| Selasa, 31 Juli 2007 | SEMARANG |
Wajah Kali Semarang Kini (2-Habis)Jembatan Rendah, Sedimentasi ParahBERULANG - ulang, para instruktur dari Satlak PB Kota Semarang mengomando agar para wartawan merunduk. Soalnya, pada sejumlah jembatan yang melintang di atas Kali Semarang, hanya berjarak sekitar dari 70 centimeter dari permukaan air. Kalau tak mau mengikuti petunjuk itu, tanggung sendiri jika kepala terbentur konstruksi jembatan. Ya, rasanya tak ada yang membantah, Kali Semarang merupakan salah satu kanal penting di ibu kota Jawa Tengah ini. Selain menjadi drainase yang berperan besar untuk mengendalikan rob di kawasan Semarang Tengah, sungai itu juga menyimpan potensi besar untuk dikembangkan, baik untuk wisata maupun transportasi air. Tapi, kalau melihat kenyataan on the spot-seperti dilakukan oleh Wartawan Kota yang menggelar Susur Kali Semarang, Minggu (29/7) lalu-peran itu sepertinya tak bisa tertunaikan dengan optimal. Pasalnya ada begitu banyak jembatan yang memiliki konstruksi amat rendah sehingga tidak mungkin dilewati perahu di bawahnya. Pada saat yang sama, sejumlah ruas Kali Semarang memiliki sedimentasi amat parah, yang bisa membuat perahu berlunas kandas. Banyaknya jembatan yang memiliki konstruksi rendah kurang mendukung pengembangan wisata dan transportasi air. ''Kami akan berkoordinasi dengan Dinas Bina Marga Provinsi, terkait dengan banyaknya jembatan yang berkonstruksi rendah itu,'' kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang, Achmad Kadarisman, ketika dimintai tanggapannya soal itu. Dikatakan, Kali Semarang memang menyimpan potensi besar untuk dikembangkan menjadi sarana wisata atau transportasi air. Namun, dia juga mengakui, banyaknya jembatan dengan konstruksi besar cukup menjadi kendala yang mengganggu. ''Memang ada peluang, jembatan-jembatan itu dinaikkan. Di samping bisa dilewati perahu, jalan bagi air juga semakin terbuka,'' ujarnya. Soal sedimentasi, kata Kadarisman, disebabkan oleh masuknya tanah dari hulu atau sampah berat dari kanan-kiri sungai. Dicontohkan, bisa jadi ada warga yang membuang tanah atau sisa bangunan ke dalamnya. Di samping itu, kesadaran warga untuk tidak membuang sampah ke sungai juga masih perlu ditingkatkan. Jembatan... (Sambungan hlm A) Secara berkala, kata dia, DPU sudah mengeruk sesuai kebutuhan. Pengerukan yang lebih komprehensif akan dilakukan pada 2008, sejalan dengan program pembangunan Waduk Jatibarang. ''Mengenai sampah, saya kira, belakangan Kali Semarang sudah relatif lebih bersih, jika dibandingkan beberapa waktu lalu.'' Respons Positif Gagasan untuk ''menghidupkan'' Kali Semarang sebagai wisata atau transportasi air, memperoleh sokongan dari warga sekitar. Coba saja dengar kata Mochtar (50), warga Jagalan. ''Warga sekitar saya kira akan senang kalau Kali Semarang dimanfaatkan. Di samping lebih ramai, pasti kebersihan sungai akan lebih terpelihara.'' Senada, Ny Nyoo (60), warga Petudungan mengatakan, dibandingkan beberapa waktu lalu, Kali Semarang relatif lebih bersih dari sampah. Kalau kebersihan itu bisa dipertahankan, dia yakin, warga sekitar akan semakin nyaman tinggal di sana. ''Kalau kaline pada bersih, kan enak dipakai berperahu. Kami juga mau naik da sini,'' ucapnya. Terpisah, anggota Komisi C DPRD Kota Semarang Agung Budi Margono mengatakan, pengembangan Kali Semarang, baik untuk wisata maupun transportasi air, memang layak memperoleh dukungan. Namun, menurut dia, perlu upaya lebih serius untuk mengatasi persoalan-persoalan mendasar di sana, mulai dari sedimentasi, tumpukan sampah, hingga jembatan-jembatan berkonstruksi rendah. ''Saya khawatir, gagasan pengembangan itu cuma hangat-hangat tahi ayam. Sekarang ramai diperbincangkan, besok-besok tidak ada lagi kabarnya.'' (Achiar M Permana-62) |