logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 28 Juli 2007 MURIA
Line

Perlu Bahtsul Masail soal PLTN

JEPARA- Ketua PCNU Jepara, H Nuruddin Amin, membuka ruang halaqah bagi warga nahdliyyin yang khusus membahas rencana pembangunan PLTN Muria . Pembahasan itu tak harus diikuti hanya para kiai, tapi juga para ahli dan pengambil kebijakan. "Tidak menutup kemungkinan NU akan menggelar itu, entah dalam bentuk bahtsul masail atau lainnya. Ini memang perlu dukungan para kiai dan berbagai pihak," kata Nuruddin, kemarin.

PLTN dinilai sebagai salah satu persoalan umat yang perlu dirembuk, apakah megaproyek itu akan membawa mafsadat (kerusakan) atau manfaat bagi masyarakat. Dia mengisyaratkan, langkah itu kini tengah digagas, namun belum ada kepastain waktu. Dalam waktu dekat, pihaknya akan memfasilitasi pertemuan kalangan kiai dan perwakilan warga tapak dengan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Jateng di Jepara.

"Ini merupakan kelanjutan dari sikap DPD Jateng yang mendorong adanya pembentukan pansus PLTN," kata dia. Baru-baru ini, pihaknya berkonsultasi dengan KH MA Sahal Mahfudz, kiai kharismatik asal Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Pati.

Rais Syuriah PBNU itu dimintai nasihat terkait langkah untuk menjernihkan persoalan PLTN di Jepara. "Perlu juga para ulama, Batan, juga menteri terkait untuk duduk bersama warga tapak dalam membahas persoalan ini, " tambahnya.

Koordinator Masyarakat Reksa Bumi (Marem), Lilo Sunaryo PhD, kemarin, mengungkap beberapa data sebagai respons atas pernyataan Menristek Kusmayanto Kadiman dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (26/7) sore, yang menyatakan pembangunan PLTN Muria akan tuntas pada 2016 dan beroperasi 2017 sebagai aman, tertuang dalam Perpres No 5/2006.

Pernyataan disampaikan bersama Kepala Batan Hudi Hastowo selang sehari setelah teken kontrak Medco Energi Internasional dan Korea Hydro and Nuclear Power Co Ltd di Seoul, Korsel. Berdasarkan penelitian, menteri menunjuk semenanjung Muria (Desa Balong), sebagai calon lokasi yang dinilai aman dari gempa.

Lilo merespos pernyataan itu. Ia menilai Pemerintah mengesampingkan hasil penelitian yang dilakukan P Astjario dan D Kusnida dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Bandung April lalu, di kawasan Gunung Muria hingga ke pantai utara Jepara.

Tinjauan geologis dan geofisika, ditunjang citra satelit, menunjukkan semenanjung Muria mengalami minimal dua rezim tektonik peregangan pada zaman Paleogen, dan tektonik tekanan pada masa Neogen akhir.

Proses tektonik dua masa ini bisa mengakibatkan batuan dasar mengalami pemapatan dan memungkinkan keluarnya magma dari bidang sesar. "Dari hasil penelitian ini memungkinkan Gunung Muria berpotensi rawan bencana geologi. Dari sisi mana semanjung Muria dijamin aman?," ungkapnya. (H15-76)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA