logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 13 Agustus 2007 INTERNASIONAL
Line

Iran Dituduh Tingkatkan Suplai Senjata ke Irak

  • Amerika Ubah Taktik terhadap Syiah

BAGDAD - Iran terus meningkatkan pasokan senjata untuk milisi Syiah di Irak. Tuduhan itu dilontarkan Komandan Tentara Amerika Serikat di Irak Letjen Raymond Odierno, Minggu kemarin.

Odierno juga menuduh Iran berniat memengaruhi perdebatan politik di Washington menjelang pemaparan laporan penting mengenai Irak di Kongres bulan depan. Dia mengatakan, militer AS mengubah taktik dan meningkatkan operasi terhadap bom-bom mobil dan sel-sel bom yang diduga berasal dari Iran.

"Karena mereka makin mendapat dukungan dari Iran, operasi kami fokuskan pada mereka. Selama tiga bulan terahir ini, kami menemukan peluncur roket merk baru, mortir dan peluncur mortir," kata dia.

Iran tetap membantah terlibat di Irak. Teheran berpendapat, konflik sektarian di Irak sebagai akibat invasi Amerika pada tahun 2003. Pejabat Iran dan AS bertemu pekan lalu untuk membahas pembentukan komite keamanan yang bertujuan meningkatkan kerja sama mengenai Irak.

"Mereka ingin kami meninggalkan Irak. Mereka tahu yang sedang terjadi dalam politik di Amerika Serikat. Untuk jangka panjang, mereka ingin mengalihkan perhatian dari isu nukir," kata Odierno.

Presiden George W Bush telah mengirimkan tentara tambahan sebanyak 30.000 sejak Februari lalu. Panglima AS di Irak Jenderal David Petraeus dan Dubes AS Ryan Crocker akan memaparkan laporan ke Kongres bulan depan. Laporan itu berisi paparan keberhasilan peningkatan tentara dan perkembangan politik Irak menuju rekonsiliasi.

"Sudah ada kemajuan. Penambahan personel itu telah mengurangi kekerasan sektarian," kata Odierno. Namun, tambahnya, keberhasilan di medan tempur itu perlu diimbangi dengan kinerja pemimpin politik Irak.

Serangan Massal

Dia menduga Al-Qaedah di Irak akan menggelar serangan "spektakuler", sementara milisi Syiah akan mengingatkan tekanan pada pasukan Amerika. "Al-Qaedah masih menjadi ancaman terbesar dan mungkin mereka akan menggelar serangan massal terhadap warga sipil. Mereka ingin menebar teror supaya orang-orang kehilangan kepercayaan pada pemerintah," kata dia.

Mengenai rencana dia menangkal ancaman itu, Odienor mengatakan, "Kami terus beroperasi di lokasi-lokasi penting setiap malam, setiap hari." Menurut dia, sebanyak 73 persen serangan terhadap pasukan AS selama Juli lalu dilakukan oleh milisi Syiah. Sejumlah serangan menggunakan senjata bom tembus (explosively formed penetrators/ EFP).

Bom jenis itu adalab bom mematikan yang disuplai oleh Iran. Dia menambahkan, penggunaan bom EFP mencapai puncaknya pada Juli lalu. Menurut komandan AS, bantuan persenjataan dari Iran banyak yang diberikan kepada unit-unit gerilyawan Laskar Mahdi pimpinan ulama radikal Moqtada al-Sadr.

Odierno mengatakan, Sadr telah pergi ke Iran sekitar sebulan lalu untuk membahas strategi internal. "Dia mengalami masalah dengan organisasinya. Ada perpecahan. Dia pergi ke Iran untuk keperluan reorganisasi," kata dia.(rtr-gn-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA