| Selasa, 14 Agustus 2007 | KEDU & DIY |
Tambir Raksasa Meriahkan Peringatan Kemerdekaan RI
TAMBIR, sebagian orang menyebut tampah dalam bahasa Jawa merupakan alat dapur tradisional. Biasanya untuk menampi beras atau meletakkan makanan seperti kerupuk basah untuk dijemur. Bisa juga sebagai tempat jajanan pasar bagi pedagang di kampung-kampung. Bagi masyarakat Karangtalun, Wukirsari, Imogiri, Bantul tambir bukan sekadar tempat menampi beras atau makanan namun merupakan mata pencaharian. Ya, karena di sanalah desa penghasil barang-barang rumah tangga dari bambu termasuk tambir itu salah satunya. Namun sejak bencana gempa melanda, kondisi perekonomian masyarakat setempat agak surut. Nah, untuk mengangkat kondisi tersebut kembali seperti semula, mereka membuat tambir raksasa. ''Sejak dahulu membuat tambir, tenggok, dan barang rumah tangga dari bambu memang menjadi pekerjaan masyarakat sini. Ada yang menjadikannya sumber ekonomi utama tapi ada pula yang hanya samben,'' tutur salah seorang pembuat tambir raksasa, Marjilan. Dia mengakui, keterampilan membuat kerajinan itu sudah cukup lama hidup di sana namun sayangnya belum begitu terkenal. Tambir raksasa ini sebagai ajang sosialisasi kepada masyarakat dan juga wisatawan, ada dusun penghasil kerajinan bambu yang siap menerima pesanan. Masyarakat setempat menyadari tanpa sosialisasi, dusun dan produknya tak bisa terangkat. Beruntung, mereka mendapat dukungan dari Pemkab Bantul. Bupati Idham Samawi bakal datang bersama putra Sultan HB X yakni GKR Pembayun untuk meresmikan simbol dusun penghasil kerajinan bambu berupa tambir raksasa. 100 Bambu Marjilan mengerjakan tambir tersebut bersama lima temannya, Sriyono, Wadimin, Surtijo, Siswadi, dan Sahadi. Berenam secara bergiliran siang dan malam mereka nglembur mulai dari memotong bambu, membuat iratan, menganyam, dan finishing. ''Harusnya sebelum 17 Agustus sudah selesai namun mundur karena menyesuaikan jadwal Pak Bupati agar bisa hadir melihat sekaligus meresmikan,'' jelasnya. Proses pembuatan sudah berlangsung hampir dua minggu dan dalam beberapa hari ini bakal rampung. Perlu 100 batang bambu apus untuk membuat tambir berdiameter 10 meter tersebut. Soal bahan baku, dia mengungkapkan, tak masalah karena di dusun Karangtalun banyak terdapat rumpun bambu. ''Bahan paling bagus ya pring apus ini, tua ataupun muda dapat dipakai dan ulet tidak mudah patah,'' tandasnya. Selama pembuatan, mereka tidak mengalami kendala. Hanya pada saat membuat iratan (bahan anyaman-Red) paling lama karena harus memecah dan mengirisnya dahulu agar halus. Setelah itu baru proses menganyam. Sepengetahuan Marjilan, tambir raksasa akan dimasukkan ke catatan Museum Rekor Indonesia (Muri) pada 25 Agustus nanti bersamaan dengan peresmiannya. Dia berharap, lambang tambir dapat mengangkat nama Karangtalun sebagai sentra kerajinan rumah tangga dari bambu. (70) |