logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 31 Juli 2007 WACANA
Line

TAJUK RENCANA

Melecehkan Bangsa Sendiri

Tergelitik juga untuk berkomentar soal pernyataan mantan Wakil Ketua MPR Zaenal Ma'arif mengenai fakta pernikahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebelum masuk Akabri di Magelang. Bahkan disebutkan telah memiliki anak. Yang mengherankan, presiden menanggapi serius pernyataan tersebut dan melaporkan sendiri ke Polda Metro Jaya. Mengapa negeri ini terus menerus diberi tontonan yang sama sekali tidak mendidik. Mengapa kita tidak ingin mengangkat harkat dan martabat bangsa melainkan justru cenderung melecehkan. Terlepas dari kenyataan apa pun yang akan menjadi kebenaran, semua yang terjadi adalah kesia-siaan.

Mengenai tindakan Zaenal Ma'arif, jelas tidak bisa diterima dari sisi moral dan etika. Apa motivasinya dan mengapa ia harus menyatakan semua itu. Publik paham dan pasti menduga bahwa hal itu dipicu oleh kekecewaan setelah SBY menandatangani Keppres yang mengukuhkan pencopotannya sebagai anggota DPR dan salah seorang pimpinan di lembaga negara tersebut. Lalu apa hubungannya dengan presiden kalau semua itu hanya bagian dari dinamika politik yang harus dihadapi dan risiko atas kiprahnya di dunia politik. Dari segi apa pun rasanya patut disesalkan apalagi ia telah mempertaruhkan kehormatan simbol penting negara.

Begitukah kekerdilan wakil rakyat dan pemimpin kita? Katakanlah ia mengetahui sejak dulu mengapa baru sekarang dokumen diungkapkan. Atau mungkin baru sekarang diketahui mengapa pula ia harus bermain di wilayah privacy untuk mencapai tujuan politik. Sungguh menjadi sesuatu yang sangat tidak simpatik. Sebaliknya reaksi Presiden pun banyak disesalkan. Benar bahwa itu merupakan hak pribadi sebagai warga negara. Apalagi pasal penghinaan presiden dalam KUHP sudah dihapuskan oleh Mahkamah Konstitusi sejak 6 Desember 2006 lalu. Dan siapa pun tak akan tahan kalau merasa difitnah dan dirusak nama baiknya.

Tetapi bukankah banyak cara tanpa harus datang dengan pengawalan lengkap seperti itu. Betapapun kita tahu maksud baiknya namun bisa menimbulkan kesan sebaliknya. Artinya presiden bisa dianggap berlebihan menanggapi isu. Padahal kita tahu sangatlah padat jadwal kegiatan dan amatlah berat tugas yang diemban terutama menghadapi berbagai persoalan bangsa yang belum selesai. Memang semua menyangkut kehormatan seseorang tetapi jangan lupa presiden juga bukan warga negara biasa yang bisa bebas melakukan sesuatu tanpa dipertimbangkan baik buruknya. Secara protokoler pun ia tak bisa disamakan dengan lainnya.

Pemimpin diharapkan peka terhadap persoalan rakyat namun tidak terlalu sensitif untuk urusan pribadi. Mestinya disadari semakin tinggi pohon akan semakin kencang angin bertiup. Wajar bila suatu ketika menjadi sasaran tembak termasuk difitnah atau diisukan macam-macam. Maka yang terpenting kemudian adalah bagaimana bisa menanggapi semua itu, kalaupun perlu ditanggapi, dengan seperlunya. Apa yang dilakukan SBY bersama isteri dengan mendatangi kantor polisi untuk menggugat Zaenal Ma'arif tidak keliru karena itu justru demi menegakkan kebenaran dan menjunjung tinggi hukum. Tetapi pertanyaannya, perlukah semua itu?

Sebaiknya bangsa ini, terutama presiden dan kalangan politikus, tak membuang energi untuk hal-hal yang tidak perlu dan kontraproduktif. Lebih baik berkonsentrasi pada pemecahan berbagai masalah karena rakyat akan melihat apa saja yang telah dihasilkan. Kalau memang merasa tidak bersalah dan tidak ada sesuatu yang perlu dipermasalahkan tak perlu emosional menanggapi semua ''serangan'' itu. Sementara itu elite politik perlu memiliki dan menjaga moral maupun etika. Perlu disadari, sekarang bangsa kita sudah semakin berat menjaga kehormatan dan kepercayaannya. Jangan ditambah dengan tindakan buruk yang makin melecehkan.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA