| Rabu, 01 Agustus 2007 | MURIA |
Sumber Mata Air MenyusutJEPARA- Meski dekat dengan daerah resapan air, penduduk yang menghuni dataran tinggi di lereng Gunung Muria tetap terancam kekeringan. Selama beberapa tahun terakhir, sumber mata air terus berkurang setelah berkurangnya fungsi hutan karena kritis. Lembaga Studi Aksi dan Refleksi (LSKaR) Jepara yang melakukan riset di dua desa di dataran tinggi, dalam beberapa tahun terakhir, menemukan penyusutan sumber mata air itu. "Jika penanganan hutan kritis antara pihak masyarakat, Pemkab, dan Perhutani tidak sejalan, akan memperparah kondisi. Mata air itu menyusut karena mengecilnya wilayah tangkapan air," kata Ahmad Mahalli, Koordinator LSKaR Jepara, Selasa (31/7). Dua desa yang menjadi objek riset adalah Desa Somosari, Kecamatan Batealit, dan Desa Tempur, Kecamatan Keling. Somosari terletak sekitar 500 meter di atas permukaan air laut (dpl) dan Tempur sekitar 800 meter dpl. Sebelum 1997 (saat hutan belum gundul), sumber air di Somosari melimpah dan tidak pernah terjadi kekeringan. Bahkan warga masyarakat Surodadi, Sowan Kidul, Karangrandu, dan desa-desa di sekitarnya (wilayah budidaya dataran rendah), selalu memanfaatkan limpahan air dari Somosari untuk mencukupi kebutuhan irigasinya. Sejak 1998, lebih dari 50 persen sumber air mati. Belik-belik menjadi kering dan tidak dapat dimanfaatkan warga. Akibatnya petani kesulitan mendapatkan air untuk irigasi dan konsumsi. (H15-76) |