logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 28 Juli 2007 SALA
Line

LINTAS DAERAH

Kalijambe Timur Krisis Air Bersih

SRAGEN- Penduduk di Desa Ngebung, Kecamatan Kalijambe, Sragen bagian timur, mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Warga di Dukuh Mlandingan dan Wonolelo terpaksa menarik iuran mencapai jutaan rupiah untuk membeli mesin penyedot air. Warga menggunakan alat penyedot itu memperoleh air di sumur dalam Desa Bukuran. Padahal jaraknya mencapai dua kilometer dari desa mereka.

"Kami harus memasang pipa paralon ukuran besar untuk mengalirkan air dari pompa penyedot ke tandon air milik warga. Pompa penyedot air itu dari hasil iuran," jelas Paidi, warga Ngebung.

Dia mengungkapkan, warga Ngebung bagian timur memang selalu krisis air bersih, khususnya saat musim kemarau. Kondisi geografis yang berupa perbukitan gersang dinilai menjadi faktor utama. Hal itu ditambah lagi minimnya instalasi air bersih di Ngebung timur.

Dia menuturkan, untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, warga memanfaatkan sumur galian yang kedalamannya mencapai puluhan meter. (J5-42)

Warga Protes Hasil Seleksi

SUKOHARJO - Protes sebagian kalangan atas penetapan hasil seleksi perangkat desa di Sukoharjo, terjadi juga di Desa Kepuh, Kecamatan Nguter, Jumat (27/7) kemarin. Warga RW III dan RW V mendatangi balai desa, untuk memprotes ditetapkannya Priyadi sebagai kepala dusun (kadus) III Desa Kepuh. Mereka menilai, penetapan Priyadi sebagai kadus tidak sesuai dengan aspirasi masyarakat.

Mereka berunjuk rasa menjelang acara pelantikan Priyadi. Gimin, koordinator lapangan aksi tersebut, mengatakan warga menolak Priyadi sebagai kadus dan tidak akan mengakui keberadaannya sebagai kadus.

Menurutnya, tiga kadus hasil seleksi semuanya berdomisili di RW V dan tidak satu pun bertempat tinggal di RW III. "Pemerintah sewenang-wenang. Kami menentang segala bentuk nepotisme," tegasnya.

Kepala Desa (Kades) Suwito kemudian menemui mereka. Kepada massa, dia mengatakan bisa memahami tuntutan mereka. (H44-58)

Kader PDI-P Peringati Kudatuli

SOLO- Puluhan kader dan simpatisan PDIP Solo memperingati tragedi yang merenggut beberapa nyawa atau yang biasa dikenal dengan Kasus 27 Juli (Kudatuli) 1996 di kantor DPC PDI-P, Brengosan, Laweyan, Jumat (27/7) dini hari.

Acara peringatan untuk mengenang dan mendoakan para korban tragedi, khususnya para kader PDI-P tersebut dimulai sekitar pukul 23.00. Mereka langsung menggelar acara tahlilan, renungan, serta kilas balik tentang peristiwa berdarah itu. Menurut Ketua Panitia, Bagawata, agenda tersebut sudah dilakukan sejak 2005, namun 2006 sempat vakum karena tidak ada dana. (hr-50)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA