| Selasa, 31 Juli 2007 | SALA |
Catatan Pelatihan Wartawan Yunior (1)Ingin Ketemu Presiden.....
PAGI itu, Prangwedanan Pura Mangkunegaran dipenuhi puluhan wartawan. Mereka sudah bersiap dengan blocknote dan bolpen di tangan. Mereka berkumpul bukan karena ada kasus, tetapi mereka sedang mengikuti pelatihan insentif menjadi wartawan yunior (warior) yang diadakan Tabloid Yunior Suara Merdeka. Dengan penuh semangat mereka memperhatikan tiap sesi dengan seksama. Meski ketika hari beranjak siang, beberapa anak mulai terlihat mengantuk. Seperti Fefe, yang sesekali menyandarkan kepalanya melepas lelah. Sebagian lainnya memilih berlari-lari kecil di halaman Prawedanan. Peserta kebanyakan adalah siswa SMP. Meski begitu, siswa - siswa SD pun tak canggung bergabung dengan kakak-kakak mereka. Satu dan yang lain langsung berbaur. "Yunior Yes, Warior Yes Yes Yes, Aku Bisa!" Begitulah teriakan yel-yel para warior penuh semangat. Ungkapan-ungkapan menarik dari peserta muncul pada setiap sesi. "Aku ingin ketemu presiden...," celetuk salah satu peserta ketika wartawan senior, Sri Wahyudi menyakan motivasinya menjadi wartawan. Dalam benaknya, menjadi wartawan akan memudahkan impian mereka bertemu artis, orang terkenal, bahkan presiden. Keterlibatan mereka dalam kegiatan ini punya beragam alasan. Sebagian memang berangkat dari ketertarikannya pada dunia jurnalistik. Ambil contoh Clara, siswi SMP Bintang Laut ini di sekolah menjadi ketua pengurus majalah dinding (mading). "Jurnalistik itu menarik dan memang sudah menjadi dunia saya. Mading di sekolah juga saya yang pegang," katanya sambil tersenyum cerah. Sama halnya dengan Nabila Rizki, siswa kelas 4 SD N Wonogiri. Hari-harinya banyak diisi dengan menulis puisi dan cerpen. "Saya sering menemukan buku tulisnya berisi puisi, dia juga sering diminta guru untuk ikut lomba," ujar Dwi Astuti, sang ibu, yang rela datang dari Surabaya untuk mengantar anaknya mengikuti warior. Bahkan, formulir pendaftaran pun dikirim dari Surabaya, karena baru mengetahui informasi tersebut mendadak. Abel, panggilannya akrabnya, baru saja pindah dari Surabaya ke Wonogiri, karena orang tuanya membuka usaha di kota tersebut. Anak-anak tersebut biasanya termasuk siswa yang aktif dalam berbagai kegiatan. Jurnalistik dirasa dapat menambah pengetahuan mereka utnuk jenjang yagn lebih tinggi. "Aulia ingin masuk SMA Taruna Nusantara, jadi kegiatan apa saja diikutinya, katanya untuk persiapan nanti biar tambah pengetahuan," kata Hartanti, sang ibu. Alasan lain yang dikemukakan, adalah untuk melatih keberanian sang anak. "Danar (anaknya-red) saya suruh ikut pelatihan, biar nggak jadi pemalu dan mudah bergaul. Kalau kakaknya memang agak pemalu," kata Bachtiar yang dengan sabar menunggui putra keduanya. Pelatihan selama setengah hari tersebut memang banyak memberi manfaat apapun alasan yang melatarbelakanginya. Sesuai nama programnya, mereka tidak hanya menerima teori tetapi juga praktek liputan berita. (50) |