logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 31 Juli 2007 SEMARANG
Line

Anus Tak Berfungsi, Riski Butuh Biaya Operasi

  • Oleh: Rukardi

SAMBIL mengedot susu botol, Achmad Riski Subagya (13 bulan) menggelendot manja di pangkuan ibunya. Raut mukanya yang tenang, tak menyiratkan kelainan pada dirinya. Padahal Riski adalah bayi megacolon, yakni penderita kelainan pada syaraf usus. Kelainan itu menyebabkan ia tak bisa buang air besar secara normal melalui anus.

Sementara untuk buang hajat, putra ketiga pasangan Kasmuri (35) dan Tumirah (33) yang tinggal di Jalan Jatikusuman RT 7 RW 4, Desa Mranggen, Kecamatan Mranggen itu menggunakan anus buatan di perut kiri bagian bawah. Anus tersebut hasil operasi dokter tiga hari setelah kelahirannya.

Pada usia enam bulan, semestinya Riski menjalani operasi lanjutan untuk mengembalikan fungsi ususnya. Namun ketiadaan biaya dari orang tuanya membuat operasi itu tertunda.

Keluarga Riski hidup bersahaja. Kasmuri sebagai tulang punggung keluarga berprofesi sebagai penyapu jalan tol. Di sela kesibukan, dia nyambi menjadi tukang kayu. Namun, penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dua kakak Riski sudah bersekolah. Si sulung duduk di bangku kelas 5 SD, anak nomor dua kelas 2 SD. Mereka butuh biaya ekstra. Sementara Tumirah hanyalah ibu rumah tangga. Sehari-hari waktunya habis untuk mengurus ketiga anaknya.

''Dengar-dengar, untuk operasi lanjutan butuh biaya sampai Rp 20 juta. Dari mana kami mendapatkan uang sebesar itu. Jangankan biaya operasi, untuk makan sehari-hari dan biaya sekolah anak saja sudah pas-pasan,'' ujar Tumirah di teras rumahnya yang berdinding papan, Senin (30/7).

Operasi Lanjutan

Tumirah lantas mengisahkan ikhwal kelainan Riski. Menurutnya, kelainan anak lelakinya itu terdeteksi beberapa saat setelah lahir di RSUD Kota Semarang, Ketileng.

Tiga hari kemudian, dia dirujuk ke RS Dr Kariadi untuk menjalani operasi pembuatan anus buatan. Operasi itu menghabiskan dana Rp 3 juta lebih.

Persoalan tak berhenti sampai di situ. Agar hidup normal, Riski butuh operasi lanjutan. Segala upaya telah dilakukan untuk mengupayakan operasi itu. Pihak Jamsostek yang dihubungi menolak memberi bantuan, sebab kelainan bukan termasuk item yang menjadi tanggungan.

Tumirah juga telah mencoba mengurus askeskin di Kelurahan dan puskesmas setempat. Namun upaya itu juga tak membuahkan hasil. Pasalnya, askeskin mensyaratkan kepemilikan surat kompensasi BBM. Meski secara faktual mereka keluarga miskin, tapi tidak pernah mendapat bantuan dana kompensasi BBM.

Lantaran ketiadaan biaya pula, Tumirah tak bisa merawat anus buatan Riski sebagaimana mestinya. Menurut aturan, anus sementara itu harus dijaga kebersihannya menggunakan plastik khusus, yang harga sebuahnya Rp 3.000. Plastik itu harus diganti tiap kali Riski buang hajat.

''Sehari Riski bisa berak sampai lebih dari 10 kali. Bayangkan berapa uang yang harus dikeluarkan untuk itu. Makanya, saya siasati dengan balutan kain, yang bisa dicuci ulang kalau kotor.'' (16)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA