| Sabtu, 28 Juli 2007 | NASIONAL |
Kepala BPPT: Masih Banyak Pembangkit Listrik AlternatifBANDUNG-Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Said D Jenie, menyatakan pihaknya terus mengembangkan sejumlah pembangkit listrik tenaga alternatif. Di antaranya pembangkit yang memanfaatkan potensi angin, ombak, dan arus laut di kawasan milik BPPT di Parang Racuk, Wonosari, DI Yogyakarta. Dia menargetkan prototipe pembangkit tenaga-tenaga alternatif dengan kemampuan besar itu bisa diselesaikan pada tahun 2009. Hal tersebut diungkapkan Said D Jenie usai menjadi pembicara di Kampus Unpad Bandung, Jumat. "Program pembangkit listrik tenaga alternatif merupakan prioritas utama kami saat ini," tandasnya. Menurut dia, langkah tersebut memang membutuhkan investasi yang cukup besar. Karena itu keberhasilan program tersebut bergantung pada dukungan dana dari pemerintah. Dia mencontohkan pengembangan pembangkit listrik tenaga ombak karena sedikitnya dibutuhkan dana sebesar Rp 3 miliar. "Pasalnya kami harus membikin lorong untuk menangkap ombaknya, yang mahalnya di situ karena tidak gampang menangkap sesuatu yang ganas itu, turbinnya sih harganya murah," tandasnya. Dari tenaga ombak, ditambahkan, setidaknya dapat menghasilkan daya listrik antara 500 KW sampai 1MW. Tapi, Jenie mengingatkan bahwa panjang pantai benua bahari Indonesia mencapai 80 ribu km, kedua setelah Norwegia. Dia bahkan menyebut potensi listrik nasional terbentang dari sepanjang pantai barat Sumatera, selatan Jawa, Nusa Tengara, dan Papua. "Impian saya, karena tebing-tebing pantai selatan itu ombak-ombaknya besar-besar, kenapa itu tidak kembangkan sebagai penyedia energi," katanya. Untuk penggunaan angin, Jenie menjelaskan bahwa sistem pembangkit listrik tenaga bayu telah berhasil dikembangkan. Prototype yang menggunakan turbin angin berdiameter 3,5 meter sudah mampu menghasilkan tenaga sebesar 1 KW. Saat ini, BPPT bertempat di Parang Racuk tengah mengembangkan turbin angin diameter 10 meter dengan output 100 KW. Menurut Jenie, PLTB dapat ditempatkan di daerah pantai atau lepas pantai. "Khusus lepas pantai, kendalanya cukup berat karena berkaitan dengan masalah pemeliharaannya," tandasnya. Sedangkan tenaga surya, BPPT telah mengembangkan sejak tahun 1985 dengan menggunakan teknologi reflektor termal dan photo voltaic. Potensi matahari Indonesia sendiri melimpah. Tingkat kebutuhannya mencapai 40 MW/tahun, namun kapasitas yang terpasang baru 8 MW. ''Sebenarnya dengan kemajuan teknologi, listrik dari surya mudah didapat tapi belum dengan keberadaan perangkat teknologinya. Karena itu masih butuh investor dan terkait dengan iklim investasi di tanah air,'' kata Deputi Kepala BPPT bidang Teknologi Informasi, Energi dan Material, Marzan Aziz Iskandar yang turut mendampingi Jenie.(dwi-41) |