logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 28 Juli 2007 NASIONAL
Line

Penanganan Lamban, Warga Semakin Resah

MAGELANG - Ternyata masih butuh waktu satu sampai dua pekan untuk mengungkap penyakit misterius itu setelah Tim gabungan Forensik Polda Jateng dan RS Karyadi mengautopsi salah seorang korban meninggal, Pailah, kemarin. Ketakutan warga Dusun Beran, Desa Kanigoro, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang yang dihantui penyakit itu bakal bertambah . Sementara itu korban tewas bertambah, kemarin dua orang yang dirawat di ruang ICU RSU Tidar Kota Magelang meninggal.

Mereka itu Pailah dan Ngatemi (40), semuanya warga Beran. Pailah meninggal pukul 01.50 dini hari kemarin dan merupakan satu-satunya korban yang diautopsi di kamar mayat RS tersebut. Adapun Ngatemi adalah pasien terlama yang mengalami koma, sejak Senin (23/7) sampai mengehembuskan napas terakhirnya kemarin pukul 11.35. Dengan demikian korban meninggal berjumlah 10 orang.

Korban yang dirawat di RSU Tidar tinggal 13 orang, satu orang kritis di rawat di ICU Nuryati (40) sedangkan yang dirawat di Puskesmas Grabag delapan orang. Kemarin Tim Forensik Polda melakukan autopsi jenazah Pailah kurang lebih selama tiga jam mulai pukul 10.00 hingga 13.00. Selanjutnya tim itu bergerak menuju Dusun Beran untuk mengambil sampel air dan darah warga setempat.

Kepala BPK RSU Tidar dokter Pantja Kuntjoro, mengatakan setelah berkoordinas dengan Tim Forensik pihaknya belum berani menyimpulkan penyebab penyakit tersebut. Menurutnya, setidaknya masih menunggu satu sampai dua minggu lagi untuk mengungkap kasus tersebut. Kendati demikian, salah satu yang difokuskan dalam penyelidikan adalah pada organ hati. Menurutnya, sementara ini telah berhasil dideteksi kerusakan sel hati yang cukup luas.

Apakah itu disebabkan oleh intoksinasi atau inveksi, pihaknya belum bisa memastikan. Salah satu yang diwaspadai, lanjut dia, inveksi yang merusak organ hati itu ada hubungannya dengan organisme sehingga bisa menyebar dan menjangkiti warga lebih banyak lagi.

Kondisi secara keseluruhan korban yang dirawat di tempatnya, kata dia, berangsur membaik. Meski korban yang dirawat di Bangsal ada yang sudah membaik, namun belum dibolehkan pulang. Hal itu dilakukan untuk keamanan dan keselamatan pasien. Dikatakan, jenazah yang diautopsi diperlakukan protap seperti penanggulangan flu burung, misalnya setelah jenazah sampai di rumah duka tak boleh dibuka dan langsung dimakamkan.

Kepala Dinas Kesehatan setempat, dokter Hendarto, mengatakan tak akan melakukan isolasi atau evakuasi warga, karena akan menimbulkan masalah. Kendati demikian pihaknya terus melakukan pengawasan terhadap pola makan sehari-hari warga. Selain itu memeriksa kesehatan warga secara berkala yang dilakukan oleh Posko Kesehatan di dusun itu.''Warga juga diberikan asupan gizi yang cukup terlebih bagi balita,'' katanya.

Warga Resah

Sudah lima hari terakhir ini warga desa itu dihantui ketakutan, karena penyebab kematian akibat penyakit misterius belum terungkap. Tak hanya keluarga korban yang resah, tetapi juga ribuan warga lainnya menunggu hasil penyelidikan terhadap musibah itu.

Salah seorang warga Sarjani (48), menilai dalam mengungkap kasus itu pemerintah dinilai lamban. Menurutnya, keresahan warga akan terobati ketika penyebab kematian warga sudah terungkap. Kendati demikian, dia menghargai kerja keras pemerintah dalam mengantisipasi penyebaran penyakit.

''Sebenarnya warga sudah ikhlas dan tabah dengan musibah ini. Tapi ketika semuanya tak jelas sumbernya dan berlangsung lama justru akan mengundang berbagai spekulas. Hal ini justru akan menjadikan fitnah jika dihubungkan dengan klenik,'' katanya. (H33-41)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA