| Sabtu, 28 Juli 2007 | SEMARANG |
Hari Jadi Ke-402 Kabupaten KendalWilayah yang Bersih dan Asri Masih Sebatas ObsesiMEMUJUDKAN kebersihan dan keindahan di Kendal, khususnya wilayah pantura hingga saat ini tampaknya masih sebatas obsesi. Dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, ''di atas kertas'' Kendal kota hanya menempati peringkat ke-32 sebagai peraih Adipura (lambang kebersihan). Upaya-upaya apa yang akan ditempuh pemkab untuk mewujudkan obsesi tersebut, berikut catatannya : KABUPATEN KENDAL, hari ini (Sabtu, 28/7) memperingati hari jadi ke 402. Di usianya yang yang tidak lagi muda, sudah semestinya daerah yang berbatasan langsung dengan Kota Semarang Barat tersebut bisa ''bersolek'', terlebih hanya sekedar untuk menjaga kebersihan. Namun, kenyataan di lapangan belum seperti itu adanya. Daerah Kendal, diakui memang sudah mampu bersolek. Ibu kota kecamatan, atau kota-kota di 20 kecamatan telah dirias dengan lampu hias listrik ukuran besar. Pada malam hari, lampu hias itu mempesona dengan memancarkan cahaya aneka warna. Taman-taman permanen, dengan ditumbuhi beragam tanaman hias sejak beberapa tahun terakhir juga getol dibangun. Di sisi lain, kesadaran untuk menjaga kebersihan tampaknya terlalaikan. Lihat saja, di beberapa sudut kota Kendal, atau wilayah-wilayah kecamatan lain, terutama di sepanjang jalur pantura Kendal. Ilalang dan rumput liar, begitu tumbuh subur di tepi sebagian jalan perkampungan. Daerah Kendal yang memiliki keragaman pesona - salah-satunya tingkat kesuburan tanah yang bagus dan keelokan panorama, cukup disayangkan jika harus terganggu dengan ilalang di tepian jalan. ''Kami mengakui tingkat kebersihan lingkungan, khususnya di wilayah kecamatan pantura Kendal belum terjaga dengan baik. Dalam penilaian kebersihan Adipura, Kota Kendal menduduki peringkat ke 32 dari 35 kabupaten/kota di Jateng,'' kata Wabup Dra Siti Nurmarkesi saat ditemui seusai paripurna hari jadi Kabupaten Kendal ke-402 di DPRD, kemarin. Kendati demikian, pihaknya tak akan terpaku terhadap obsesi lingkungan pantura itu identik dengan kumuh. ''Jika kita terpaku pada obsesi itu, kita tidak akan mempunyai semangat untuk membangun, untuk menciptakan kebersihan.'' Lantas, upaya apa yang akan dilaksanakan guna mewujudkan daerahnya benar-benar bersih sesuai kenyataan. Sebagai orang yang kini memimpin pemerintahan Kendal, langkah pertama yang akan ditempuh adalah melaksanakan gerakan Jumat bersih, dengan memanfaatkan even hari jadi dan acara 17 Agustusan. Melibatkan SKPD ''Kita akan menggerakkan masyarakat bersama satuan kerja perangkat daerah atau SKPD untuk menciptakan kebersihan lingkungan, bersamaan acara menyambut hari jadi dan 17 Agustus,'' papar Nurmarkesi. Upaya tersebut, juga akan melibatkan instansi vertikal yang ada. ''Kita jatah setiap SKPD untuk memperbaiki taman dan memelihara lingkungannya. Jadi, mulai Jumat mendatang, satu kali sepekan kita akan kerja bakti rutin.'' Guna mendukung langkah tersebut, pihaknya akan menganggarkan penambahan armada pengangkut sampah. ''Kemudian, terintegrasinya beberapa SKPD yang menyangkut tugas untuk menjaga kebersihan itu sendiri. Artinya, kebersihan tidak hanya menjadi tanggung-jawab instansi terkait, yakni Kantor Tata Kota dan Pertamanan (KTKP).'' SKPD yang lain juga harus mempunyai tanggung jawab untuk itu. Misalnya, Dinas Pengairan bersama masyarakat harus menjaga kebersihan di sepanjang bantaran sungai atau irigasi. Selama ini KTKP bekerja sendiri, tanpa berintregrasi dengan dinas lain. Akhirnya kan tidak sinkron, semisal, DPU, Telkom, PLN, serta PDAM kalau sedang memasang pipa, tanah hasil galian harus bersih.'' Dia menjelaskan, dengan membuat edaran berisi gerakan Jumat bersih, disertai kontrol ke setiap wilayah kecamatan-kecamatan, tujuan akan tercapai. ''Memang, kita mengakui, sebagian masyarakat Kendal belum memiliki gairah untuk menjaga kebersihan lingkungannya.'' Sehingga melalui hari jadi kendal ini, imbuh dia, pihaknya mengharapkan kepada seluruh masyarakat mengubah semangat membangun masyarakat menjadi semangat masyarakat membangun. Artinya, masyarakat membangun itu ada greget dari masyarakat sendiri. ''Jadi masyarakat itu mau menerima program dari pemerintah, sehingga ada pemberdayaan dari masyarakat. ''Tantangan saya adalah bagaimana menggerakkan, mengajak masyarakat yang saat ini terkesan apatis untuk bersama-sama menciptakan keindahan serta kebersihan. Langkah yang dilakukan antara lain, persuasif dulu dengan memberikan pemahaman -pemahaman, dan sosialisasi.'' Gerakan tersebut berkesinambungan. ''Mulai aparat pemerintah memberikan contoh dan sosialisasi jemput bola kepada masyarakat dan saya berharap tanggapan dari masyarakat positif.'' (Setyo Sri Mardiko-16) |