| Senin, 13 Agustus 2007 | WACANA |
TAJUK RENCANAPesan Sardono: Muliakan Harga Diri ManusiaInilah pesan Sardono W Kusumo, "Kita harus mempunyai kesadaran bahwa apa yang kita lakukan adalah pemuliaan harga diri manusia. Siapa pun dia, apakah dia pemulung, tukang obat, atau pekerja lain. Kita harus pandai-pandai belajar agar tidak selalu bersembunyi di balik kehebatan masa lampau, yang seolah-olah kita mewarisi juga kehebatannya. Kita sekarang hanya menikmati status (kehebatan) itu saja, dan dilenakan oleh masa lalu. Kita harus memiliki critical mind". Pesan lain budayawan asal Solo itu, "Nasionalisme akan melekat dengan sendirinya jika peradaban kebudayaan juga terjaga". Wawancara panjangnya dengan harian ini, kemarin, membukakan pintu mengenai kesadaran berbangsa yang "seharusnya begitu", dan "seharusnya kita telah tahu". Tetapi apakah kita merasa pasti telah memahami, menghayati, dan mengaktualisasikan nilai-nilai dari tiga poin kunci itu -- pemuliaan harga diri manusia, sejarah kehebatan masa lalu, dan nasionalisme? Justru sekaranglah critical mind itu memuarakan sejumlah pertanyaan, ketika kehidupan berbangsa melenggang melewati tahun demi tahun sejak reformasi bergulir pada 1998. Jelas muncul kegelisahan. Juga kehendak untuk memberi arah! Menuju ke proses pendewasaan demokrasi jelas butuh "ongkos" mahal. Turbulensi seperti tak kunjung selesai ketika keran yang terbuka lebar serasa memberi sekat-sekat yang dicemaskan bisa melunturkan rasa kebangsaan. Masalahnya, seperti apa kecemasan tentang nasionalisme itu? Cukup beralasankah kecemasan tentang melunturnya rasa kebangsaan, kebanggaan keindonesiaan itu? Apakah indikasi-indikasinya memperlihatkan kecenderungan seperti itu? Sedemikian tidak terkendalikah dominasi kepentingan-kepentingan dalam berbagai pewacanaan atas nama demokrasi, dan kebebasan berekspresi? Hingga menjelang usia kemerdekaan yang ke-62, kita memang masih sibuk menata diri. Dalam hal apa saja, karena infrastruktur maupun suprastruktur dalam penyelenggaraan negara dan pemerintahan membutuhkan pemantapan dari berbagai segi. Sekali lagi harus disadari, betapa mahal "ongkos" untuk memantapkan demokrasi. Tetapi kecemasan tentang pelunturan nilai-nilai luhur semangat persatuan dan kesatuan juga harus dipahami dari konteks "menjaga", "mengawal", sehingga pada banyak momentum, di berbagai daerah, dan arah, kegiatan bertema merekatkan kembali spirit kebangsaan digelar oleh sejumlah elemen. Kesadaran berkebudayaan itulah yang secara tepat disampaikan oleh Sardono dengan "menjaga peradaban, agar nasionalisme terajut dengan sendirinya". Akal budi merupakan penopang pemuliaan harga diri manusia. Martabat menjadi perajut penting ketika sebagai bangsa berhadapan dengan peradaban bangsa-bangsa lain dalam interaksi global. Dalam bidang apa saja. Pesan ini relevan dengan pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam peringatan Isra Mikraj, Sabtu malam lalu, "Kita harus mampu berdiri tegak dan bertekad bulat untuk secepatnya menyejajarkan diri dengan bangsa-bangsa lain". Kemampuan berjajar dalam interaksi dan kompetisi global tidak selalu terukur dari norma ekonomi, tetapi juga bagaimana peradaban Indonesia ditegakkan dengan semangat pemuliaan harga diri manusia. Justru nilai-nilai itulah yang mesti diserap untuk menuju kesejahteraan secara sosial-ekonomi. Pranata sosial-politik, pada satu sisi, merupakan bagian dari "jalan". Misalnya, diskusi publik dalam soal calon independen pemilihan kepala daerah sekarang ini, harus dimaknai sebagai sebuah proses yang membutuhkan kanalisasi dan akomodasi yang tepat, lalu bagaimana merumuskannya menjadi sumber kemaslahatan bangsa. |