logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 04 Agustus 2007 NASIONAL
Line

KISAH

Orang-orang Terkaya Indonesia (3)

Rachman Halim, Memulai dari Pengawas Bangunan


SM/dok Rachman Halim

INDUSTRI rokok di Tanah Air yang tumbuh pesat telah membuat kantong para pengusahanya semakin tebal. Tren ini diperkirakan terus menguat di masa mendatang. Berdasarkan pada kepemilikan saham oleh masing-masing individu, baik di perusahaan publik (yang tercatat di bursa saham) maupun yang tidak (nonpublik), menunjukkan bahwa fakta jumlah kekayaan para pengusaha rokok mendominasi daftar 150 Orang Terkaya Indonesia, yang dikeluarkan majalah Globe Asia edisi Agustus 2007.

Pemeringkatan atas orang-orang terkaya di Indonesia tersebut bisa jadi merupakan salah satu program yang bisa mendorong tumbuhnya transparansi dan good governance dalam berbisnis. Di sisi lain, angka-angka kekayaan para pengusaha itu merupakan sebagian kecil dari cermin perekonomian nasional.

Dari daftar tersebut bisa tahu sektor rokok dan komoditas sumber daya alam masih sangat berpotensi dalam bisnis di Indonesia. Dari daftar itu, kekayaan tiga raja tembakau yakni Budi Hartono, Rachman Halim, dan Putera Sampoerna mencapai 9,9 miliar dolar AS (Rp 90,09 triliun) atau sekitar 21,24 persen dari total kekayaan 150 pengusaha yang masuk daftar dengan nilai 46,6 miliar dolar AS (Rp 419,4 triliun).

Bos Gudang Garam Rachman Halim alias Tjoa To Hing (60) yang tak pernah absen dalam setiap daftar tentang orang terkaya di Indonesia dan dunia, kini berada di posisi kedua dengan kekayaan 3,5 miliar dolar AS (Rp 31,5 triliun).

Manajemen Gotong Royong

Laki-laki yang lahir di Kediri, Jawa Timur tahun 1947 itu memulai kariernya benar-benar dari bawah. Dia menyelesaikan pendidikan SD, SMP, dan SMA di Kediri. Selesai menamatkan sekolahnya pada 1969, sang ayah, Surya Wonowidjojo (almarhum), Rachman diterjunkan untuk mengawasi perluasan pabrik.

Lalu diajak melihat pencampuran saus dan diajari membedakan rasa rokok. Ketika itu perusahaan rokok Gudang Garam (GG) telah mulai besar. Di situ dia sebagai pengawas Bangunan PT Gudang Garam selama lima tahun. Baru pada 1984, si sulung Rachman memangku jabatan presiden direktur.

Seperti ayahnya, Rachman menerapkan manajemen ''gotong royong''. Yakni memberikan kepercayaan kepada bawahan. Hal itu dilakukan agar perusahaan bisa berjalan dengan leluasa. Meski demikian, tetap ada laporan setelah bertindak.

Beromzet sekitar Rp 800 miliar setahun, GG memberikan kesejahteraan yang baik kepada karyawannya. Gaji minimal karyawan tetap dengan masa kerja 0 tahun Rp 133.500 dan tertinggi Rp 490.000.

Bagi yang sudah bekerja di atas 10 tahun diberikan tambahan "upah masa" Rp 35.000/tahun. Prinsip pengupahan mencapai 19 kali gaji.

GG yang mengoperasikan 400 truk dan tiga helikopter sebagai sarana angkutan barang, meraih sukses karena didukung rasa ikut memiliki dari masyarakat setempat.

Menurut pria berpostur tinggi dan berkaca mata tersebut, dengan sistem pembelian bahan baku (tembakau dan cengkih) dari petani yang dilakukan secara tunai, bisa menumbuhkan sebuah persaudaraan yang tak pernah luntur.

Penerapan tersebut berlangsung hingga sekarang, meski perusahaan telah berkembang pesat. Tak heran, jika kesuksesan ini pun juga melambungkan para pegawai-pegawai dan petani-petani kecil. GG juga tidak ingin memiliki perkebunan sendiri.

Sebab mereka berprinsip hal itu akan menjadikan petani kehilangan tempat untuk menjual hasil panen tembakaunya.

Awal Berdiri

Pada usia tiga tahun, Surya Wonowidjojo yang lahir di Fukien, China, dengan nama Tjoa Jien Hwie, datang ke Indonesia. Dia hidup berpindah-pindah dari Sampang (Madura) hingga Batu (Malang). Pada akhirnya Hwie menentap di Kediri.

Saat itu, dia berjualan kain dan baju di kaki lima, atau kadang-kadang berjualan dengan sepeda.

Kemudian pada 1950, dia turut mendirikan pabrik rokok bersama pamannya. Hanya bertahan sampai enam tahun, Surya memisahkan diri. Namun setelah itu dia tidak langsung mendapatkan pekerjaan.

Selama dua tahun Hwie menjadi pengangguran.

Padahal, saat itu dia telah menjadi seorang ayah dengan sepuluh anak. Namun tekadnya untuk memiliki sebuah usaha sangat luar biasa. Hingga pada 1958, Surya mendirikan perusahaan rokok Gudang Garam. Surya mempekerjakan sekitar 50 karyawan.

Tidak begitu lama memakan waktu, GG berhasil menggeser rokok kretek merek lainnya, termasuk merek-merek yang sudah populer saat itu.

Menjadi perseroan terbatas (PT) sejak 1968, GG yang berlokasi di atas kompleks seluas 100 hektare di pinggiran Kediri makin melesat omzetnya. Puncaknya terjadi pada 1983, ketika mereka berhasil memproduksi sekitar 26,5 miliar batang dengan jumlah cukai lebih dari Rp 254,5 miliar.

Kendati ikut terpukul oleh resesi ekonomi-pada 1984 produksi GG merosot sekitar dua juta batang dan setoran cukai menurun kira-kira Rp 3 miliar-perusahaan rokok yang oleh majalah The Economist London disebut "terbesar" di Asia Tenggara itu masih mampu menyerap 42.000 buruh dan 3.000 staf.

Kemudian pada 1985, berpatungan dengan pengusaha Probosoetedjo, GG mendirikan pabrik kertas rokok, PT Surya Zig Zag, dengan modal 30 juta dolar AS. Di situ Halim menjabat sebagai direktur.

Kini dengan semakin pesatnya GG, terasa ada tuntutan untuk lebih profesional. Didukung tenaga ahli berpendidikan universitas, manajemen CG selalu meningkatkan kinerjanya. Sambil menerapkan Total Quality Control (TQC)-untuk mengontrol kualitas produk-sejak akhir 1983, banyak penataran diadakan. Bahkan ada tenaga yang dikirim ke lembaga manajemen.

Dua orang adiknya mengambil gelar Master of Business Administration (MBA) di Los Angeles, AS. Menurut Rachman, begitu lulus, mereka akan langsung diterjunkan.

Padahal, Halim sendiri -dan seorang adiknya yang lain, Soesilo Wonowidjojo, ahli meramu saus yang menjabat direktur-hanya lulusan SMA dan tidak berpendidikan khusus bidang bisnis.

Kini Halim yang menikah dengan Feni Olivia (Oei Fen Lang), putri seorang pemilik restoran di Bima, Nusa Tenggara Barat dan telah memiliki dua anak ini, berkonsentrasi penuh untuk rokok. (Sasi Pujiati-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA