| Selasa, 14 Agustus 2007 | BANYUMAS |
21.750 Ha Lahan Pertanian Diberokan
PURWOREJO - Memasuki musim tanam (MT) III yang dimulai bulan ini, sebagian besar lahan pertanian di Kabupaten Purworejo diberokan atau dibiarkan tanpa tanaman. Sebab persediaan air sangat terbatas dan tidak memungkinkan untuk menggarap lahan. Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Purworejo, Ir Heru Praktiknyo mengungkapkan, total luasan lahan pertanian di Kabupaten Purworejo mencapai 29.000 hektare. Dari jumlah tersebut, 75 persen atau 21.750 hektare diberokan. Sebagian besar dari sisanya atau 7.250 hektare, ditanami palawija. Penyebab lahan dibiarkan tanpa tanaman itu adalah budaya petani yang sudah mengakar dan sulit diubah. Petani di sejumlah wilayah kantong pertanian, antara lain Kecamatan Ngombol, Purwodadi, dan Banyuurip mengaku merasa cukup hanya dengan menggarap lahan sampai MT II. "Saat pertemuan dengan para petani seringkali petani menjawab, buat apa ditanami lagi kalau sampai MT II saja hasil sudah berlebih,"ujar dia. Dengan model memberokan lahan pada MT III seperti itu, indeks penanaman (IP) Purworejo tidak bisa dipacu maksimal. Itu berlangsung terus sepanjang tahun. Bisa Disiasati Berdasar penghitungan Dinas Pertanian dan Peternakan, dengan luas lahan 29.000 hektare, sebenarnya IP Purwoerejo bisa dipacu sampai 300%. Namun pencapaiannya rata-rata hanya 200% setiap tahun. Menurut dia, petani semestinya tidak perlu memberokan lahan. Meski persediaan air terbatas, mereka bisa menyiasati dengan pembuatan sumur pantek. Saat ini, petani bagian selatan kabupaten sudah mulai melakukannya. Bahkan telah ada 26 sumur pantek. Selain itu, untuk mengupayakan produktivitas lahan petani pada MT III bisa menanam palawija yang tidak membutuhkan air terlalu banyak. "Bisa jagung, kedelai atau kacang," katanya. Hasil tanaman palawija, sambung dia, juga tidak kalah dibanding dengan padi. Bahkan jauh lebih besar jika hasil panen memuaskan. "Daripada diberokan," tambahnya. Salah satu petani Desa Bapangsari, Kecamatan Krendetan, Kasman (46) menjelaskan, dia terpaksa memberokan lahan bukan karena hasil penanaman sampai MT II sudah memuaskan. ''Diberokan karena sulit air. Daripada tanaman mati, kami malah rugi. Apalagi lahan di sini hanya tadah hujan. Meskipun palawija, kalau air sangat minim, pasti akan mati," tandas dia. (H43-64) |