| Rabu, 01 Agustus 2007 | INTERNASIONAL |
LINTAS JAGATKorut Mau Kerja SamaBEIJING - Korea Utara mau bekerja sama penuh dengan tim inspeksi nuklir yang memantau penutupan kompleks reaktor utamanya, kata tim PBB itu, kemarin. Staf Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) tiba di Korut 14 Juli lalu untuk memantau kompleks nuklir Yongbyon. Reaktor itu ditutup Korut sebagai bagian dari pakta perlucutan yang dicapai dalam perundingan enam negara Februari lalu. "Dalam melakukan tugas, kami memperoleh kerja sama dari otoritas DPRK," kata ketua tim IAEA, Adel Tolba, kepada wartawan di bandara Beijing. Tolba tidak berkomentar tentang keadaan fasilitas-fasilitas nuklir Korut. Ketua IAEA Mohamed ElBaradei akan menjelaskan hal itu dalam laporan tentang penutupan rektor nuklir Korut pada September mendatang. Namun Tolba tidak menunjukkan adanya masalah. "Kami kira kami telah melakukan apa yang seharusnya kami lakukan," jelasnya. "Kami telah melakukan semua aktivitas yang dimandatkan." Menurutnya, tim 10 orang itu pulang ke markasnya di Wina, tempat penilaian dilakukan.(rtr-niek-26) Tolak Minta Maaf MELBOURNE - Perdana Menteri Australia John Howard mengesampingkan permintaan maaf kepada Dr Mohammed Haneef, yang dipenjara hampir empat pekan di Australia karena dituduh teroris. Dia juga menolak menyebutkan bahwa dokter asal India itu dikorbankan. Howard mengatakan, kesalahan terjadi dari waktu ke waktu dan ketika bersepakat dengan teroris, hal itu lebih baik diselamatkan daripada minta maaf. "Australia tidak akan meminta maaf kepada Dr Haneef," kata Howard kepada wartawan di Sydney. "Dr Haneef tidak dikorbankan dan reputasi internasional Australia tidak dirusak oleh salah tangkap ini," kata Howard seperti dikutip media setempat. Haneef telah berkumpul kembali dengan keluarga dan bayinya yang baru lahir di Bangalore, kota industri telekomunikasi India. Sebelumnya, dia ditangkap di Australia dengan tuduhan mendukung organisasi teroris, namun kemudian dibebaskan karena tidak ada bukti.(ant-26) Rice Rayu Negara Teluk SHANNON - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Condoleezza Rice bertolak ke Timur Tengah, kemarin, untuk berkunjung ke Mesir dan Arab Saudi. Rencana paket bantuan militer senilai puluhan juta dolar menjadi agenda utama lawatan itu. Rice berdalih, bantuan militer itu untuk menangkal Al-Qaedah, Suriah, Hizbullah, dan Iran. Rice bersama Menteri Pertahanan Robert Gates berniat mendesak negara-negara Teluk untuk berbuat lebih banyak mengenai Irak. Namun, Rice membantah bahwa bantuan tersebut sengaja untuk mengiming-imingi Teluk supaya mendukung program Amerika Serikat."Itu bukan iming-iming. Kami bekerja sama dengan negara-negara itu untuk memerangi terorisme," kata Rice sebelum meninggalkan Washington. "Kami semua sama-sama berkepentingan atas kestabilan Irak yang mampu mempertahankan diri, mempertahankan sistem politik barunya dan bersatu," kata dia. "Upaya itu akan membantu meningkatkan kekuatan kelompok moderat dan mendukung strategi lebih luas untuk menangkis dampak negatif Al-Qaedah, Hizbullah, Suriah, dan Iran."(rtr-gn-25) |