| Sabtu, 04 Agustus 2007 | BANYUMAS |
KULINER Warung Makan TantenePengunjung Dianggap SaudaraMENIKMATI ayam goreng bukan hal baru bagi para penikmat masakan. Masakan seperti ibarat sudah menjamur. Namun menemukan masakan yang memliki kekhasan tersendiri, tentu tak mudah mencarinya. Tampa dicari ternyata selera itu bisa dibuktikan pengelola 'Warung Tantene'. Tantenya, karena pemiliknya sering disebut "tante" oleh pelanggannya. Rumah makan yang berada di Jalan Raya Unwiku, Karangsalam ini memiliki menu khas srundeng, dengan aroma yang beda dan rasa yang lezat. Itu mampu menggugah selera penikmatnya. Selain menu nasi putih, ayam goreng plus srundeng, lalapan dan sambel terasi dalam setiap porsinya. Srundeng dan sambal terasi inilah yang membuat sebagian pelanggannya, khususnya kalangan mahasiswa dan pelajar ketagihan. Pemilik warung, pasangan Rudi (52) dan Lince (49) tidak menyangka kalau menu tambahan itu menjadi favorit pelanggannya. Selain itu, harga yang diberikan juga tergolong masih murah untuk ukuran porsi ayam goreng. Harganya masih standar Rp 5.000/porsi plus lalapan dan sambal. "Meski yang lain terus menaikkan harga, kami berusaha dengan standar harga ini. Ternyata ini yang membuat laris," tutur Rudi. Masih Terjangkau Harga tersebut bagi kalangan mahasiswa dan pelajar masih bisa dijangkau. Namun selera yang didapatkan tidak kelas murahan. "Bagaimana pun kami sangat memahami kondisi keuangan para mahasiswa yang kebanyakan anak kos. Uangnya kan rata-rata pas-pasan," katanya. Harga murah dan menu khas srundeng maupun sambal tarasi, tambah Lince, ternyata menjadi kunci keberhasilan usahanya. Pelanggannya terus meningkat. Usaha yang dirintis sejak beberapa tahun lalu, awalnya hanya sebuah warung kecil di rumahnya. Empat tahun berikutnya mampu mengembangkan usahanya. Saat ini memiliki cabang baru di kawasan kampus Unsoed, Jalan Raya Pabuaran arah Baturraden. Lince menjelaskan, kunci sukses usahanya juga terletak pada mempertahankan kualitas pelayanan kepada pelanggannya. "Kami juga terapkan manajemen menganggap semua pelanggan adalah saudara. Jadi mereka datang ke sini tak sekadar makan, tapi kadang juga ingin ngobrol seperti saudara sendiri," aku Lince. (Agus Wahyudi, Gading Satrio Pinandito-29) |