| Selasa, 31 Juli 2007 | INTERNASIONAL |
LINTAS JAGATJenazah Sandera DipulangkanSEOUL - Jenazah pendeta Korea Selatan (Korsel) yang ditembak mati oleh gerilyawan Talib di Afghanistan Senin kemarin diterbangkan ke Korsel, Jenazah Bae Hyung-kyu ditemukan pada Rabu lalu, bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-42. Bae adalah ketua kelompok relawan 22 orang yang diculik Talib pada awal bulan ini. Kelompok Talib kemarin memperpanjang lagi batas waktu bagi Pemerintah Afghanistan dan Korea Selatan sampai pukul 19.30 WIB. Namun, beberapa jam setelah batas waktu itu, tidak ada pernyataan apapun dari Talib. Pejabat Afghanistan mengatakan, ke-22 sandera dalam keadaan aman. Para pemimpin Talib mengatakan Minggu lalu, para pejuang mereka akan membunuh 22 sandera warga Korsel lainnya jika Pemerintah Afghanistan tidak membebaskan para anggota gerilyawan yang dipenjarakan hingga batas waktu Senin pukul 07.30 GMT (14.30 WIB).(rtr-gn-25) Thaksin Mengaku Lega LONDON - Mantan perdana menteri Thailand Thaksin Shinawatra menyatakan tidak berencana kembali ke politik di negara asalnya. Hal itu disampaikan dalam wawancara yang dipublikasikan harian Financial Times edisi kemarin. Mantan taipan telekomunikasi itu mengatakan lebih tertarik pada profesi barunya sebagai "perdana menteri" tim sepakbola, Manchester City. Dia mengaku "lega" karena tidak perlu khawatir tentang "apa yang seharusnya saya lakukan untuk rakyat dan negara saya?" Para pemimpin militer menggulingkan Thaksin pada September lalu. Mereka menuduh dia korupsi dan menyalahgunakan kekuasaan. Sejak itu, mantan perdana menteri tersebut tinggal di London. Tim investigasi antikorupsi telah membekukan paling tidak 1,52 miliar dolar aset milik Thaksin dan keluarganya.(rtr-niek-26) Filipina Pusat Teror MANILA - Satu kelompok hak asasi, kemarin, menganggap Filipina sebagai pusat teror di Asia Tenggara. Hal itu didasarkan pada besarnya korban - lebih dari 1.700 orang tewas atau terluka dalam serangan militan di Filipina selama tujuh tahun terakhir. Jumlah itu merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara. Dalam satu laporan, kelompok Human Rights Watch yang berkantor di Amerika Serikat menuding dua kelompok militan kecil yang berbasis di Filipina selatan atas pembunuhan itu - Abu Sayyaf dan Gerakan Rajah Solaiman. Namun skala kerusuhan di Filipina belum mendapat perhatian besar dari luar kawasan itu, kata John Sifton, peneliti tentang terorisme dan kontraterorisme di Human Rights Watch di New York. (rtr-niek-26) |