logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 31 Juli 2007 BUDAYA
Line

Tafsir Ulang Apropriasi

  • Oleh Rukardi

SEMBILAN panel kanvas berlukiskan wajah tokoh-tokoh legendaris dunia terpacak di salah satu dinding Galeri Semarang. Ada Mahatma Gandhi, Mao Tze Tung, Adolf Hitler, Soekarno, Marilyn Monroe, JFK, Lenin, Che Guevara, dan Saddam Husain.

Bukan perkara sederhana menengarai wajah tokoh-tokoh itu, sebab pelukis Galam Zulkifli menampilkan mereka dengan gaya rambut yang tak biasa.

Gandhi yang berkepala bersih justru dicitrakan dengan rambut kribo, Mao ber-shaggy, Hitler dengan rambut rasta, dan Soekarno berjambul mohawk. Sementara Marilyn Monroe ditampilkan berkepala botak, Lenin berponi ala personel The Beatles, dan Saddam dengan rambut gaya Superman.

Dengan kenakalannya, Galam membuat reproduksi foto wajah yang dipajang dalam pameran bertajuk "On Appropriation" itu menjadi berasa segar. Ada polarisasi ideologi yang dipapar. Ada pewacanaan baru yang dilempar.

Dalam konteks seni rupa kontemporer, karya semacam "Seri Pencitraan: Rambut" itu dikategorikan sebagai apropriasi. Ia adalah kecenderungan menggunakan karya lain sebagai pijakan.

Mengutip kurator Rifky Efendy, apropriasi telah jamak dipraktikkan pada awal abad ke-20. Nama-nama seperti Marcel Duchamp, Pablo Picasso, dan Georges Braque dikatakan sebagai pionernya. Praktik itu kian dikuatkan oleh Sherry Levine, Barbara Kruger, dan Cindy Sherman di Amerika Utara.

Namun jauh sebelumnya, Raden Saleh Syarif Bustaman (1807-1880) justru sudah memunculkan model seni apropriasi. Dia merevisi lukisan "Gevangenneming van Diponegoro" (1830) karya N Pieneman menjadi Penangkapan Diponegoro pada 1857.

Semacam Jendela

Pameran "On Appropriation" sendiri menjadi semacam jendela untuk melihat perkembangan karya dengan kecenderungan apropriasi di Indonesia. Selain Galam, pameran menyajikan karya-karya Agus Suwage, Aminudin TH Siregar, Ariadithya Pramuhendra, Astari, Bambang "Toko" Witjaksono, Dadan Setiawan, Dipo Andy, Gede Mahendra Yasa, Hamad Khalaf, Radi Arwinda, Wiyoga Muhardanto, serta Yogie Ahmad Ginanjar.

Agus Suwage membuat serial potret berjudul "I Want to Live Another Thousand Years" yang menampilkan potret Benyamin S, Sitting Bull, John Bonham, dan Kurt Cobain. Mereka seluruhnya tengah mengisap sigaret.

Dengan gaya nyaris serupa, Ariadithya Pramuhendra menggunakan wajahnya sebagai model ikonisasi potret Chairil Anwar ("Mengenang Chairil"), Van Gogh ("Mendengarkan Van Gogh"), dan Semsar Siahaan ("Mengenang Semsar"). Pun Dipo Andy dengan "Image # 5 (Madonna)", "Image # 6 (Theresa)", dan "Image # 7 (Beckham)".

Sementara Aminudin TH Siregar memamerkan foto-foto prewedding-nya. Salah satu foto, yakni "Singing Sculpture" hasil apropriasi seni performans Gilbert dan George.

Bambang "Toko" Witjaksono mengeksplorasi stiker-stiker naif yang banyak dijual di pinggir jalan. Kenaifan teks yang melengkapi kebersahajaan komposisi bidang dan warna, justru menjadi faktor penguat karyanya.

Simak misalnya, "Besar Pasak daripada Tiang", "Cantik Wajahnya Belum Tentu Jenis Kelaminnya", dan "Yang Cakep Duduk di Muka (Dekat Mas Sopir)".

Selain itu masih ada karya Astari yang memunculkan sosok dirinya sebagai objek utama, Hamad Khalaf, perupa Kuwait, yang melukisi permukaan benda-benda peninggalan Perang Teluk, Radi Arwinda yang mengawinkan wayang dengan karakter monster dalam komik Jepang.

Wiyoga Muhardanto dengan fantasi benda-benda menggunakan kerangka tubuh manusia. Yogie Achmad Ginanjar yang meminjam karakter manusia Yue Minjun serta latar lukisan "The Scream" (1893) karya Edward Munch untuk menggambarkan kengerian terhadap tsunami dan Amerika.

Adapun Dadan Setiawan dan Gede Mahendra Yasa mengadopsi citra visual hasil olah digital ke dalam bidang kanvas mereka. Pembesaran gambar berresolusi rendah menghasilkan efek pecah yang khas. Dalam hal ini Gede meminjam karya ekspresionis Cy Twombly.

Ya, apropriasi merupakan pencitraan baru terhadap karya lampau. Dengan apropriasi, sebuah karya ditafsir ulang untuk menghasilkan nilai-nilai baru yang lebih segar dan menggetarkan. (45)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA