logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 31 Juli 2007 SEMARANG
Line

Ngamen Kuda Lumping untuk Biaya Sekolah

KUDA lumping itu meliuk-liuk di bawah kendali Antok (13). Sementara kakaknya, Amat (18) juga menarikan kuda lumping dibarengi musik reog dari Tulungagung melalui sebuah tape speaker berukuran agak besar, yang dibawa ayahnya, Yanto (35). Seorang lagi, Supri (35) yang masih saudara bergantian membawa speaker tersebut.

Tak ingin ketinggalan, bocah paling kecil bernama Andi (8) ikut menari-nari sesuai irama musik yang dimainkan. Terkadang musik reog tetapi beberapa menit kemudian berubah dangdutan. Sebuah topeng Penthul Tembem menutupi wajah polosnya.

Satu per satu rumah warga, mereka hampiri, dan tidak terhitung pula berapa kilometer jalan yang mereka lalui. Tarian jaran kepang atau kuda lumping yang biasanya penuh dengan suasana magis, tidak tampak disini. Tak ada gamelan dipajang, tanpa pecut. Yang ada hanyalah sebuah keinginan untuk melestarikan kesenian yang pernah ditekuni oleh leluhurnya.

''Biasanya, saya ngamen di Purwodadi, tapi saat liburan maka anak-anak saya bawa ke Semarang. Itu sekalian menengok saudara kami,'' kata Yanto yang ditemui di rumah orang tuanya di daerah Kinibalu. Yanto sendiri tinggal di Jetis Utara RT 9/RW 16, Purwodadi, Grobogan ini, mengaku pendapatannya dari ngamen di Semarang rata-rata Rp 180 ribu per hari.

Biasanya, kelompok ini sering diminta pentas saat ada hajatan, karnaval atau acara-acara tertentu. ''Tarifnya berkisar Rp 600 ribu sampai Rp 800 ribu. Tergantung, hanya arak-arakan atau bermain total,'' jelas Yanto yang pernah melakoni berbagai macam pekerjaan seperti kuli batu dan tukang becak ini.

Bagi Antok dan Andi, yang duduk di kelas 3 dan kelas 2 SD V Purwodadi ini, hasil dari kuda lumping bisa memberikan tambahan uang saku untuk jajan dan membeli keperluan sekolah. (Modesta Fiska-56)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA