logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 01 Agustus 2007 WACANA
Line

Surat Pembaca

Agustus, Bulan Lomba

Bulan Agustus identik dengan perlombaan. Berbagai acara digelar untuk memeriahkan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI. Selain lomba juga diadakan kegiatan jalan sehat dan lainnya yang membutuhkan hadiah, door prize atau sejenisnya untuk merangsang warga agar ikut berpartisipasi. Singkat kata bulan Agustus bisa dikatakan pula sebagai bulan penuh hadiah.

Kita sering direpotkan karena ditunjuk sebagai donatur hadiah, repotnya lagi jika jadi donatur di tingkat RT , RW, kelurahan bahkan kecamatan. Padahal bulan Agustus tahun ini juga kebanjiran undangan hajatan dan biaya sekolah bagi putra putrinya yang memasuki sekolah baru atau naik kelas. Ini berarti memerlukan pengeluaran kocek yang lebih besar.

Sementara sebagai warga negara Indonesia tentunya tidak rela jika bulan Agustus lewat begitu saja tanpa kegiatan lomba. Untuk menyiasati pembelian hadiah, door prize atau sejenisnya saya imbau kepada masyarakat untuk memeriksa almari tempat menyimpan barang yang tidak terpakai tapi masih bisa dimanfaatkan.

Apa salahnya jika barang-barang tersebut disumbangkan sebagai hadiah atau door prize, siapa tahu bermanfaat bagi pemenang lomba atau orang yang mendapatkan door prize. Dengan demikian rumah bisa menjadi rapi karena barang yang tersimpan lama disumbangkan yang mengurangi biaya pengeluaran, menyenangkan orang lain dan kegiatan lomba berjalan baik.

Imbauan saya, masyarakat turut melestarikan alam karena tidak perlu membeli barang baru. Berarti pula tidak memerlukan sumber daya alam sebagai bahan baku pembuatan barang. Kita tahu sumber daya alam kita makin menipis. Semoga bermanfaat.

Diana Hidayati SPi

Kradenan Baru 27, Semarang

"Tikus-tikus Tanah"

Mencari birokrat jujur di Kabupaten Kendal, sama sulitnya mencari sebatang jarum di tumpukan jerami sejalan dengan banyaknya kasus dugaan korupsi yang mencuat. Contoh, kasus dugaan korupsi Bupati Kendal nonaktif Rp 67 miliar dan kasus dugaan korupsi anggaran APBD 2003 sejumlah Rp 6 miliar oleh para anggota DPRD.

Ini sebagai rekor "merampok" uang rakyat yang spektakuler untuk level kabupaten. Belajar dari fakta tersebut, membuat publik menjadi gampang curiga dan berprasangka buruk terhadap proses pengadaan tanah untuk proyek sekolah oleh Tim Sembilan, karena rawan manipulasi dan korupsi.

Seperti yang terjadi pada SMAN 2 Sukorejo dan SMAN 1 Patean yang lokasi keduanya agak aneh dan janggal yakni jauh dari jalan raya dan terselip di dekat kebun kopi. Lalu lokasi tanah SMAN 1 Plantungan terletak di perbukitan dengan kemiringan 50 derajad yang jelas tidak layak untuk areal sekolah.

Ada kesan panitia memang mencari tanah yang harganya supermurah. Kemudian ada sinyalemen mark-up tukar guling tanah untuk bangunan SMPN 3 Sukorejo. Menurut tokoh masyarakat, konon biaya untuk pembelian tanah itu berasal dari dana APBD 2006 yang teranggar Rp 53.004/m2.

Namun realitanya, tanah dibeli dengan harga Rp 13.000/m2 jadi ada selisih Rp 40.000/m2. Padahal luas tanahnya 1,3 ha, yang bila ditotal ada uang Rp 520 juta yang raib entah ke mana. Terahkir pembangunan gedung SMKN 5 Kendal yang berada di Pageruyung yang tak kunjung terealisir. Padahal sudah setahun lalu direncanakan pembangunannya.

Sebuah sumber menduga ini berkaitan dengan proses ruiltslag tanah yang tidak beres. Kasus demi kasus tersebut mengindikasikan ada "tikus-tikus" yang bermain di balik pengadaan tanah untuk sekolahan di Kabupaten Kendal. Kepada lembaga yang peduli terhadap kasus ini mohon melakukan investigasi ke lapangan.

