| Sabtu, 04 Agustus 2007 | INTERNASIONAL |
Ekonomi Amerika dalam BahayaWASHINGTON - Melonjaknya harga minyak sampai level tertinggi di atas 78 dolar AS per barel telah mengancam perekonomian Amerika Serikat. Menteri Energi AS Sam Bodman mengatakan, ekonomi AS sedang dalam "zona berbahaya". Dia mengimbau produsen dunia meningkatkan suplai minyak untuk mencegah kelangkaan minyak di negeri itu. Harga minyak mentah mendekati 80 dolar AS per barel bisa menghantam perekonomian AS. Bodman mengatakan, produsen OPEC maupun non-OPEC semestinya melihat kenyataan itu. "Kami berada dalam zona berbahaya sekarang ini. Jadi, saya berharap baik negara-negara OPEC maupun non-OPEC akan mencermati kenyataan itu," kata Bodman. Melonjaknya harga minyak mentah dan harga bensin telah mulai berdampak pada belanja konsumsi Amerika Serikat. Pada Rabu lalu, harga minyak mentah AS mencapai 78,77 dolar per barel, melebihi harga tertinggi Juli 2006 yang sebesar 78,40 dolar per barel. Bodman mengatakan, sejauh ini tingginya harga minyak masih berdampak ringan pada perekonomian. Namun, dia mulai mencemaskan kemampuan ekonomi negeri itu untuk menanggung beban harga minyak bila terus-menerus mendekati level 80 dolar per barel. Kendati makin gencar seruan dari Amerika Serikat dan Badan Energi Internasional, OPEC mengatakan tidak akan mendongkrak suplai produksi. Menteri Perminyakan Qatar Abdullah al-Attiyah mengatakan, OPEC tidak bisa berbuat apa-apa terhadap tingginya harga minyak. Menurutnya, saat ini tidak terjadi kelangkaan minyak mentah di pasar. Di Amerika Serikat, sudah muncul tanda-tanda bahwa harga bensin yang mendekati tiga dolar per galon sudah mulai membebani kemampuan belanja masyarakat.(rtr-gn-25) |