SUARA MERDEKA
 
INDEKS WACANA Senin, 13 Agustus 2007

Beberapa hari lalu kita menulis tentang perlunya segera diatur ketentuan tentang calon independen dalam pilkada setelah Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan dimungkinkannya calon nonparpol tersebut. Mengapa harus cepat-cepat karena kita melihat ada potensi konflik yang cukup besar kalau tak segera diatur kejelasannya. Di Cilacap sudah terjadi keributan demikian juga di beberapa daerah lain.

Inilah pesan Sardono W Kusumo, "Kita harus mempunyai kesadaran bahwa apa yang kita lakukan adalah pemuliaan harga diri manusia. Siapa pun dia, apakah dia pemulung, tukang obat, atau pekerja lain. Kita harus pandai-pandai belajar agar tidak selalu bersembunyi di balik kehebatan masa lampau, yang seolah-olah kita mewarisi juga kehebatannya. Kita sekarang hanya menikmati status (kehebatan) itu saja,

MENYIMAK perkembangan politik nasional dan lokal saat ini, isu tentang pemekaran wilayah nampaknya akan terus menjadi wacana politik yang tidak akan pernah pudar. Hal itu karena berkaitan dengan konsen utama masyarakat lokal yang menyangkut berbagai tekanan politik, seperti perasaan dan keinginan untuk mandiri.

JUDUL tulisan ini saya kutip dari working paper yang disajikan Indonesia Marketing Association (IMA) dalam acara "Prof Philip Kotlerís Public Institutional Dinner Night" di Jakarta, 7 Agustus lalu. Kebetulan saya datang di acara yang diisi presentasi pakar pemasaran dunia Philip Kotler dan dihadiri Wapres Jusuf Kala tersebut.

PADA saat menerima audiensi KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) beberapa waktu yang lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta Lembaga Independen Negara mengawasi siaran seluruh stasiun televisi yang tumbuh hanya didikte rating sehingga kualitas isi siaran tidak terkontrol, mengabaikan nilai dan berpotensi membodohi pemirsa. Isi siaran itu antara lain, kata presiden lebih lanjut adalah,

Di luar dugaan, ternyata tulisan saya "Untuk Para Penganggur" di Surat Pembaca 28 Juli 2007 mendapat banyak tanggapan dan simpati. Sejujurnya saya terharu sekaligus prihatin sebab menunjukkan selama ini nasib mereka benar-benar seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Tidak tahu harus bagaimana, karena apa pun alasannya mereka tidak tertampung dalam dunia kerja.

  Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA