| Selasa, 31 Juli 2007 | SEMARANG |
Training Lanjutan ESQMematangkan Misi untuk Meraih Surga-Nya
BANYAK orang tentu tahu Disneyland. Sebuah taman hiburan untuk segala umur dengan berbagai permainan spektakuler ditunjang teknologi canggih yang ada di sejumlah negara maju. Disneyland bermula dari sebuah mimpi besar Walter Elias Disney. Dia menempatkan mimpinya menjadi sebuah visi. Keinginannya yang kuat, membuat Walter mampu mewujudkan dream (mimpi)-nya menjadi kenyataan karena dia memegang prinsip selanjutnya, yakni believe (percaya), dare (berani mengambil risiko), dan do (melakukannya). Disneyland, yang berada di Anaheim, California (28 mil dari Los Angeles), adalah taman rekreasi Disney yang pertama didirikan. Resmi dibuka pada 17 Juli 1955. Pada waktu pembukaan, Walter mengatakan dalam pidatonya ''Kesuksesan dimulai ketika kita mulai menciptakan impian jauh ke depan. Dan saat kita berkomitmen untuk mencapai impian itu, maka selanjutnya impian itu yang akan menjadi magnet dan menarik kita ke sana''. Itu merupakan gambaran kecil sebuah visi besar, ditunjang dengan misi dan nilai yang kuat. Simak juga perjuangan John Roebling, dan putranya, Washington-keduanya insinyur dari Amerika-yang berhasil menyelesaikan mimpinya, membangun jembatan penghubung antara Brooklyn dengan Pulau Manhattan. Meski mendapat kecelakaan beberapa bulan usai menuangkan idenya pada 1883, jembatan itu rampung juga. Roebling tewas dalam kecelakaan, sedangkan John yang lumpuh dan tak dapat berbicara bisa menyelesaikan gagasan ayahnya dalam 13 tahun. Ya, pemimpin bukan hanya pemulai, tapi juga penyelesai. Penetapan Misi Dalam sebuah training lanjutan kecerdasan emosi dan spiritual (Emotional Spiritual Quotient/ESQ) baru-baru ini, pernyataan misi dari sebuah visi menjadi bagian penting. Ya, mission statement (pernyataan/penetapan misi), tingkat lanjut training ESQ 165 yang digagas Ary Ginanjar Agustian itu, untuk kali pertama digelar di Semarang. Lima puluhan orang-laki-laki dan perempuan-alumni training ESQ dari berbagai angkatan menjadi peserta dalam acara yang digelar sehari di Hotel Pandanaran itu. Trainer Iman Herdimansyah-berlisensi Ary Ginanjar Agustian-juga menyampaikan contoh visi dan misi yang ditancapkan Ratu Inggris dalam ambisinya menguasai dunia. British rules the waves (Inggrislah yang mengatur gelombang samudera), pernyataan misi itu, telah menjiwai Angkatan Laut Inggris untuk menjadi sebuah negara koloni terbesar di dunia pada abad pertengahan masehi. Tak terkecuali, pasukan Arab yang memegang syahadat (yakin pada Allah SWT dan meneladani kepemimpinan Nabi Muhammad SAW) sebagai kekuatan visi. Pasukan yang jumlahnya kecil itu mampu melakukan serentetan penaklukan pada abad VI dan VII Masehi. Seiring dengan itu, berbondong-bondonglah orang masuk Islam tanpa paksaan. Visi-visi besar lain juga pernah dilontarkan para pahlawan Indonesia. Sebut saja Bung Tomo, RA Kartini, dan masih banyak lagi. Tak terkecuali yang dilakukan Mahapatih Gajahmada dengan Sumpah Palapanya. Pengorbanan Visi, bukan hanya monopoli perusahaan atau lembaga. Seseorang, kata Iman, juga perlu mematangkan visi, misi, dan nilai yang diembannya, jika ingin sukses. Peserta kemudian diajak untuk melakukan berbagai kegiatan dan permainan untuk menentukan visi, misi, dan nilai itu. Mulai dari seolah-olah menjadi pemilik perusahaan, melempar gelang pada sebuah target dengan mata terbuka maupun tertutup, mencari barang dengan mata tertutup, hingga ''menaiki'' kereta luncur yang ada di layar lebar dibantu kacamata tiga dimensi. Tak hanya itu, beberapa film yang menceritakan kehidupan kerja di sebuah perusahaan juga diperlihatkan. Ada Rifki, seorang cleaning service yang selalu ikhlas dalam menjalankan tugasnya. Meski gaji dan bidang tugasnya bukan tergolong ''basah'', dia yakin yang dilakukannya sangat bermanfaat bagi para pekerja di kantornya. Ruangan yang bersih dan rapi dia yakini akan membuat karyawan menjadi lebih giat dalam bekerja, sehingga perusahaan bertambah maju. Dia berprinsip, ''gaji'' yang diberikan Tuhannya tentu lebih besar sepanjang pekerjaan itu dilakukan dengan ikhlas. Lain Rifki, lain pula Aan, salah seorang tokoh dalam sebuah tayangan terpisah. Laki-laki yang sudah beristri itu digambarkan sebagai seorang yang malas-malasan. Di kantor, lebih sering bermain game di komputernya. Datang terlambat, berlama-lama istirahat, dan ingin cepat-cepat meninggalkan ruang kerja menjadi kebiasaannya. Peserta diajak untuk maju dengan dorongan keikhlasan dan pengorbanan. Kekuatan Tuhan juga menjadi faktor seseorang dalam mencapai tujuan akhirnya. Allah yang juga memiliki nama Al Muntaqim (Maha Menetapkan Pembalasan) dan Adh-Dhaaru (Maha Pemberi Bahaya) menjadi pengingat manusia untuk kembali ke jalan-Nya. Pesan yang tergambar dalam pelatihan menjadi semakin jelas. Visi jauh ke depan itu tak hanya bagaimana meraih sukses di dunia. Namun jauh dari itu, yaitu masuk surga. Untuk itu misi yang dilakukan adalah mencintai Allah, serta mengemban nilai asmaul husna (nama-nama Allah). (62) |