| Selasa, 31 Juli 2007 | SEMARANG |
Konsep Reklame Bersama Dinilai Lebih EfektifSEMARANG - Makin semrawutnya penataan reklame di kawasan Kota Semarang seperti di Simpanglima, Jl Pahlawan, bundaran Kali Banteng, dan jalan-jalan protokol lainnya, mendapat sorotan pemerhati perkotaan dari Unissula Ir Tjoek Suroso Hadi MT. Menurutnya, sebaiknya Pemkot mulai mencoba menata dengan membuat konsep reklame bersama, seperti yang sering terlihat di SPBU dan gedung-gedung bioskop. "Konsep reklame bersama saya pikir selain lebih manusiawi juga tidak memakan banyak tempat seperti yang terlihat saat ini di kawasan Simpanglima," ujarnya. Wakil Dekan II Fakultas Teknik Unissula itu lebih lanjut mengatakan, reklame yang menjamur di Kota Semarang sekarang ini, terutama dalam ukuran besar, acap kali dalam pemasangannya justru mengakibatkan bangunan yang melatarbelakanginya terhalang. "Hal itulah yang mengakibatkan nilai keindahan suatu wilayah terlihat kurang," kata dia. Dia menambahkan, dalam penataan papan informasi sekarang ini, instansi terkait dinilai kurang memperhatikan beberapa faktor seperti aspek komunikatif, jarak pandang, skala reklame, keindahan, dan titik-titik lokasi pemasangan. Maksud dari aspek komunikatif, kata dia, seharusnya pesan yang ingin disampaikan biro iklan ke masyarakat mudah dipahami. "Kalau pesan yang ingin disampaikan sedikit, sebaiknya ditulis sesuai proporsinya, jangan panjang lebar," katanya. Lebih lanjut Tjoek Suroso menjelaskan, selain komunikatif, jarak pandang papan reklame juga perlu diperhatikan. Dalam hal ini ukuran tulisan harus proporsional dengan papan informasi yang akan dipergunakan. "Jika tulisan yang disampaikan dalam papan iklan tersebut ditulis besar-besar, sebaiknya jarak pandang 10 meter," jelasnya. Dia mengatakan, selain mulai mencoba reklame bersama, sebaiknya Pemkot mulai mengurangi jumlah reklame di Simpanglima dan mencari lokasi lain yang masih kosong seperti di Polder Tawang dan tempat-tempat strategis lainnya. (H36-62) |