| Sabtu, 28 Juli 2007 | SEMARANG |
Pupuk Tinja Made in Tambakrejo
BAGI kebanyakan orang, tinja tentu barang menjijikkan. Tersentuh di kaki sedikit saja akan buru-buru dibersihkan. Tak cukup dengan air, perlu bilasan sabun untuk menghilangkan bau agar membuat kaki menjadi nyaman. Tapi buat Sunarno (45), kotoran manusia itu merupakan sumber penghidupan. Sebagai pegawai Dinas Kebersihan Kota, dia ditugaskan di Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) di Tambakrejo, Kelurahan Terboyo Kulon, Kecamatan Genuk, Semarang. Tiap hari lelaki berkulit legam itu bersikutat dengan tinja. Tak hanya satu atau dua, tapi sampai ratusan meter kubik. Maklum, IPLT Tambakrejo adalah pusat pembuangan tinja warga Kota Semarang. ''Mau bagaimana lagi, memang pekerjaannya begini. Menghadapi tinja satu kolam besar yang baunya seperti ini, sekarang sudah biasa,'' kata Sunarno. Bertugas mengelola tinja sudah dilakoni suami Ambar Tri Astuti (43) itu sejak IPLT Tambakrejo berdiri pada 1996. Selain mengontrol pengolahan lumpur tinja, dia juga menarik retribusi kepada awak truk tangki yang membuang tinja di tempat itu. Lantaran sudah terbiasa, Sunarno enak saja makan, minum, atau tidur di dekat kolam penampungan. Dalam beraktivitas, dia pun tak mengenakan peranti pelindung, seperti masker atau kaos tangan. Ya, tinja memang sebagai sumber penghidupannya. Selain tugasnya dan dari situ dia mendapat gaji, lumpur tinja juga memberinya penghasilan tambahan. Dengan pengolahan sederhana, lumpur yang telah kering dia jual sebagai pupuk penyubur tanaman. ''Pembuatannya sederhana, lumpur tinja yang kering diayak, lalu dikemas di dalam karung. Pekerjaan sampingan ini saya lakukan bersama rekan saya, Sutakat,'' ujar dia. Dipasarkan Pupuk tinja itu selanjutnya dipasarkan kepada pedagang tanaman hias di Pasar Kembang, Jalan Dr Soetomo. Satu karung pupuk dihargai Rp 2.000. Permintaan pupuk tinja lumayan besar, terbukti dalam sebulan Sunarno dan Sutakat mampu menjual rata-rata 80 karung. Setelah dikurangi ongkos produksi, seperti solar untuk angkutan, dan membeli karung, hasilnya dibagi dua. Jika dihitung, penghasilan tambahan dari pembuatan pupuk tinja yang diterima kurang lebih Rp 300.000. ''Lumayan, bisa buat tambah-tambah mencukupi kebutuhan. Maklum anak saya empat orang. Tiga di antaranya masih sekolah,'' ujar lelaki yang tinggal di Perum Bukit Manyaran Permai itu. Pekerjaan sampingan itu dilakukan atas sepengetahuan atasan. Mereka tak melarang, sejauh aktivitas IPLT Tambakrejo tetap berjalan. Terlebih pengolahan lumpur tinja menjadi pupuk merupakan solusi atas kerusakan mesin pengolah yang terjadi sejak tahun 2000. Akibat mesin rusak, pengolahan tidak berjalan optimal. Kolam besar berukuran 1.000 m2 yang semestinya untuk menampung sisa cairan, justru penuh lumpur. Nah, oleh Sunarno dan Sutakat, endapan lumpur itu dikeruk untuk dimanfaatkan sebagai pupuk. Oleh pedagang di Pasar Kembang, pupuk tinja made in Tambakrejo itu dikemas ulang dalam wadah plastik ukuran kiloan. Namun sebelumnya dicampur dengan bubuk jerami. Beberapa tahun lalu, Sunarno dan Sutakat pernah memasarkan pupuk tinjanya sampai ke Bandungan dan Wonosobo. Tapi karena persoalan teknis, ''ekspansi'' pemasaran itu dihentikan. Menurut Sunarno, dibanding kotoran binatang, pupuk tinja relatif diminati. Pasalnya, pupuk berbahan dasar kotoran manusia itu tidak menimbulkan hawa panas terhadap tanaman. ''Hasil pengamatan saya, pupuk hewan bisa menimbulkan layu tanaman. Tapi pupuk tinja tidak, karena lebih adhem.''(18) |