| Selasa, 31 Juli 2007 | KEDU & DIY |
Soto ''Sampah'' Gunakan Resep Leluhur
TERIK mentari tak mengurungkan niat orang-orang untuk mampir ke warung soto ayam ''sampah'' Pak Sailan, Jalan Tantular, Pringwulung, Sleman. Semangkuk soto panas pun terhidang di hadapan masing-masing pelanggan. Soto ini akan lebih nikmat jika disantap dengan sate usus, telur puyuh, dan sepiring tempe goreng. Menempati bangunan bambu berukuran 5x5 meter, makanan yang dikenal sebagai soto ''sampah'' itu tetap asyik dikunjungi. Saat pertama kali menetap, warung Sailan bersebelahan dengan bak sampah. Karena itu, pelanggan lantas menyebutnya soto "sampah". Meskipun bersebelahan dengan tumpukan kotoran, konsumen masih saja mengunjungi tempat mangkal pria yang telah berjualan soto selama sembilan tahun. "Sayang setelah setahun ditempati, bangunan itu roboh," ujar Sailan sambil memandang tempat berjualan dulu. Kini, ia telah menempati bangunan bambu yang hanya berjarak beberapa meter dari lokasi awal. Pria berusia 44 tahun itu semula tidak berniat menjadi penjual soto. Ide jualan tercetus saat ulang tahun anaknya, Tri Wahyuni. Saat itu, ia ingin membagi kebahagiaan keluarga dengan para mahasiswa yang kos di sebelah rumahnya. Resep Warisan Dibantu sang istri, Lasmi, ia membuat soto dan membagikannya pada anak kos. Tanpa diduga, mereka memuji masakannya yang enak dan meminta Sailan untuk berjualan soto. Setelah mempertimbangkan banyak hal, pria asal Bengkulu itu memutuskan menjual soto hasil resep turun-temurun keluarganya itu. Ia pun mengawali usaha menjadi penjual soto keliling. Dengan gerobak, pria yang selalu ramah pada siapa saja ini membawa dagangan ke daerah Cepit. "Sekarang Bapak sudah bisa belanja naik motor dari hasil jualan soto," kata Lasmi. Ternyata soto buatannya banyak peminat. Sailan pun berkeinginan menetap dan membuka warung soto sendiri. Akhirnya ia mengontrak lahan untuk tempat berjualan. Sebelum menghentikan jualan keliling, ia membagikan selebaran kepada para langganan untuk mampir ke tempat baru. Dibantu istri dan adiknya, Lasmi dan Bayu, ia selalu melayani pembeli dengan ramah. "Alhamdullilah, soto saya laris manis diserbu pembeli sampai sekarang," kata Sailan. Kabar yang tersiar dari mulut ke mulut membuat para pelanggan terus berdatangan. Ini tentu menjadi motivasi tersendiri bagi pemilik warung yang buka pukul 06.00- pukul 14.00 siang itu untuk terus berjualan. (72) |