| Rabu, 01 Agustus 2007 | KEDU & DIY |
Waduk Sermo Memasuki Masa Kritis
KULONPROGO - Meski baru memasuki awal musim kemarau, namun persediaan air di Waduk Sermo, Kecamatan Kokap, Kulonprogo mulai menipis. Debitnya setiap hari terus mengalami penurunan, bahkan melebihi batas minimal. Pengelola menetapkan kondisinya sudah memasuki masa kritis. Kepala Balai Sumber Daya Air (BSDA) Waduk Sermo Purwoko mengatakan, penurunan debit air terjadi sejak beberapa bulan yang lalu. Penyebab utamanya karena tidak ada lagi hujan turun. Diperparah lagi dengan keringnya sejumlah mata air yang bermuara di waduk. Dia mengungkapkan, sejak dua bulan lalu cadangan air sudah mulai mendekati batas kritis. Dan mulai awal bulan ini, air sudah melebihi batas garis yang ditentukan. Terakhir pada Sabtu lalu (28/7), ketinggian air berada pada elevasi 126,66 dengan cadangan air mencapai 66 juta meter kubik. "Kondisi ini memang sudah merupakan kejadian tahunan dan masih dalam status siaga kekeringan," tegasnya. Mulai awal Agustus mendatang, direncanakan satu-satunya waduk di Provinsi DIY ini akan diperbaiki yang dipusatkan pada terowongan pembuangan dan pintu pengembalian air (mekanikal elektronik) oleh Balai Besar Wilayah Sungai. Akibatnya, air dari waduk yang biasa digunakan untuk pengairan dan irigasi lahan pertanian akan ditutup. Tidak Mengganggu Kendati demikian, dia menjamin penutupan tersebut tidak akan mengganggu pertanian di Kulonprogo, khususnya di sekitar Kecamatan Temon. Sesuai koordinasi dengan Dinas Pertanian, para petani saat ini dalam kondisi pascapanen. "Ketika selesai diperbaiki para petani baru memasuki masa tanam. Jadi tidak akan berpengaruh, apalagi mengganggu" tambahnya. Sementara itu, dari pantauan di Waduk Sermo kemarin, penurunan air justru memberikan berkah bagi peternak kambing di sekitar waduk. Sejumlah daratan yang selama ini tergenang air mulai timbul. Beberapa rumput tampak tumbuh subur di daratan ini. Dengan menggunakan rakit dari bambu, para petani secara berombongan merumput di bekas desa di Sermo Tengah ini. Sebagian warga lainnya memilih mencari kayu bakar yang banyak terdampar di daratan. (H43-70) |