SUARA MERDEKA
 
INDEKS WACANA Selasa, 31 Juli 2007

Tergelitik juga untuk berkomentar soal pernyataan mantan Wakil Ketua MPR Zaenal Ma'arif mengenai fakta pernikahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebelum masuk Akabri di Magelang. Bahkan disebutkan telah memiliki anak. Yang mengherankan, presiden menanggapi serius pernyataan tersebut dan melaporkan sendiri ke Polda Metro Jaya. Mengapa negeri ini terus menerus diberi tontonan yang sama sekali tidak mendidik. Mengapa kita tidak ingin mengangkat harkat dan martabat bangsa melainkan justru cenderung melecehkan. 

Kapten kesebelasan Irak Younis Mahmoud yang Suni, menjadi pahlawan negaranya dalam partai final Piala Asia 2007 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Minggu lalu. Dia berhasil menyundul bola dari tendangan penjuru yang diambil Hawar Mulla Mohammed yang orang Kurdi, untuk menjebol gawang Arab Saudi. Sebelum melaju ke final, mereka menyingkirkan Korea Selatan melalui adu penalti. Pada drama mendebarkan itu, kiper Noor Sabri Abbas yang berasal dari golongan Syiah, menjadi kunci kemenangan. Dalam compang-camping negeri akibat berbagai persoalan politik dan sektarianisme, terbukti persatuan menjadi kunci terciptanya sejarah.

Jika masih ingin memperoleh suara yang banyak, parpol harus membuat program yang bisa dirasakan oleh rakyat. Dengan begitu, rakyat tidak akan "muak" dengan keberadaan parpol. MAHKAMAH Konstitusi (MK) telah memutuskan bahwa calon independen bisa mengikuti pemilihan kepala daerah (pilkada). 

TIDAK terasa, 31 Juli 2007, atau 16 Rajab 1428 H. NU sudah berusia 84 tahun (berdiri 16 Rajab 1344). Usia yang relatif tua dan matang. Tantangan dan rintangan yang dihadapi organisasi kaum sarungan ini semakin hari semakin berat, baik dalam konteks agama maupun politik.

MASIH ingatkah kita dengan apa yang pernah dikatakan oleh seorang perintis sains eksperimental, Sir Francis Bacon, bahwa knowledge is power, pengetahuan adalah kekuatan. Di sini sebenarnya Bacon ingin mengungkapkan bahwa dunia pendidikan secara historis empiris selalu menjadi instrumen para penguasa untuk mengkonsolidasi dan melegitimasi kemapanan mereka, juga untuk melestarikan dan memperkuat status quo kekuasaan mereka. Jika gambaran sistem pendidikan kita dewasa ini masih seperti yang disinyalir oleh Bacon, maka kita patut berbela sungkawa.

Saya ingin berbagi pengalaman dengan pembaca, ketika kebetulan suatu saat dipercaya sebagai penguji wawancara para calon mahasiswa PGSD. Salah satu item materi wawancara adalah tes yang mengungkap kemampuan berbahasa Jawa bagi calon guru SD tersebut. Hasilnya ternyata sungguh mengundang keprihatinan. Betapa tidak. Bisa dikatakan hampir mayoritas peserta tes berlepotan ketika diminta mengungkapkan pikiran dan maksudnya dalam bahasa Jawa yang notabene bahasa ibu. Jangankan memakai tataran krama inggil dan madya, tataran ngoko saja susahnya bukan main.

  Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA