| Selasa, 31 Juli 2007 | INTERNASIONAL |
Pemanasan Global Sebabkan Banjir di China
BEIJING - Jumlah korban tewas akibat bencana banjir, tersambar petir, dan tanah longsor di China selama musim panas ini telah mencapai hampir 700 orang. Para pakar mengatakan, pemanasan global akan menimbulkan lebih banyak bencana yang berkaitan dengan cuaca. Kantor berita Xinhua kemarin melaporkan, selama akhir pekan saja 17 orang tewas akibat badai melanda empat provinsi China. Sepuluh orang di antaranya meninggal di Provinsi Hubei dan Han. Badai itu menimbulkan hujan deras dan menyebabkan air sungai Yangtze meluap. Yangtze adalah sungai terpanjang di China. Sementara di Provinsi Sichuan, satu orang tewas karena tersambar petir. Di Provinsi Shaanxi, China baratlaut, lima orang tewas dalam bencana banjir yang memutus akses transportasi darat di sekitar Shangluo. Badai juga melanda di Provinsi Anhui, China timur, satu orang tewas dan tiga lainnya terluka akibat badai. Hujan deras di wilayah itu juga menyebabkan sungai Huai meluap. Jutaan penduduk mengungsi. Sedikitnya 3.000 turis yang naik perahu di sepanjang sungai Yangtze terpaksa harus mengakhiri wisata mereka, karena air sungai meluap. Mereka kemudian dipindahkan ke puluhan bus. Xinjiang Daily melaporkan, bencana tanah longsor melanda beberapa tempat di China baratlaut. Sejumlah ruas jalan terputus. Salah satu ruas jalan rusak berat, sehingga butuh waktu dua bulan untuk memperbaikinya. Paling Parah Badai musim panas sebenarnya bukan hal baru di China. Namun para pakar mengatakan pemanasan global telah memperbesar daya rusak badai itu. "Frekuensi dan intensitasnya semakin besar. Ini merupakan bencana badai, kekeringan, dan cuaca panas yang paling parah dalam sejarah," kata Dong Wenjie, direktur Pusat Iklim Beijing. "Fakta ini sangat terkait dengan pemanasan global." Banjir akibat hujan lebat juga melanda tambang batu bara di China tengah, Minggu tengah malam. Pejabat mengatakan, 69 pekerja tambang terkurung banjir. Insiden itu terjadi di tambang Zhijian milik pemerintah. Pertambangan tersebut berada di desa Shanxian, sekitar 200 kilometer sebelah barat ibu kota provinsi Zhengzhou. Air menerobos melalui terowongan tambang aluminium. Sedikitnya 33 penambang berhasil naik ke permukaan, namun 69 pekerja lainnya terperangkap. "Operasi penyelamatan terus dilakukan," kata juru bicara tim penyelamat, seperti dikutip Xinhua Secara keseluruhan, lebih dari 119 juta orang terkena dampak banjir di seantero China. Jumlah itu hampir sepersepuluh dari 1,3 miliar penduduk China. Kerugian ekonominya mencapai 52,5 miliar yuan (sekitar Rp 64 triliun). Sementara itu, kawasan Eropa selatan dilanda kekeringan dan cuaca panas yang ekstrem. Kantor berita AFP melaporkan, ribuan hektare hutan terbakar di sejumlah negara Eropa. Kebakaran hutan di Gran Canaria, Spanyol, kemarin memaksa petugas untuk mengungsikan ratusan warga sekitar. Luas areal hutan yang terbakar mencapai 3.500 hektare. Pejabat setempat menyatakan kobaran api hampir sepenuhnya dipadamkan. Otoritas Spanyol telah mengerahkan lebih dari 200 petugas pemadam kebakaran, tujuh helikopter, dan satu pesawat untuk menjinakkan si jago merah. Di Italia, sekitar 9,000 hektare hutan terbakar selama beberapa hari terakhir ketika suhu udara meningkat. Bencana serupa juga terjadi di Serbia. Diperkirakan, sekitar 12.000 hektare areal hutan Serbia musnah dilalap api. Di Bulgaria, sekitar 23.000 hektare kawasan hutan terbakar.(rtr-ben-25) |