| Senin, 13 Agustus 2007 | BANYUMAS |
Sumanto Datang, Pengajian Penuh Gelak TawaPERINGATAN Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW di RT 02 RW 02 Kelurahan Karangklesem Kecamatan Purwokerto Selatan, Banyumas Jumat malam lalu berbeda dari acara serupa di tempat lain. Pembicara KH Mustajab Supono, pengasuh pondok rehabilitasi sosial, mental, dan korban narkoba Desa Bungkanel, Karanganyar, Purbalingga membawa anak asuhnya yang ''istimewa''. Yakni, Sumanto yang pernah menggemparkan karena kasus kanibal. Pemakan jenazah itu divonis lima tahun penjara, namun bebas lebih awal karena setiap tahun mendapat remisi. Keluar dari penjara usai sholat Idul Fitri tahun 2006 lalu Sumanto bingung mau kemana. Warga di kampungnya menolak, begitu pula sanak keluarganya. Namun KH Mustajab Supono, menjemput Sumanto di Lembaga Pemasyarakatan Purwokerto untuk disembuhkan di pondoknya. Si kanibal itu menjadi anak asuhnya sampai sembuh. Setelah sembuh kembali bingung mau pulang kemana karena tetangganya tetap menolak kepulangannya. Atas izin KH Mustajab Supono, Sumanto tinggal di pondok tersebut sampai sekarang. Sejak itulah ia sering tampil dalam berbagai acara. Menarik Perhatian Antara lain dalam bazar dan pameran di Alun-alun Banjarnegara. Kehadirannya menarik perhatian pengunjung, bahkan ada yang minta tanda tangannya. Beberapa waktu yang lalu Sumanto juga tampil di Purbalingga dengan pakaian pramuka. Ia menyanyikan lagu ''Di Sini Senang di Sana Senang''. Jumat malam lalu ia hadir mengenakan pakaian pramuka. Dengan rambut grondrong dan jaket hitam ia tampil dalam pengajian Isra Mikraj di Desa Karangklesem, Purwokerto Selatan. Dalam acara itu Sumanto hanya tampil sebentar untuk menyanyikan lagu Jawa berjudul ''Pamintaku'' yang merupakan lagu favoritnya. Kehadirannya membuat suasana pengajian jadi penuh gelak tawa, karena sambil berkhotbah Supono menceritakan berbagai perilaku Sumanto yang aneh dan lucu. Sumanto sendiri tampak mengantuk dan tertidur karena kecapekan mengikuti acara sang kiai. Wartawan media cetak dan elektronik menanyainya, salah satunya soal makna Isra Mik'raj. Dengan lugu Sumanto menjawab, ''Sebelumnya saya tidak tahu makna Isra Mikraj itu apa. Saya hanya ikut-ikutan. Dari khotbah Pak Kiai saya jadi tahu sedikit dan sebagai muslim memang harus mempelajari.'' Pengajian di Karangklesem diawali khotbah dai cilik Alfiana Nuraini (9), putri Wasito warga Desa Karangklesem. (Gading Satrio Pinandito-27) |