S Joko Wiyono

Sudagaran RT 5/RW 1, Sukorejo

***

Portal Jalan Desa

Sudah bukan rahasia lagi apabila jalan di Kabupaten Grobogan rusak parah, karena itu sebagai salah satu dari sekian banyak ciri khas daerah ini. Upaya mempertahankan kondisi jalan khususnya jalan raya Godong - Karangrayung adalah dengan dipasangnya 3 buah portal berjajar di jalan yang terletak di Desa Godong.

Tetapi pemasangan portal tersebut justru membahayakan keselamatan pemakai jalan. Hal ini terbukti dengan seringnya terjadi kecelakaan lalu lintas khususnya di malam hari. Ada satu hal yang memprihatinkan dan menjadi tanda tanya masyarakat pengguna jalan karena ternyata portal tersebut fleksibel.

Artinya asal ada kesepakatan walau kendaraan besar baik truk maupun bus maka portal dibuka dan setelah selesai dipasang lagi, sehingga berkesan portal dipasang sebagai upaya instansi atau perorangan dalam memperoleh pendapatan. Kondisi tersebut diperparah lagi dengan keadaan sekarang ini yakni:

Tidak ada lampu penerangan jalan, cat yang digunakan sudah kusam dan hilang serta tidak memantulkan cahaya serta sering terjadi bongkar pasang portal. Mohon instansi terkait membenahi pemasangan portal tersebut demi keselamatan jiwa pemakai jalan serta keindahan Desa Godong.

Amin Sugiyono SH

Gg Sembodro 6 Godong, Gobogan

***

Mencari Buku

Pendidikan Nilai

Saya kesulitan mendapatkan satu buku sumber primer dalam penelitian literer tentang Pendidikan Nilai untuk menyelesaikan tugas akhir yaitu: Kaswardi EK, 1993. Pendidikan Nilai Memasuki tahun 2000, Jakarta: PT Gramedia. Buku ini menjadi data primer karena hampir semua pembahasan pendidikan nilai pada buku-buku yang lain merujuk dan mengutip dari buku tersebut.

Saya sudah berusaha mencarinya dari perpus ke perpus dan toko-toko buku. Mungkin karena sudah termasuk buku terbitan lama sehingga tidak ada di pasaran baik di toko buku umum maupun di Gramedia. Mungkin ada di antara pembaca yang dapat membantu saya untuk mendapatkan buku tersebut.

Siti Asiyah (081327736197)

Jl Rajawali 44, Cilacap

***

Mohon Pengeprasan

Jalan Depan SMA 7

Keberadaan sebuah sekolah perlu memperhatikan segi keamanan dan kenyamanan. Keamanan lingkungan dilihat dari sisi tidak terganggunya seluruh komponen baik secara fisik maupun nonfisik dari gangguan kejahatan dan pencurian. Sedangkan kenyamanan ditinjau dari nyaman lingkungan karena sarana dan prasarana, jalan, kelas dan ruang terbuka yang tersedia.

Di alur menuju lokasi belajar SMA7 Semarang yang semula letak lokasinya jauh dari pemukiman penduduk kini sudah cukup ramai. Apalagi akses jalan menuju Ngalian, Mijen, dan Boja bisa dilalui lewat depan SMA 7. Bus dan angkutan kota serta kendaraan pribadi mulai memadati jalur tersebut, apalagi pada pukul 06.30 - 08.00 serta 13.30 - 14.30 saat keberangkatan dan kepulangan para siswa.

Sementara jalan persis di depan gerbang sekolah dari arah barat menanjak lalu menurun sehingga pandangan terhalang saat akan menyeberang masuk pintu gerbang. Kondisi seperti ini sangat berbahaya.

Mohon kepada Bapak Wali Kota dan dinas terkait mengepras bagian yang tinggi sehingga tidak membahayakan siswa yang akan menyeberang.

Hal ini pernah diusulkan pada pihak terkait tetapi belum mendapat respon. Sekali lagi mohon respon positif demi keamanan dan kenyamanan pemakai jalan pada umumnya dan khususnya para siswa SMA7.

Dwi Handayani

Jl Dewi Sartika Timur 12

Kradenan, Semarang

***

Lagi-lagi IPDN

Sudah di survey oleh tim peneliti dari Jakarta yang dipimpin Prof Dr Drs Riyas Rasjid mengapa dikKampus IPDN selalu ada kasus penganiayaan praja yunior sampai ada yang meninggal dunia. Ada yang dikubur di dekat kampus, tetapi mengapa terjadi lagi. Mengapa sikap dan perilaku senior praja tidak berubah?.

Mengapa demi penanaman disiplin, tangan dan kaki diayunkan secara keras ke ulu hati korbannya. Bisa jadi para pelaku ada rasa dendam sebab saat dia masih yunior juga diperlakukan serupa oleh seniornya. Semestinya jangan begitu. Disiplin itu dikomando oleh organ tubuh. Otak bukan ulu hati.

Pengalaman saya sekitar tahun 1969 s.d 1974, pada waktu itu saya menjadi dosen tidak tetap di APDN Semarang tapi situasi dan kondisi kampus di Tugu Muda (sekarang rumah dinas gubernur nampak tenang. Seluruh mahasiswa setiap hari baris berbaris guna kesehatan dan rasa bersatu semi militer.

Tidak pernah ada kekerasan, penganiayaan bahkan selalu nampak rukun. Pada saat saya bertugas terakhir di Kota Tegal, selama lebih kurang 10 tahun bertemu di antara dengan bekas murid di APDN. Mereka bekerja disiplin, ada yang menjadi camat, wedono, asisten sekda. Bahkan di kabupaten lain ada yang menjabat sebagai sekda.

Padahal sewaktu di APDN dia tidak pernah mendapatkan perilaku kasar dari para seniornya. Apakah perlu IPDN tidak di sentralisasi di Jabar, tetapi di Semarang, Malang, Medan, Makasar, Padang, Palembang, Pontianak atau lainnya.

Coba berpikir, terutama para stakeholder, yang penting alumni IPDN mampu bekerja rajin, jujur, menguasai peraturan pemerintah dan keadaan masyarakat, disiplin demi bangsa dan negara. Semoga IPDN tidak ricuh lagi.

Moeljono HP

Jl Banteng Utara VII/1, Semarang

***

Calistung

Dalam beberapa kesempatan mengikuti musyawarah wali murid dengan pihak sekolah TK, sering terjadi dialog tentang belum diajarkanya siswa TK belajar membaca, menulis dan berhitung, (calistung secara penuh). Kata kepala sekolah, kurikulum TK memang hanya memperkenalkan saja dan belum mengajarkan.

Konon, Depdiknas akan menegur sekolah yang ketahuan mengajarkan calistung secara penuh pada anak TK. Sebab katanya di SD kelas 1 baru diajarkan membaca, menulis dan berhitung. Tapi kalau memang aturannya begitu, mengapa dalam seleksi masuk SD, anak TK kok sudah disuruh membaca dan menulis walau masih tingkat dasar .

Maka di acara arisan PKK, para ibu sering wadul. Akhirnya terpaksa si anak didril calistung agar lolos seleksi masuk SD. Bagi anak yang belum lancar calistung terpaksa masuk daftar tunggu.

Memang logikanya, akan lebih mudah mendidik anak yang sudah paham membaca, menulis dan berhitung. Adakah yang salah dalam penerimaan siswa baru SD atau perlu revisi terhadap kurikulum TK.

Menurut bank dunia dan studi internasional Association for the Evaluation Achievement di Asia Timur, tingkat membaca anak Indonesia paling rendah (skor 51,7). Kemampuan menguasai bahan bacaan juga rendah (30 %). Begitu pula menurut studi Unesco tahun 2005, partisipasi PAUD di Indonesia paling rendah (20 %).

Karenanya pemerintah harus bisa menyediakan buku bacaan murah apa saja termasuk serial petualangan, dongeng, kisah teladan, buku agama, buku asah otak. Bukankah hasil penelitian menyebut 50 % kecerdasan mental dan intelektual berkembang pada umur 0 - 4 tahun.

Hasil penelitian Sarah MiIes dan Deborah Stipek dari Stanford Univercity School of Education USA menyatakan tingkat kemampuan membaca anak berhubungan dengan pengembangan kepribadiannya.

Anak yang kemampuan membacanya tinggi lebih memiliki sikap sosial yang baik seperti suka menolong, mengerti perasaan orang, punya empati, perhatian pada teman, suka menghibur teman yang susah dan lainnya.

Sebaliknya anak dengan kemampuan membaca rendah cenderung mbeler dan sak karepe dewe. Terus bagaimana kelanjutan rencana Depdiknas me-lauching Pos PAUD seminggu sekali join dengan Posyandu ?

Noor Rofiq

Jl Wamena V/228-229, Ungaran

***

Hidup Makin Sulit

Hidup di negeri sendiri makin sulit, kecuali mereka yang punya banyak simpanan uang. Mencari sekolah sulit, sesudah lulus juga sulit mencari pekerjaan. Bahkan kalau sudah mendapat honor dari pekerjaan pun sulit untuk membiayai hidupnya. Lalu bagaimana. Ada kelakuan sementara orang yang tidak kuat menahan penderitaan.

