| Sabtu, 28 Juli 2007 | SEMARANG |
Debit Air Berkurang, Empat Kecamatan Giliran AirTENGARAN- Menjelang musim kemarau, debit air dari sumber air Senjoyo, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang mengalami penurunan 30 persen dari kondisi normal. Hal ini menyebabkan beberapa area sawah di empat kecamatan terancam kekeringan, karena sumber air yang tersedia tidak seimbang dengan kebutuhan. Area sawah yang terancam kekeringan meliputi Kecamatan Tingkir, Tengaran, Suruh, dan Kecamatan Susukan. Menurut keterangan Kepala Ranting Pengairan Tengaran, Dalwandi, debit air mulai berkurang sejak bulan April dan berlangsung hingga bulan September 2007 di musim kemarau. ''Debit air normal untuk pengairan sawah rata-rata 1,25 liter per detik per ha. Sedangkan debit air yang ada di Senjoyo sekarang 0,398 liter per detik diperuntukkan untuk mengairi 2.098 ha areal sawah yang tersebar di empat kecamatan. Untuk Watu Kodok, debit airnya 0,016 liter per detik guna mengairi 32 ha sawah dan debit air di Isep-isep 0,471 liter per detik untuk 23 ha sawah. Oleh sebab itu, kami sudah berkoordinasi dengan beberapa kepala desa dan dinas di empat kecamatan untuk bergiliran jaga air,'' jelas Dalwandi. Air Bersih Lebih lanjut dikatakan, selain pengairan, debit mata air di Senjoyo dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih PDAM Salatiga sebesar 278,54 liter per detik, PDAM Kabupaten Semarang 11,80 liter per detik, PT Damatex dan Timatex 53 liter per detik, IDT (Desa Karang Gondang) 2,94 liter per detik, dan Yonif 411 Salatiga sebesar 11,80 liter per detik. Dijelaskannya, selain kemarau, penurunan debit air ini juga dipengaruhi oleh banyaknya sumur-sumur penduduk yang tersebar di beberapa wilayah, karena dengan adanya sumur tersebut, mata air dari gunung Merbabu tidak langsung ke Senjoyo tetapi tertampung di beberapa sumur warga. Dalwandi berharap, pemerintah terutama dinas terkait supaya membatasi izin pembuatan sumur artesis untuk mencegah terjadinya kekurangan air bersih. (J12-16) |