| Rabu, 01 Agustus 2007 | WACANA |
TAJUK RENCANADaerah Semakin Sadar Pelayanan InvestasiPenghargaan Pemerintah Daerah Pro Investasi 2007 yang diprakarsai Badan Penanaman Modal Jawa Tengah akhirnya jatuh ke Kabupaten Kudus. Dengan demikian, kabupaten itu terpilih sebagai daerah paling kompetitif di bidang investasi tahun ini. Penghargaan serupa pernah diterima Kabupaten Purbalingga (2004), Sragen (2005) dan Jepara (2006). Dengan semakin banyaknya daerah yang memenuhi kriteria sebagai juara, sebuah pertanda baik bahwa semakin banyak para pengelola pemerintah daerah sadar terhadap penciptaan iklim investasi baik menyangkut pelayanan perizinan, penjagaan konsistensi kinerja maupun faktor sosial keamanan. Seperti juga bentuk penghargaan yang lain, tentu saja penghargaan Pemda Pro Investasi itu harus dimaknai sebagai bentuk motivasi terhadap daerah yang telah menunjukkan kinerja baik pada periode tertentu. Artinya, penghargaan bukanlah tujuan melainkan satu alat yang sangat mungkin memacu semangat untuk menjadi lebih baik lagi dalam melakukan pelayanan investasi. Karena seperti diketahui, selama ini investor sangat mengeluhkan persoalan pelayanan yang sangat lamban, aturan dengan ketidakpastian tinggi, dan berbagai macam pungutan yang seringkali sangat membebani. Faktor-faktor itulah yang menjadi pemicu utama ekonomi biaya tinggi di sini. Berbagai hambatan investasi selama ini lebih banyak di jaringan birokrasi. Masalah seperti ini tentu sudah bukan rahasia lagi. Tetapi, ketika para pengelola pemerintah daerah sadar akan hal itu dan kemudian melakukan deregulasi dan debirokratisasi tentu sebuah kemajuan yang sangat berarti. Salah satu bentuk kemudahan pelayanan perizinan diwujudkan misalnya dengan transparansi tarif, percepatan waktu penyelesaian dan rendahnya biaya. Dan, para pemohon izin tidak lagi harus melewati banyak meja, melainkan cukup dengan pelayanan satu pintu. Dengan demikian terjadi efisiensi dan efektivitas pelayanan yang pada gilirannya tercipta iklim lebih kondusif. Jika dilihat dari daerah yang masuk tiga besar yakni Kudus, Cilacap dan Surakarta kita berkesimpulan bahwa daerah-daerah itulah yang memang menunjukkan performa baik dalam pelayanan investasi, sehingga angka-angka pertumbuhan nilai dan jumlah usaha meningkat secara signifikan. Kudus memiliki sistem yang baik, Cilacap memiliki semangat kebersamaan dan sistem jemput bola yang gigih, dan Surakarta memiliki visi yang cerdas dengan memanfaatkan kekayaan budaya. Dan, secara kebetulan tiga daerah itu memang selama ini telah menjadi pusat pertumbuhan di kawasannya masing-masing. Maka, penghargaan itu sangatlah tidak salah. Yang harus kita pertanyakan barangkali adalah, kenapa Kota Semarang yang memiliki banyak daya dukung tidak masuk 5 besar ? Ada apa dengan Semarang, apakah merasa puas dan berbangga dengan apa yang selama ini dipunyai seperti pelabuhan udara internasional dan pelabuhan laut yang cukup besar. Pemerintah Kota juga tidak memperlihatkan semangat deregulasi dan debirokratisasi seperti yang dikehendaki kebanyakan investor. Agak mengherankan lagi selain tidak masuk 5 besar penghargaan ini, di penghargaan yang lain seperti Adipura juga tidak ikut serta. Sebuah keadaan yang bertolak belakang dengan semangat baru bahwa kota ini katanya sedang dirancang mempesona Asia. Selain memberikan selamat tentu kita berharap bahwa penghargaan itu akan jauh lebih bermakna manakala investasi yang telah dan akan direaliasi memberikan kehidupan ekonomi rakyat yang semakin sejahtera. Apa artinya begitu banyak masuk perusahaan asing misalnya, tetapi tidak memberikan keuntungan yang senyatanya bagi rakyat sekitarnya. Semakin banyak daerah sadar melayani investasi tentu kita harapkan iklim semakin kondusif yang pada akhirnya memicu pertumbuhan ekonomi. Tantangan demi tantangan terus mengadang, tetapi peluang juga terus hadir dan semua itu membutuhkan semangat yang selalu baru untuk mengelolanya. Penghargaan adalah awal dari kerja lebih besar. |