Mereka kemudian minta-minta, mencuri, merampok, menjambret, korupsi. Pokoknya dapat duit untuk makan, dan senang-senang. Saya bangga kalau ada remaja yang mau dan mampu mencari uang untuk keperluan hidup dengan cara menjual jajanan, warung, restoran bahkan bengkel kecil-kecilan.

Contoh ada remaja lulusan Fakultas Hukum Undip yang anak mayor polisi, mau mendirikan bengkel shock breaker di pasar Mranggen Demak. Setiap pulang dengan tangan penuh oli tapi dia mampu membuat rumah kecil-kecilan. Bahkan dia mampu mempekerjakan beberapa tenaga di bengkelnya. Ini yang perlu dicontoh.

Ada tekad, sikap, perbuatan yang dapat menghasilkan uang walau mungkin tidak selaras dengan disiplin ilmunya. Seorang sarjana hukum menjadi tukang bengkel motor. Hai pemuda-pemudi, jangan takut walau hidup makin sulit. Asal ada tekad, niat, doa, tidak berbuat curang maka lambat atau cepat pasti ada jalan menuju ke cita-citamu.

Tetapi ingat jalan tersebut tidak akan mulus, banyak ganjalan dan kendala. Itu biasa kondisi dunia usaha, jangan putus asa. Jangan hanya menunggu pertolongan dari pihak lain seperti teman bahkan pemerintah. Modalnya hanya tekad, kuat iman, kemauan keras.

Moeljono HP

Jl. Banteng Utara VII/I Semarang

Tentang Penipuan

Sehubungan dimuatnya tulisan saya di Surat Pembaca 21 Juli 2007 mengenai "Penipuan Beratribut Bank Mandiri". saya Rodiyah binti Toha Mustofa menyatakan, permasalahannya telah diselesaikan dengan baik dan ramah oleh Bank Mandiri Tegal.

Saya melihat tidak ada kekurangan dalam manajemen bank tersebut. Sedang persoalan dengan Sdr AR Murtadho telah diselesaikan oleh pihak Kepolisian Resort Kramat/Sektor Kramat Jalan Raya 123 Kemantran, Tegal.

Rodiyah binti Toha Mustofa

Munjungagung RT 4/RW 3 Kramat, Tegal

***

Hati-hati Membeli

Chocolate Chunky Bar

Awal Juli 2007 saya dan anak saya membeli chocolate Chunky Bar di Trio Plaza Magelang. Sampai di rumah saya terkejut dan bahkan ngeri dan jijik ketika saya buka cokelat ternyata isinya sudah penuh belatung (ulat) dan berloncatan. Padahal di label batas konsumsinya masih sampai tahun 2008.

Saya tidak habis pikir, bagaimana bisa terjadi seperti itu dan saya masih menyimpan bungkus, lebel, serta struk belanjanya. Saya ingatkan kepada konsumen untuk lebih berhati-hati membeli makanan kemasan seperti halnya Chocolate Chunky Bar atau chocolate mente yang lainnya.

Arista Widyasruti

Jl Kanon Blok E/15, Magelang

***

Terganggu Renovasi

Keluarga Ibu Ning/Ibu Kris dan saya Ibu Kartono selama sebulan ini merasa terganggu akibat renovasi rumah di sebelah belakang (Toko Pandanaran) Semarang. Para buruhnya mengerjakan renovasi sehari penuh bahkan sampai malam hari sekitar pukul 22.30. Akibatnya ada keluarga yang sakit pun tidak bisa tenang. Padahal pemiliknya tidak pernah memberitahu atau minta izin tetangga di belakangnya. Mohon yang berwenang melakukan langkah tertentu sehingga renovasi bisa jalan tetapi tidak sampai merugikan dan mengganggu tetangganya.

Ny Kartono

Jl Randusari Pos I/295-296, Semarang

***

Foto Bersama Doraemon

Sehubungan dengan Foto Bersama Doraemon di Mal Ciputra Semarang 14 -15 Juli 2007, pengunjung yang ikut berfoto dapat mengambil foto dan CD di bagian Informasi Mal Ciputra lantai dasar. Pengambilan dapat dilakukan mulai 27 Juli 2007 dan tidak dipungut biaya tambahan.

Bagi pengunjung yang sebelumnya sudah memperoleh, dapat mengambil lagi dengan menunjukan foto yang sudah diambil. Bagi yang belum pernah mengambil, cukup menunjukan tiket pengambilan foto. Keterangan lebih lanjut hubungi bagian Informasi di (024)8413608 atau (024)8317364.

Alisa R Jusmar

Public Relations


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA