logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 31 Juli 2007 WACANA
Line

TAJUK RENCANA

Persatuan Kunci Keberhasilan Irak

Kapten kesebelasan Irak Younis Mahmoud yang Suni, menjadi pahlawan negaranya dalam partai final Piala Asia 2007 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Minggu lalu. Dia berhasil menyundul bola dari tendangan penjuru yang diambil Hawar Mulla Mohammed yang orang Kurdi, untuk menjebol gawang Arab Saudi. Sebelum melaju ke final, mereka menyingkirkan Korea Selatan melalui adu penalti. Pada drama mendebarkan itu, kiper Noor Sabri Abbas yang berasal dari golongan Syiah, menjadi kunci kemenangan. Dalam compang-camping negeri akibat berbagai persoalan politik dan sektarianisme, terbukti persatuan menjadi kunci terciptanya sejarah.

Sepak bola Irak menorehkan sejarah berkat keberhasilan menjuarai Piala Asia untuk pertama kalinya. Justru ketika negeri makin porak-poranda, grafik meningkat tercipta. Tradisi prestasi memang telah mereka jejakkan sejak lama. Negeri Seribu Satu Malam itu menjadi salah satu wakil Asia dalam Piala Dunia 1986. Namun, konsistensi benar-benar dinampakkan pada saat di dalam negeri konflik meluas, menyusul masih bertahannya tentara Amerika Serikat. Setelah masuk semifinal Olimpiade Athena 2004, medali perak Asian Games 2006 didapat. Perjalanan berlanjut dengan digenggamnya Piala Asia, melalui pertandingan yang memang pantas dimenangi.

Upaya itu dilakukan setelah mereka melawan semua kemustahilan. Pertentangan antargolongan (Syiah-Suni) maupun konflik kesukuan (Arab-Kurdi) mampu diredam untuk tak merambat jauh ke tubuh tim sepak bolanya. Perbedaan-perbedaan yang awalnya memang memengaruhi tim, akhirnya bisa disingkirkan para pemain, di bawah koordinasi pelatih asal Brasil Jorvan Vieira. Padahal, akutnya persoalan pernah membawa bencana menjelang Asian Games. Salah satu pengurus federasi sepak bola nasional tewas dibunuh, sementara Pelatih Yahya Mahel mendapat ancaman untuk dihabisi.

Selain hambatan politik, kultural, dan ideologis, masalah keamanan juga persoalan yang merintangi persiapan tim. Mereka harus menyingkir meninggalkan Bagdad karena kota itu sering jadi sasaran serangan. Latihan harus diadakan di belahan utara negeri, yang dianggap aman. Ternyata tetap saja ketidaktenangan melanda. Jadilah tim itu mengungsi ke Yordania, yang tentu saja menambah biaya, padahal Federasi Sepak Bola Irak juga merasakan kendala ekonomi. Tetapi, demi kejayaan bangsa, mereka berusaha menaklukkan rintangan-rintangan itu. Akhirnya, mereka memang mewujudkan kebanggaan bagi rakyatnya.

Sebagai tim yang dibangun dalam penderitaan rakyat, mereka pun mendapat banyak simpati. Tim juga merespons keadaan di dalam negeri dengan pita hitam melilit di lengan sebagai tanda duka pada korban perang. Keprihatinan yang amat menonjol itu mendatangkan simpati, termasuk dari penonton Indonesia. Mereka memberikan dukungan membahana di stadion. Kepedulian juga datang dari Konfederasi Sepak Bola Asia, dengan menambah jumlah subsidi sampai lebih dari dua kali lipat dibanding tim-tim peserta lainnya. Sepak bola ternyata juga menimbulkan mata rantai yang berujung pada munculnya respek terhadap sesama.

Pelajaran itu tentu harus ditarik oleh pihak-pihak yang bersengketa di Irak. Namun, Ivica Osim yang sekarang menangani Jepang, pernah merasakan betapa sepak bola tetaplah hanya perekat sesaat. Ketika pertentangan etnis di Yugoslavia mulai memanas sekitar dua dasawarsa silam, di tim nasional konflik itu terminimalisasi. Karena itu kesebelasannya mampu lolos ke Piala Dunia 1990 di Italia dan Piala Eropa 1992 di Swedia (meski akhirnya dilarang tampil). Ternyata perang etnis makin berkecamuk, yang berujung pada perpecahan negeri. Personel tim sepak bola Irak yang telah merasakan manfaat persatuan, logis berharap hal serupa tak terjadi di negaranya.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA