logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 28 Juli 2007 NASIONAL
Line

MUSIBAH Penyakit Misterius di Desa Kanigoro

Ketika Argumen Metafisika Menemukan Jejaknya


SM/Sholahuddin DIAUTOPSI: Tim Forensik Polda Jateng mengautopsi salah seorang korban penyakit misterius di kamar mayat RSU Tidar, Magelang, kemarin. (57)

Lamanya menemukan penyebab penyakit misterius menimbulkan kasak-kusuk di tengah warga Dusun Beran, Desa Kanigoro, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang. Ketika argumen ilmiah belum ketemu, yang muncul justru argumen metafisika. Wajar jika itu yang lebih dahulu menyeruak, karena warga mulai resah dan jenuh terombang-ambing dihantui ketakutan akan terjangkiti penyakit itu. Berikut laporannya.

KEMATIAN sepuluh warga Dusun Beran, Desa Kanigoro itu, lebih dari cukup untuk membuat penasaran masyarakat. Peristiwa demi peristiwa yang terjadi akhirnya dikaitkan dengan musibah itu. Salah satunya masalah renovasi cungkup makam sesepuh desa yang tak disetujui sebagian warga. Apakah ini terjadi secara kebetulan setelah makam Mbah Bero direnovasi cungkupnya, musibah itu datang.

Apakah ada kaitannya atau tidak, yang jelas kelompok warga yang kurang setuju renovasi menuding kelompok yang prorenovasi sebagai biangkerok semua ini. Akhirnya fitnah semakin meluas. Namanya juga metafisika, sulit dibuktikan mana yang benar dan mana yang salah. Setidaknya dari permasalahan itu sudah menunjukkan spekulasi negatif tentang sumber musibah, ketika argumen ilmiah belum ditemukan. Jejak-jejak metafisika itu mulai mengendus seputar pembongkaran makam.

Kadus Beran, Yanto (28), mengatakan makam yang konon dibangun tahun 1810 dalam sejarahnya baru tiga tahun terakhir ini dibangunkan cungkup di atasnya. Menurut keyakinan warga setempat, tak boleh mendirikan bangunan di tanah makam. Hal itu selalu ditekankan salah seorang tokoh desa yang lima tahun lalu meninggal dunia.

Tapi setelah tokoh itu meninggal, lanjut dia, ada warga yang berani membangun cungkup makam. Dalam tiga tahun terakhir ini hampir setiap tahunnya cungkup direnovasi, itu berasal dari dana pribadi bukan swadaya masyarakat.

"Semua musibah datang dari Allah SWT. Jika dikaitkan dengan perihal itu akan menimbulkan fitnah sehingga bisa mengancam keamanan warga setempat. Saya sudah mengimbau kepada warga untuk tenang dan tak mempersoalkan hal-hal yang mistis itu,"katanya.

Hal senada juga diungkapkan tokoh pemuda setempat Rohmadi (42). Menurutnya, jika penyebab kasus itu belum terungkap akan menjadikan persoalan itu semakin runyam. Antara kelompok satu dengan yang lainnya saling menuduh, bahkan bisa terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Jika hal itu benar terjadi setidaknya pemerintah juga ikut bertanggung jawab, karena lambannya mengungkap kasus itu bisa berakibat fatal dan menimbulkan kerasahan di masyarakat.

Dia berharap pemerintah segera menemukan penyebab musibah itu dan masyarakat kembali hidup tenang dan bisa bekerja seperti sediakala. Saat ini hampir semua warga konsentrasi mengurusi masalah korban yang dirawat dan meninggal sehingga aktivitas warga belum normal. Menurutnya, hal itu akan menjadi masalah baru ketika berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama.

Penyelamat

Soal autopsi yang diperkirakan akan mempercepat proses penyelidikan, kata dia, salah seorang keluarga korban akhirnya merelakan jenazah saudaranya diautopsi. Hal itu demi kemaslahatan umat, meski sebelumnya sempat menolak. Dia berharap semoga itu menjadi pijakan untuk segera mengungkap tabir musibah itu.

Kemarin keluarga Pailah (65) salah seorang korban tewas, Saliah (45) Parni (43) dan Slamet Kuat (40) merelakan jenazah ibunya diautopsi. Ketiganya diperbolehkan masuk mendampingi Tim Forensik bekerja di Kamar Mayat RSU Tidar. Mereka tak kuasa menahan air mata ketika ibunya yang sudah tak bernafas itu dijadikan obyek penelitian.

"Saya merelakan ibu saya karena ini demi kemaslahatan umat seperti apa yang dikatakan kiai. Semoga penyakit bisa terungkap dan tak ada fitnah di tengah-tengah warga,"kata Slamet sambil meneteskan air mata.

Jika benar autopsi itu akan mengungkap penyebab penyakit, dia yakin ibunya akan mendapat jalan yang terang dan diterima di sisi-Nya. Karena itu merupakan bagian dari ikhtiar untuk memecahkan masalah dan menyelamatkan warga dari keresahan dan perpecahan.

Pengorbanan Slamet dan keluarganya sepertinya menjadi pemecah kebuntuan persoalan penolakan keluarga korban tewas lainnya untuk dilakukan autopsi.(Sholahuddin al-Ahmed-41)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA