| Sabtu, 28 Juli 2007 | WACANA |
TAJUK RENCANACadangan Air di Jawa Paling KritisDirjen Pengelolaan Lahan Lahan dan Air Ir Hilman Manan mengingatkan, dari seluruh wilayah Indonesia, cadangan air di Pulau Jawa paling kritis. Hutan yang ada tinggal 15-20 persen sehingga dikhawatirkan akan menjadi masalah dalam beberapa tahun ke depan. Semakin kecil debit air dalam tanah maka permukaan tanah menjadi lebih keras, sehingga air hujan tidak lagi bisa terserap tanah melainkan langsung mengalir menuju laut. Jika tak ada upaya yang lebih serius menghadapi masalah tersebut maka pulau ini akan terancam kekeringan yang semakin meluas setiap tahunnya. Akibatnya, daerah-daerah pertanian tak lagi bisa memasok kebutuhan pangan yang semakin meningkat. Peringatan yang dilontarkan Ir Hilman Manan 100 persen benar, dan itulah yang memang sedang terjadi sekarang ini. Hutan habis dibabat secara resmi maupun dirampok dalam skala yang terus membesar, sehingga fungsinya sudah sangat berubah. Hutan tanaman industri maupun hutan alam luasnya terus menyusut secara signifikan. Bahkan gunung-gunung di Jawa tidak lagi memiliki hutan yang perawan karena seringnya terjadi kebakaran, di samping diterjang untuk berbagai kepentingan seperti pembukaan lahan pertanian maupun penambangan. Dengan demikian kerusakan bukan semata-mata pohonnya yang menghilang, tetapi juga lahannya semakin rusak. Pohon yang hilang dan lahan yang rusak adalah awal dari bencana. Di samping tidak lagi dapat menyimpan air, tanahnya mudah sekali rontok dan biasanya menghantam pemukiman yang berada di bawahnya. Maka, tidaklah terlalu mengherankan manakala akhir-akhir ini mudah sekali musibah tanah longsor dengan menelan banyak korban. Selebihnya kejadian seperti itu, air yang meluncur dari atas bukit menuju bawah mengakibatkan banjir dengan segala kerusakan yang dibawanya. Musibah seperti ini eskalasinya cenderung meningkat dari tahun ke tahun, tetapi rasanya belum juga mengubah tata berpikir dan tata bertindak dari masyarakat sekarang ini. Hutan yang habis tak lagi bisa menyimpan air dalam jumlah besar. Cadangan air tanah semakin menipis dari tahun ke tahun. Tetapi keadaan itu tidak diimbangi dengan sikap dan perilaku hemat air mengingat cadangan semakin terbatas. Yang terjadi justru sebaliknya, pengambilan air tanah membabi buta dan bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan secukupnya sehari-hari. Air tanah disedot dengan pompa dari kedalaman sekitar 100 meter dengan kekuatan pompa yang besar. Akibatnya mudah sekali diduga, sumur-sumur tradisional yang ada di sekitar pompa menyusut seketika, bahkan sumber tak lagi bisa mengeluarkan air dalam jumlah cukup. Menghadapi kenyataan yang pasti akan pahit sudah seharusnya kita bisa mengelola air dengan lebih baik. Penggunaan air secukupnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan berpegang pada prinsip tidak membuang air secara percuma. Meski pun mampu membayar langganan air milik PDAM tidak seharusnya kran dibiarkan terus mengalir dan terbuang. Masyarakat yang masih memiliki lahan cukup disarankan untuk membuat sumur-sumur resapan agar air hujan bisa ditampung sehingga tidak terbuang percuma. Kesadaran seperti ini perlu terus ditingkatkan karena tanpa itu, atau menunggu hutan hadir kembali harus menunggu puluhan tahun kemudian baru terwujud. Pemerintah perlu semakin tegas menghadapi keadaan yang diperkirakan akan semakin sulit. Harus mulai ada pembatasan pembuatan sumur pompa dalam. Jika semua orang merasa ingin mudah hidup dengan sumur dalam, dipastikan mereka yang merasa punya uang akan mewujudkan ambisinya. Semakin banyak orang dengan gaya hidup seperti itu, maka hanya butuh waktu sekejap untuk menyedot habis air tanah di kedalaman berapa pun. Pada akhirnya permukaan tanah turun, dan air laut masuk ke daratan dan banjir akan semakin mudah hadir. seperti ini sebenarnya sudah amat diketahui, tetapi ternyata tidak mudah untuk disadari. Maka, tiba saatnya untuk membangun kesadaran bersama. |