang bisa menyampaikan dan menanamkan hal-hal yang terkait dengan kepentingan ideologi-politik pada masyarakat. Tak urung, mengingat strategisnya wayang bagi kehidupan masyarakat, pada Kongres Pemuda di Madiun tahun 1947 semua peserta sepakat memanfaatkan media wayang untuk menyampaikan pesan-pesan revolusi dan kemerdekaan kepada warga khususnya di daerah pedesaan. Kesepakatan Kongres Pemuda itu melahirkan wayang dua dimensi yang diberi nama wayang suluh (penerang), seperti dimainkan Ki Anom Subekti kemarin di SD Al Furqon Kecamatan Kota Rembang. Wayang suluh biasanya mengambil cerita-cerita perjuangan kemerdekaan, cerita rakyat hingga rumah tangga. Dia menambahkan, di Jateng wayang suluh asli hanya tersisa di Rembang dan Wonosobo. Di Rembang, kata dia, kali pertama diperkenalkan Ki Salamu dan Ki Taryono Redi Joyo, yang meninggal beberapa tahun lalu. "Sebelum meninggal saya sempat berguru kepada beliau berdua, sehingga sampai saat ini di Rembang keberadaan wayang suluh tetap terjaga." (Mulyanto Ari Wibowo-19) |