| Sabtu, 28 Juli 2007 | MURIA |
Kisah Para Terhukum Korupsi di Rutan Kudus (1)Mubarok Tidur Tanpa KasurWAJAH mantan Ketua DPRD Kudus Heris Paryono masih terlihat cerah. Sesaat sebelum Suara Merdeka memintanya untuk diambil gambar di dalam kamar, dia mencoba merapikan pakaian yang dikenakannya. Dia juga tampak masih setia dengan rokok yang tak pernah lepas dari tangannya. Bahkan, kebiasaan Heris untuk melihat foto hasil jepretan para wartawan juga tetap dilakukannya. "Coba lihat hasilnya, Mas," pintanya kepada para wartawan usai mengabadikan momen itu. Ya, sekilas Heris tampak tidak berubah. Setelah beberapa bulan menghuni Rutan Kudus akibat kasus korupsi, tubuhnya masih tetap tegak dan ucapannya juga tetap tegas. Hanya sorot matanya saja yang tampak berubah. Sorotnya tak lagi setajam saat dia masih hidup bebas. Setidaknya itulah yang terlihat kala beberapa wartawan berkesempatan menemui Heris dan juga beberapa terhukum kasus korupsi yang lain, Jumat (27/7). Kesempatan itu tiba tatkala Kapolres Kudus AKP Iswandi Hari bertindak sebagai khatib dan imam pada shalat Jumat di Masjid Rutan. Heris siang itu menjadi orang pertama yang menyapa para wartawan. "Sini, duduk sebelah saya," tawarnya sebelum khotbah dimulai. Tidak seperti beberapa rekannya, Heris memilih duduk di barisan belakang. Sepanjang Kapolres memberi ceramah dia tampak diam mendengarkan. Usai shalat, bersama mantan anggota DPRD yang lain, Chusni Mubarok, mereka melayani pertanyaan para wartawan dengan ramah. Mubarok bahkan menunjukkan kamar-kamar yang dihuni para anggota Dewan periode 1999-2004 itu. "Yang paling ujung dihuni Pak Eddy, sebelahnya, Pak Zaini. Saya bersebelahan dengan Pak Heris di seberang kamar mereka berdua," jelasnya. Letak kamar mereka memang saling berhadapan, dipisahkan jalan menuju taman. Mubarok juga menjelaskan, saat ini kegiatannya diisi dengan bercocok tanam dan beternak. "Kami semua memilih kegiatan yang sama. Menanam tanaman di taman samping kamar dan beternak angsa di belakang," jelasnya. Selain itu, waktu mereka juga habis untuk menerima kunjungan dari rekan-rekan yang menjenguk. Saat menunjukkan isi kamarnya, Mubarok menjelaskan bahwa dia tidur tanpa kasur. "Saya tidak biasa tidur pakai kasur. Jadi, hanya beralaskan tikar serta kain saja," jelasnya. Dia juga mengaku setiap malam rajin membaca buku sebagai persiapan pengajuan banding nanti. Satu-satunya hal yang membuatnya sedikit bingung, yakni aturan tidak boleh membawa handphone. (Adhitia Armitrianto/bersambung-36) |