logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 31 Juli 2007 OLAHRAGA
Line

Politisi Akan Kembali Bawa Perselisihan

"PARA politisi memisahkan kami dan sepak bola mempersatukan kami." Demikian yang disampaikan Tareq Yassin kepada Reuters di Jalan Amin, sebuah sudut ibu kota Irak, Bagdad. Dengan mengacung-acungkan poster, Tareq bergabung dalam selebrasi kemenangan tim nasional pada Piala Asia 2007 bersama ratusan tetangganya. "Terima Kasih, Panjang Umur Irak", tulisnya dalam kertas robekan kalender itu.

Perayaan tak hanya terjadi di Jalan Amin, salah satu wilayah utama komunitas Suni di ibu kota Irak. Kemenangan Younis Mahmoud dkk disambut kegembiraan seluruh warga di seantero Negeri 1001 Malam. Untuk sejenak, wilayah yang tercabik-cabik karena perang saudara itu melupakan ketegangan dan permusuhan.

"Kemenangan tim nasional adalah hadiah menakjubkan bagi publik Irak. Kami telah lama menderita oleh pembunuhan, bom mobil, penculikan, dan tindak kekerasan lain," kata Fallah Ibrahim, warga Al-Sadr yang merupakan distrik utama Syiah di Bagdad.

Bagi Fallah, raihan titel kampiun Piala Asia 2007 mengobati kerinduannya menyaksikan langsung aksi para pemain nasional. Karena perang, ancaman keamanan, dan sanksi PBB, telah 17 tahun lamanya timnas Irak tak bertanding di dalam negeri.

Guna berlatih dan bertanding, mereka harus melakukannya di negara tetangga. Untuk persiapan ajang antarnegara Asia kali ini, tim asuhan Jorvan Vieira berkumpul dan berlatih di Yordania.

Kemampuan

Di Sulaimaniyah, sebuah kota Kurdi di bagian utara, Amir Mohammed mengacung-acungkan bendera negara bergantian dengan Shaman Aziz. Amir seorang Arab Syiah, sedangkan Aziz warga Kurdi. Itu bukan pemandangan lumrah di Irak, karena telah bertahun-tahun lamanya golongan Syiah, Suni, dan etnis Kurdi saling bermusuhan.

"Tim sepak bola telah menunjukkan bahwa kami bisa bersatu dari utara hingga selatan," tandas Aziz.

Ungkapannya itu merujuk materi timnas yang berisikan pemain dari seluruh etnis. Younis cs tidak diseleksi karena latar belakang keyakinan atau politik, melainkan kemampuan dan prestasi.

Persis seperti yang disampaikan Presiden Jalal Talabani, seorang Kurdi. Menurut Jalal, gol yang dilesakkan Younis ke gawang Arab Saudi dan berasal dari umpan matang Hawar Mulla Mohammed melambangkan persatuan nasional. Keduanya berasal dari etnis yang berbeda.

"Dalam sepak bola, Anda melupakan segala latar belakang dan mengedepankan kerja sama tim. Itu spirit yang bagus untuk perdamaian Irak," tutur Jalal yang menjanjikan bonus 10.000 dolar AS untuk setiap pemain.

Namun, perang tak pernah sungguh-sungguh berhenti di Irak. Di sebuah desa dekat Kirkuk, orang-orang bersenjata menembaki para pengunjung pasar. Tujuh warga meninggal, delapan lainnya luka berat.

Kecemasan kembali menyeruak. Ketidakpastian tentang masa depan adalah mimpi buruk yang panjang di Irak. Itu sebabnya, Younis dan "Singa-singa Mesopotamia" lainnya enggan merayakan kemenangan di Tanah Air.

Dengarlah penuturan Mohammed Hussein, seorang guru di kota Najaf. "Timnas membawa kebahagiaan dan kemenangan. Kami sangat bahagia. Namun, hal ini tak akan berlangsung lama karena para politisi akan kembali membawa perselisihan dan kesedihan besok. Kami sangat takut!" (Abduh Imanulhaq-22)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA