| Sabtu, 28 Juli 2007 | INTERNASIONAL |
Masjid Merah Diduduki
ISLAMABAD - Ratusan santri radikal Pakistan Jumat kemarin menduduki Masjid Merah di Islamabad. Mereka menuntut pembebasan seorang ulama pro-Talib yang ditahan setelah penyerbuan oleh militer dua pekan lalu. Pada saat bersamaan, terjadi ledakan bom bunuh diri di sebuah restoran di dekat kompleks masjid. Serangan bom itu menewaskan sedikitnya 11 orang dan melukai 43 orang. Di antara korban tewas, terdapat polisi. Aparat kepolisian sedang mengusut serangan bom itu. Aksi mereka diadang pasukan keamanan dan terjadi bentrok. Ratusan demonstran melemparkan batu-batu ke arah kendaraan lapis baja dan puluhan polisi antihuru-hara di jalan seberang masjid. Karena demonstran tidak menghiraukan seruan polisi untuk membubarkan diri, polisi kemudian menembakkan gas pemedih mata. Para pengunjuk rasa berlarian bubar ke jalan menghindari tembakan. Sebelumnya, pasukan keamanan hanya berjaga-jaga ketika demonstran naik ke atap masjid dan menorehkan cat merah di tembok. Pengunjuk rasa juga memaksa pergi seorang ulama yang ditunjuk pemerintah untuk mengimami shalat Jumat. Para santri menuntut pembebasan mantan ketua takmir Masjid Merah Abdul Aziz dari tahanan. Mereka meneriakkan slogan-slogan anti-Presiden Jenderal Musharraf. Akhirnya, shalat jumat di masjid itu diimami seorang ulama dari madrasah. "Musharraf harus mundur," teriak para santri. Beberapa demonstran menuju reruntukan madrasah Jamiah Hafsa yang dirobohkan pemerintah awal pekan ini. Gedung madrasah itu menjadi tempat bertahan para militan saat serbuan militer. Militan berlindung di kompleks masjid itu selama sepekan sebelum akhirnya pasukan pemerintah menggelar operasi serbuan pada 10 Juli. Tembok-tembok kompleks masjid berlubang-lubang akibat tembakan peluru dan sebagian hancur karena ledakan mortir. Sedikitnya 102 orang tewas dalam serbuan itu. Bakal Mereda Sebagai wujud protes atas tindakan pemerintah mengecat masjid itu dengan warna kuning pucat, para demonstran menuliskan kata-kata "Masjid Lal" dalam huruf-huruf besar bahasa Urdu di kubah masjid itu. Mereka juga mengibarkan bendera hitam bergambar dua pedang bersilang simbol jihad. Massa juga meneriakkan dukungan bagi mantan wakil ketua takmir masjid Abdul Rashid Ghazi, yang tewas tertembak dalam penyerbuan itu. Ghazi menjadi ikon kelompok militan dalam perjuangan menentang pemerintah. "Darahmu Ghazi akan menjadi revolusi," teriak para demonstran. Polisi bersenjata berdiri siaga di jalan, tetapi tidak masuk ke halaman masjid tempat demonstrasi berlangsung. Komisaris Polisi Islamabad Khalid Pervez mengatakan, polisi tidak ingin masuk ke dalam kompleks masjid untuk menghindari bentrokan dengan demonstran. Namun, aparat keamanan tetap menjaga situasi terkendali. Dia mengatakan, reaksi para pendukung Aziz bisa dipahami namun situasi itu diyakini bakal mereda. Melalui pengeras suara masjid, para demonstran bertekad membalas dendam atas tewasnya para militan. Dalam orasinya di jalan masuk masjid itu, Liaqat Baloch, wakil ketua koalisi partai garis keras Mutahida Majlis-e-Amal, mengutuk Musharraf sebagai pembunuh. Dia menyatakan, akan terjadi revolusi Islam di Pakistan. "Maulana Abdul Aziz masih menjadi imam masjid ini. Perjuangan para syuhada akan mencapai tujuan revolusi Islam. Musharraf adalah pembunuh konstitusi. Dia adalah pembunuh para santri pria dan wanita," kata Baloch.(rtr-gn-25) |