| Sabtu, 28 Juli 2007 | SALA |
Air Langka, Produksi Susu Segar MerosotBOYOLALI - Bukan hanya petani padi yang ketar-ketir menghadapi kekurangan air pada musim kemarau ini. Peternak sapi perah pun sama cemasnya. Pasalnya, ketika air mulai langka, produksi susu segar langsung merosot. "Kelangkaan air menyebabkan produksi susu segar turun," ujar Yatno, seorang peternak sapi perah di Musuk, Boyolali, Jumat (27/7) kemarin. Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jateng H Sri Kuncoro mengatakan, penurunan produksi susu cukup besar. Biasanya, 90.000 liter per hari. Belakangan ini, turun menjadi 80.000 liter per hari. Penurunan diperkirakan terus terjadi selama musim kemarau, karena peternak sapi perah di sentra-sentra produksi peternakan rakyat menghadapi kelangkaan air bersih dan hijauan makanan ternak. "Penurunan produksi juga diakibatkan oleh semakin banyaknya populasi sapi perah yang tidak lagi produkif karena termakan usia," katanya. Menurutnya, jumlah populasi sapi perah di Boyolali saat ini tercatat 45.000 ekor, yang dibudidayakan para peternak di tujuh kecamatan, yaitu Ampel, Boyolali Kota, Mojosongo, Cepogo, Musuk, Selo, dan Teras. Pada musim kemarau, banyak peternak menjual sapinya untuk membeli air bersih dan hijauan pakan ternak. Kualitas Rendah Dikatakan, kekurangan pakan dan air bersih merupakan kendala utama yang dihadapi para peternak sapi perah pada akhir-akhir ini. Sebab, kualitas susu yang dihasilkan sapi perah tidak sebaik biasanya. Sekarang, tambah Marno, susu segar produksi peternak Boyolali baru mampu mencapai standar kualitas kelas III. Harganya pun sangat rendah, yakni antara Rp 2.000 dan Rp 3.000 per liter. "Padahal, jika peternak mampu menghasilkan susu segar standar kualitas kelas I, mereka bisa menjual susu segar Rp 7.000 per liter," tambahnya. Dikatakan, karena susu segar yang dihasilkan peternak lewat proses pemerahan sangat sederhana masih mengandung banyak bakteri, GKSI terpaksa harus mengolahnya lagi. "Pemasaran susu segar produksi peternak sapi perah di Boyolali masih terbatas ke industri pengolah susu. Upaya pemasaran ke masyarakat langsung mengalami kendala, karena tingkat konsumsi susu masyarakat Boyolali dan sekitarnya masih rendah."(G10-58) |