| Sabtu, 28 Juli 2007 | SEMARANG |
Honor Guru SLB Masih MemprihatinkanSALATIGA- Pemerintah diminta lebih memperhatikan para guru Sekolah Luar Biasa (SLB), karena honor yang mereka terima selama ini masih minim. Sebab, banyak guru SLB yang kini masih berstatus guru bantu dan wiyata bakti, hanya mendapat honor antara Rp100.000/bulan hingga Rp 200.000/bulan. Anggota DPRD Kota Salatiga Ning Indrati mencontohkan honor yang diterima guru bantu dan wiyata bakti di SLB Wantu Wirawan Kecamatan Argomulyo Salatiga. Dari 33 guru di SLB Siwi Peni Kecamatan Argomulyo Salatiga itu, 16 guru yang telah berstatus PNS. ''Honor guru bantu dan wiyata bakti masih jauh dari upah minimum kota (UMK), dan ada yang hanya menerima Rp 100.000 hingga Rp 200.000 tiap bulan,'' kata Ning Indrati, Kamis (26/7). Dia mengungkapkan hal itu, setelah mendampingi ibu-ibu Persatuan Istri Wakil Rakyat (Periswara) DPRD Salatiga, memberikan bantuan di SLB Wantu Wirawan. Bantuan berupa uang dan alat tulis itu, diserahkan Ny Sutrisno Supriyantoro dalam rangka Hari Jadi Ke-1257 Kota Salatiga. Lebih lanjut dia mengungkapkan, status SLB Wantu Wirawan berada di bawah pengelolaan Yayasan Siwi Peni Salatiga. Namun, pengelolaan pendidikan tersebut perlu mendapat dukungan maksimal dari pemerintah dalam peningkatan mutu pendidikan. Tambahan Insentif Salah satunya adalah memberikan tambahan insentif kepada guru SLB. ''Hingga saat ini SLB yang menampung puluhan siswa tuna netra, tuna rungu, tuna wicara, dan kekurangan fisik itu, masih mengalami kekurangan dana operasional,'' terang Ning. Pihak sekolah hanya mampu mengandalkan pemasukan dana dari sumbangan serta iuran wajib siswa yang sebagian besar berasal dari keluarga siswa SLB itu. Dengan adanya bantuan dari pemerintah diharapkan akan semakin meningkatkan mutu pendidikan serta kesejahteraan para guru. (H2-16) |