| Rabu, 01 Agustus 2007 | EKONOMI |
Ingin Sukses, Jangan BerpoligamiADA tujuh kunci sukses pemilik bengkel "Bintang Terang", R Gigih Pilihanto. Satu di antara tujuh kunci itu, tidak berpoligami. Bagi Gigih, poligami dapat mengganggu konsentrasi, sehingga seorang pengusaha bisa tidak fokus dalam mengembangkan bisnisnya. Selain itu, dengan tidak berpoligami, kita akan lebih mengasihi dan menyayangi anak istri, sehingga mendapat doa untuk meraih sukses. Dasar pemikiran itu kemudian mendorong Gigih untuk memadukan gaya koboi Amerika Serikat dan arrohman-arrohim (mengasihi dan menyanyangi). Maklum, sebelum membuka "Bintang Terang" di Jl Kudus 22, Demak itu, selama lima tahun dia menimba pengalaman bekerja di berbagai restoran dan hotel di Amerika Serikat dan tiga tahun di Italia. "Pokoknya, jangan berpoligami agar usaha kita sukses," katanya dalam "Marketing Gathering", Senin (30/7) lalu di Hotel Santika Priemier, Semarang. Acara bulanan itu digelar Indonesia Marketing Association (IMA) Jawa Tengah, dengan tema "Customer Satisfaction". Gigih sebagai narasumber, dipandu Vice President Communication IMA Jateng, Adi Ekopriyono. Meski belum merasa menjadi pengusaha sukses, Gigih telah meraih keberhasilan dalam usaha perbengkelan dan suku cadang kendaraan bermotor. Bisnis itu dibangunnya dengan usaha keras sejak 2004. "Jangan tanya omzet mas, yang penting keuntungan. Meski omzet tidak begitu besar, kalau keuntungan banyak kan lebih baik," katanya. Kejujuran Menurut dia, selain tidak berpoligami, kunci sukses lain, yakni kejujuran, kerja keras, disiplin, kerja sama, visi ke depan, dan kepedulian. Bagi dia, tujuh kunci suskes itulah yang teraplikasikan dalam operasional sehari-hari yang mementingkan kepuasan pelanggan (customer satisfaction). "Saya tidak mengambil keuntungan terlalu banyak, karena yang penting pelanggan puas dan keberlangsungan usaha," katanya. Prinsip itu dia buktikan dalam pembagian keuntungan dengan karyawannya. Sebagai pemilik dia "hanya" mengambil 25 persen saja dari keuntungan yang diperoleh. Sisanya, 75 persen untuk karyawan. Angka 25 persen itu dipertanyakan beberapa peserta, karena dipandang terlalu sedikit padahal Gigih masih harus mengeluarkan banyak biaya, misalnya untuk aman, jaminan kesehatan, dan bahkan biaya pendidikan anak-anak karyawan. "Dua puluh persen cukup buat saya. Karena, mereka (karyawan-red) sudah saya minta bekerja keras. Hanya libur satu kali dalam sebulan, harus selalu siap sewaktu-waktu dipanggil. Jadi saya harus memikirkan kesejahteraan mereka," tegas Gigih. (Adi Prianggoro-33) |