| Sabtu, 28 Juli 2007 | NASIONAL |
Satu Korban Tewas Diautopsi
SEMARANG - Tim gabungan dari Dokkes Polri, Labfor Mabes Polri Cabang Semarang, dan Dinkes Jateng akhirnya mengautopsi satu jenazah warga Dusun Beran, Desa Kanigoro, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jumat (27/7). Korban tewas yang diautopsi adalah Pailah (65) yang meninggal pukul 01.00, kemarin akibat penyakit misterius. Pelaksanaan autopsi dilakukan di RSU Tidar, mulai pukul 07.00 hingga pukul 11.00. Kapolda Jateng Irjen Drs H Dody Sumantyawan HS SH mengungkapkan, pada awalnya keluarga korban berkeberatan bila dilakukan autopsi. Namun setelah diadakan pendekatan dan penjelasan, akhirnya dapat menerima alasan yang dikemukakan penyidik dari kepolisian. Sebenarnya atas nama undang-undang dan demi kepentingan penyidikan, juga masyarakat sendiri, pihaknya dapat langsung melakukan autopsi. Apalagi kasus tersebut tergolong kejadian luar biasa (KLB) dan baru kali pertama terjadi di Jateng. ''Tapi kita kan punya etika. Ya harus permisi terlebih dahulu, biar sama-sama enak. Toh langkah yang diambil penyidik di kepolisian dan Dinkes, demi kepentingan masyarakat luas untuk mengungkap penyebab kematian warga,'' terang Kapolda. Hingga kini, kata Kapolda, belum ada hasil resmi soal autopsi tersebut. Kemungkinan pekan depan sudah bisa diketahui. Pihaknya menyadari untuk mengungkap penyebab kasus kematian secara berurutan itu, butuh cukup waktu. Di sisi lain, jika autopsi terhadap satu korban belum menemukan jawaban atau hasil yang diharapkan, sangat dimungkinkan akan dilakukan terhadap korban lainnya. ''Mudah-mudahan, satu saja sudah cukup menjawab atau mengungkap penyebab kasus kematian ini,'' tutur dia, didampingi Direskrim Kombes Masjhudi dan Kabid Humas Kombes Drs Syahroni. Hasil Negatif Sementara itu, hasil pemeriksaan sampel sisa makanan, muntahan, dan air yang digunakan warga Dusun Beran, Desa Kanigoro, di Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) Semarang, Senin (23/7) dan diumumkan Jumat (27/7) siang, ternyata negatif. Baik untuk pemeriksaan mikrobiologi (jamur dan bakteri) maupun toksikologi. Sebelumnya pemeriksaan serupa, juga telah dilakukan dan mendapatkan hasil negatif bahan kimia pada Rabu (25/7) lalu. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jateng Dr Hartanto MMed Sc mengungkapkan, meski belum membuahkan hasil, pihaknya belum menyerah dan terus berupaya mengungkap penyebab penyakit misterius yang statusnya merupakan Kejadian Luar Biasa (KLB) yang baru kali pertama di Jateng. ''Tim gabungan Dinkes Provinsi Jateng, RS Dr Kariadi yang terdiri atas dokter spesialis penyakit dalam, ahli forensik, dan ahli mikrobiologi, sudah diterjunkan. Mereka memeriksa sampel darah, tinja dan cairan lambung untuk diperiksa di laboratorium RSDK,'' terang Hartanto kepada wartawan. Hasil tersebut, lanjut dia, baru dapat diketahui tiga hingga lima hari mendatang. Di samping itu juga diterjunkan tim dari Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan (BBTKL) Yogyakarta untuk mengambil spesimen pemeriksaan air dari mata air dan udara. Dari sisi epidemiologi, analisis akan dilakukan tim Dinkes dan Field Epidemiology Training Program (FETP) dari UGM. Untuk mengetahui kemungkinan gejala subklinis (gejala yang tidak tampak), juga telah diambil 300-an sampel darah baik pada penduduk setempat maupun penderita yang dirawat di Puskesmas Grabag I oleh tim Dinkes dan BLK Semarang, Jumat 27/7). ''Kami akan mengirimnya ke Litbangkes Depkes RI dan Laboratorium Eykman di Jakarta besok (Sabtu 28/7-red) untuk mengidentifikasi kemungkinan penyebab sakit,'' ungkap dia. Guna menjaga kemungkinan penularan melalui air, juga telah melakukan kaporitisasi sumber air dan bak penampungan yang digunakan warga setempat. Pihaknya sudah mengimbau masyarakat luas agar tidak resah. Karena pemerintah telah mengupayakan penanganan KLB di wilayah tersebut. Warga juga diharapkan bisa lebih meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat, dan segera memeriksakan diri di posko kesehatan terdekat. Saat sekarang posko kesehatan 24 jam di Dusun Beran telah didirikan tim dari Puskesmas Ngablak yang terdiri atas dokter, perawat, bidan, dan petugas kesehatan lingkungan. Mereka melakukan pengobatan terhadap penduduk yang menderita sakit. Mengingat penyebab penyakit belum diketahui secara pasti, Dr Hartanto menyatakan pengobatan atau tindakan medis terhadap penderita diarahkan pada gejala-gejala yang mengarah pada gangguan fungsi hati. ''Hasil pemeriksaan laboratorium SGOT/ SGPT semua menunjukkan peningkatan yang sangat bermakna,'' papar dia. Hingga Jumat (27/7) pukul 12.00, jumlah kasus KLB ini sebanyak 31 orang. Sebanyak 10 di antaranya meninggal dunia. Dari jumlah tersebut, distribusi kasus terbanyak terjadi di Dusun Beran (Kecamatan Ngablak) 26 orang, Dusun Pete (Kecamatan Ngablak) 4 orang, dan Dusun Andong (Kecamatan Grabag) 1 orang. Dari distribusi kasus berdasarkan jenis kelamin, ternyata wanita mendapatkan porsi terbanyak. Tercatat korban menimpa 21 wanita dan 10 pria. Penderita meninggal dunia sebanyak 10 orang, terdiri atas sembilan wanita dan seorang pria. Dr Hartanto mengakui kondisi itu cukup menarik. Di sisi lain, pihaknya belum bisa meneliti keterkaitan jenis kelamin dengan KLB tersebut. ''Kita belum bisa memastikan, dan harus tetap sabar menunggu pemeriksaan laboratorium terbaru keluar,'' imbuh dia. (D12,H21,J14, H40-41) | ||||