logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 28 Juli 2007 SEMARANG
Line

Budi Daya Ikan di Kabupaten Semarang Masih Lemah

  • Desa Ngrapah Ditetapkan sebagai Kawasan UPR

BANYUBIRU - Plt Bupati Semarang Hj Siti Ambar Fathonah beserta rombongan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Semarang, mengunjungi Desa Ngrapah, Kecamatan Banyubiru, yang ditetapkan sebagai kawasan Unit Pembenihan Ikan Rakyat (UPR), Jumat (27/ 7). Dalam kesempatan itu Ambar menyatakan, usaha seperti ini sangat perlu dikembangkan untuk menambah pendapatan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Di desa tersebut sejak sekitar satu tahun lalu hingga kini muncul lebih dari 1.000 kolam ikan yang dikelola 85 orang. Mereka tergabung dalam Kelompok Pembudidaya Ikan Mina Rahayu Makmur (Mirama) Desa Ngrapah.

''Pak Menteri (Pertanian) harus tahu di desa ini ada usaha yang sangat bagus untuk menopang ekonomi warga. Menteri pasti senang ada masyarakat yang mandiri dan menciptakan peluang usaha sendiri,'' kata Ambar Fathonah saat mengunjungi kolam ikan lele di Dusun Gemenggeng, Desa Ngrapah, kemarin. Dalam kesempatan itu Ambar juga menyuntikkan zat cair ke induk lele untuk mempercepat proses pembenihan (penetasan).

Kelompok Mirama ini juga mendapat bantuan sebesar Rp 25 juta untuk pengembangan usaha. Ambar juga memberikan bantuan sebesar Rp 567, 5 juta untuk seluruh kelompok tani ikan yang hadir di Desa Ngrapah.

Kepala Disnakan Ir Soehardjo DS MM mengatakan, pembudidaya ikan di Kabupaten Semarang masih lemah dan kecil sehingga perlu dorongan, bantuan, dan fasilitasi Pemkab, Pemprov, dan pusat. ''Kami salut di sini ada 1.000 lebih petak kolam terpal yang dikelola 85 orang. Usaha perikanan ini merupakan solusi peningkatan pendapatan keluarga,'' tuturnya.

Pemakaian Terpal

Menyitir pernyataan Presiden SBY, Soehardjo setuju bahwa perikanan memberi dampak nyata pro-growth (peningkatan pertumbuhan ekonomi), pro-job (penciptaan lapangan kerja), dan pro-poor (peningkatan pendapatan dan kesejahteraan).

''Para peternak ikan Mirama di sini saya harap ulet menggeluti usaha ini,'' ingat Soehardjo didampingi Kabid Produksi Perikanan Disnakan Ir Nurhadi Subroto.

Kelompok Mirama awalnya di Dusun Gemenggeng mencoba usaha pembenihan lele dengan cara pemakaian terpal sebagai kolamnya. ''Awalnya dilakukan secara individu. Tapi setelah dirasa menghasilkan, di hampir semua dusun di Desa Ngrapah muncul usaha pembudidayaan ikan lele ini,'' kata Ketua Mirama Nurul Huda, kemarin.

Budidaya ikan lele jenis sangkuriang dan pyton (kemudian dikembangkan karper dan patin) sangat cocok di Desa Ngrapah. Potensi yang ada, yaitu lahan sawah seluas 50 hektare dapat diairi sepanjang tahun. ''Soal air di sini mudah, tinggal ngebor sekitar 30 meter sudah keluar air untuk mencukupi kebutuhan air kolam,'' imbuhnya.

Disamping itu menurutnya kemampuan anggota dalam upaya pembenihan ikan lebih dari cukup. Untuk modal kelompok diperoleh dari iuran wajib setiap bulan Rp 1.000. Simpanan anggota Rp 20.000 dan bantuan dari Pemkab Semarang melalui Disnakan. ''Untuk pemasaran kami menjalin kemitraan dengan berbagai daerah di Jateng,'' ungkap Nurul. (H14-16)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA