logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 31 Juli 2007 KEDU & DIY
Line

Pameran Dolanan Anak

Nyaris Hilang Ditelan Perkembangan Zaman

MODERENISASI seperti sekarang, di mana teknologi maju pesat, ternyata telah mengubah perilaku masyarakat, khususnya anak. Permainan tradisional yang dulu sering kita lihat, kini sudah lenyap.

Sebagai pengganti, kini anak-anak bermain play station, tamiya, dan lain-lainnya.

Padahal dolanan dan permainan anak tradisional seperti egrang, bekelan, jhatungan, ganjilan, gobak sodor, dan tembang-tembang Jawa, sarat filosofi tinggi serta sangat bermanfaat bagi perkembangan sekaligus pertumbuhan masyarakat maupun anak.

Namun sayang, semua yang kita miliki ini nyaris tenggelam ditelan perkembangan zaman. Satu contoh kecil, adalah tembang gubahan Sunan Kalijaga yang berjudul "Padhang Bulan" yang dulu sering kita nyanyikan bersama, kini sudah tidak ada gemanya.

Padahal syair tembang itu sarat filosofi. Contohnya syair:

Yo prakanca dolanan ing njaba,

Padhang mbulan padhange kaya rina,

Rembulane kang ngawe-ngawe,

Ngelikake aja turu sore-sore.......''

Lagu gubahan Sunan Kalijaga yang sudah dinyanyikan lebih dari 4 abad yang lalu itu, sepertinya mengajak kita untuk mensyukuri kemegahan dan keindahan alam sambil merasakan pancaran energi positif dari sang purnama.

Dalam tembang itu, dia mengajak kita semua untuk tidak tidur sore sambil berkumpul dan bermain bersama.

Itulah yang menjadikan bangsa kita tetap kuat dalam spirit yang masih menghargai tradisi.

Tempo Dulu

Untuk menghidupkan kembali 'Dolanan Bocah' yang kini nyaris hilang di telan bumi, Yayasan Yogyakarta Seni Nusantara selama dua hari menggelar Pameran Dolanan Anak di Kompleks Jogja National Museum, Jalan Gampingan, Yogyakarta. Acara dengan mengambil tema "Padhang Bulan" ini, panitia sengaja menggelar berbagai permainan tradisional tempo dulu.

Bahkan, tidak tanggung-tanggung penjual dolanan anak seperti othok-othok, kurungan burung, kaca mata bocah, kitiran, gamelan, wayang kardus, dan masih banyak lainnya.

Ternyata yang suka pada permainan tradisional ini tidak hanya anak-anak, tetapi juga para remaja dan pemuda. Acara yang berlangsung selama dua hari itu digelar di halaman kompleks eks Kampus ASRI.

"Kami ingin mengajak anak-anak bermain gobak sodor, egrang atau lainnya. Sebab permainan yang kita miliki lebih kaya filosofi dibanding play station ," ungkap KPH Wironegoro, Ketua Yayasan Yogyakarta Seni Nusantara.

Dengan demikian, kepekaan sosial anak-anak akan terlatih dan lebih mencintai negeri ini. (Sugiarto-72)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA